kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.803.000   30.000   1,08%
  • USD/IDR 17.757   18,00   0,10%
  • IDX 6.206   44,30   0,72%
  • KOMPAS100 820   7,74   0,95%
  • LQ45 631   10,77   1,74%
  • ISSI 218   -0,22   -0,10%
  • IDX30 360   5,73   1,62%
  • IDXHIDIV20 447   9,71   2,22%
  • IDX80 95   0,97   1,04%
  • IDXV30 123   1,72   1,42%
  • IDXQ30 117   2,17   1,90%

AAUI Sebut Kenaikan BI Rate Dapat Berdampak terhadap Lini Asuransi Kredit


Senin, 25 Mei 2026 / 19:18 WIB
AAUI Sebut Kenaikan BI Rate Dapat Berdampak terhadap Lini Asuransi Kredit
ILUSTRASI. Kenaikan BI Rate 50 basis poin berpotensi menahan permintaan kredit baru. Produksi premi asuransi kredit bisa melambat (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate meningkat sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Mengenai hal itu, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memandang kenaikan BI Rate dapat berdampak terhadap pertumbuhan premi asuransi kredit.

Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengatakan ada potensi dampak jika suku bunga yang lebih tinggi menahan permintaan kredit baru. Tentu, produksi premi dari bisnis asuransi kredit juga dapat ikut melambat. Selain itu, dia bilang kenaikan BI Rate juga bisa memengaruhi kemampuan bayar debitur.

"Di sisi lain, beban bunga yang lebih tinggi juga dapat memengaruhi kemampuan bayar debitur tertentu, terutama pada segmen yang sensitif terhadap kenaikan cicilan. Dengan demikian, risiko klaim tetap perlu diwaspadai," ungkapnya kepada Kontan, Senin (25/5/2026).

Oleh karena itu, Budi menyampaikan industri perlu menyikapi kondisi tersebut secara prudent. Dia bilang perusahaan asuransi perlu memperkuat seleksi risiko, meninjau kembali kecukupan tarif premi, memperhatikan kualitas portofolio kredit yang dijamin, serta meningkatkan monitoring terhadap sektor-sektor yang memiliki potensi kenaikan kredit bermasalah.

Baca Juga: Perluas Pangsa Pasar Asuransi, Askrindo Bidik Generasi Muda

Budi mengatakan kolaborasi dengan bank dan lembaga pembiayaan juga menjadi sangat penting, terutama dalam hal pertukaran data, early warning indicator, mitigasi kredit bermasalah, dan pengelolaan klaim secara lebih disiplin.

Dengan kondisi ekonomi yang masih dinamis, Budi menerangkan fokus industri bukan hanya mengejar pertumbuhan premi, melainkan memastikan bahwa pertumbuhan tersebut berkualitas dan sejalan dengan kapasitas risiko.

"Premi perlu tumbuh secara sehat, sedangkan klaim harus dikendalikan melalui underwriting yang disiplin, pricing yang memadai, tata kelola reasuransi yang baik, dan pemantauan portofolio secara berkelanjutan," ucap Budi.

Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio klaim lini asuransi kredit di industri asuransi umum dan reasuransi gabungan sebesar 97% per Maret 2026, atau membaik dari posisi per Februari 2026 yang mencapai 108,40%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×