Reporter: Astri Kharina Bangun |
JAKARTA. Gubernur Bank Indonesia menilai pembangunan bank infrastruktur belum bisa dilakukan sekarang karena butuh proses dan persiapan yang panjang.
"Yang bisa dilakukan sekarang adalah transisi dalam bentuk lebih menggiatkan bank-bank besar yang ada. Kalau mau mengubah bank kecil jadi bank infrastruktur juga tidak bisa seketika. Infrastruktur itu kan butuh dana yang besar," ujar Gubernur BI Darmin Nasution, Jumat (27/1).
Secara terpisah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mengaku siap berpartisipasi jika pemerintah jadi membentuk bank infrastruktur. Toh, selama ini BNI juga sudah punya pengalaman menyalurkan kredit terkait infrastruktur.
"Manfaatkan BUMN yang sudah biasa saja. Kami kan juga salurkan ke listrik, transportasi, ataupun konstruksi jalan tol. Jadi saya kira BNI arahnya sudah ke pembangunan infrastruktur," ungkap Managing Director BNI Darmadi Sutanto.
Sebelumnya, Ekonom INDEF Ahmad Erani menuturkan paling tidak dalam tiga tahun ke depan pemerintah lebih baik mengoptimalkan penyaluran dana ke sektor infrastruktur dari bank-bank BUMN daripada membentuk bank infrastruktur baru.
"Membuat bank baru itu butuh anggaran lebih besar dan waktu yang lebih lama dibandingkan mengoptimalkan yang sudah ada," ujar Erani ketika dihubungi KONTAN, Rabu (25/1).
Menurutnya keempat bank BUMN yang ada bisa diberikan target jumlah penyaluran pembiayaan ke sektor infrastruktur.
Namun, menurut Darmadi pembiayaan infrastruktur tak bisa hanya mengandalkan bank-bank BUMN semata.
"Yang jelas BNI akan jadi salah satu motor untuk pembiayaan infrastruktur. Namun, tidak bisa ditanggung bank BUMN saja," tukas Darmadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













