: WIB    —   
indikator  I  

Ini deretan Unitlink Saham dengan return terbesar

Ini deretan Unitlink Saham dengan return terbesar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat terkoreksi bulan lalu ikut merembet ke rata-rata kinerja unitlink saham. Tapi rupanya sejumlah produk unitlink jenis ini masih bisa memberi imbal yang terbilang besar.

Dari data Infovesta Utama, sejumlah produk unitlink saham memberi imbal dua digit sejak awal tahun sampai bulan lalu.

Produk racikan PT Prudential Life Assurance menjadi jawaranya lewat PRUlink Syariah Rupiah Asia Pasific Equity Fund yang memberi return 26,75% per bulan November. Tak hanya itu, sejumlah produk dari perusahaan asuransi jiwa joint venture ini juga masuk jajaran sepuluh besar.

Antara lain PRUlink Rupiah Indonesia Greater China Equity Fund yang memberi imbal sebesar 18,26%. Ditambah lagi, dua produk lain, PRUlink US Dollar Indonesia Greater China Equity Fund dan PRUlink Rupiah Value Discovery Equity Fund memberi imbal masing-masing sebesar 17,54% dan 14,10%.

Sementara PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia diwakili oleh dua produk untuk bertengger di posisi sepuluh besar. Yakni Manulife Dana Ekuitas Asia Pasific - IDR yang memberi imbal 22,48% dan Manulife Dana Ekuitas Asia Pasific - USD yang imbalnya mencapai 22,10%.

Pemain joint venture lain, PT Asuransi Allianz Life Indonesia menempatkan tiga produknya di jajaran ini. Pertama adalah Smartwealth Equity Infrastructure Fund yang memberi imbal 21,20%. Berikutnya SmartWealth Equity IndoAsia Fund memberi imbal sebesar 14,01% dan Smartwealth Equity Indoasia Fund (USD) sebanyak 13,86%.

Posisi sepuluh besar dilengkapi oleh PT AIA Financial lewat IDR China India Indonesia Equity Fund dengan imbal 16,64%.

Sampai akhir tahun ini, Senior Research Analyst Infovesta Praska Putrantyo menilai kinerja rata-rata unitlink saham masih punya peluang untuk menguat namun terbatas. Salah satunya karena posisi IHSG yang dinilainya minim sentimen positif dari dalam negeri.

Di sisi lain, justru ada tantangan lain isu reformasi pajak di Amerika Serikat dan keputusan The Fed terhadap suku bunga acuan di bulan ini yang diyakini akan naik. "Hal ini dikhawatirkan berpeluang menjadi sentimen penghambat kelanjutan tren bullish di pasar saham," ujar Praska baru-baru ini.


Reporter Tendi Mahadi
Editor Sanny Cicilia

UNITLINK

Feedback   ↑ x