Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski dibayangi pelemahan nilai tukar dan era suku bunga tinggi, Bank of America (BofA) melihat Indonesia masih menjadi destinasi investasi yang menarik di mata investor.
BofA memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga menyentuh level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir 2026. Proyeksi ini sejalan dengan ekspektasi penguatan dolar AS dalam beberapa bulan ke depan, di tengah potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan tingginya harga minyak dunia.
ASEAN and India Chief Economist BofA Securities, Rahul Bajoria bilang dalam jangka pendek dolar AS masih berpeluang menguat. Pihaknya memperkirakan penguatan tersebut ditopang oleh ekspektasi kenaikan suku bunga AS dan harga energi yang masih tinggi.
“Dalam beberapa bulan ke depan, dolar AS lebih berpeluang menguat daripada melemah,” ujar Rahul, dikutip Minggu (11/10/2026).
BofA memperkirakan rupiah bakal ditutup di kisaran Rp 18.000 per dolar AS pada akhir tahun ini. Dalam kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih akan hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Baca Juga: Optimalkan Simpanan SGD, Bank DBS & Mandiri Investasi Rilis Layanan Referral PDNI
Lebih lanjut Rahul bilang dalam jangka waktu yang lebih panjang, ruang penguatan dolar AS berpotensi menyempit seiring dengan kenaikan suku bunga oleh sejumlah bank sentral utama dunia, termasuk Bank of Japan dan European Central Bank.
Kondisi tersebut dapat memperkecil selisih suku bunga antara AS dan negara lain, sehingga membuka peluang dolar AS bergerak stabil atau melemah secara terbatas.
Tekanan terhadap rupiah juga tak lepas dari kondisi pasar keuangan global. Rahul menjelaskan, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dalam beberapa bulan terakhir turut memengaruhi pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia.
Di sisi lain, konflik di kawasan Timur Tengah turut memicu ketidakpastian harga energi. BofA memperkirakan harga minyak mentah dunia rata-rata mencapai US$ 91 per barel sepanjang 2026. Untuk sisa tahun ini, harga minyak diperkirakan berada di kisaran US$ 100-US$ 105 per barel.
Adapun pada paruh kedua 2027, harga minyak diproyeksikan turun ke kisaran US$ 70-US$ 75 per barel, dengan asumsi terjadi deeskalasi konflik di Timur Tengah.
Dalam kondisi ini, Chief Executive Indonesia Bank of America Mira Arifin bilang gejolak pasar global dan perubahan kebijakan di dalam negeri turut memengaruhi arus investasi ke Indonesia.
“Terjadi outflow yang besar di awal tahun. Pasar saham juga mengalami tekanan dari MSCI. Harapannya ini menjadi kesempatan baik untuk bereformasi,” sebut Mira.
Toh, memasuki paruh kedua 2026, BofA mulai melihat tanda-tanda pemulihan minat pasar. Ia menyoroti investor yang mulai kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia, meski pemulihan di pasar saham belum terlihat sekuat pasar surat utang.
Baca Juga: Perluasan Investasi Dapen ke Luar Negeri Bisa Jadi Peluang Diversifikasi Portofolio
Menurut Mira, Indonesia tetap menarik bagi investor global karena menawarkan diversifikasi investasi. Namun, Indonesia juga harus bersaing dengan pasar lain, terutama AS, yang menawarkan tingkat imbal hasil menarik.
Hedging
Karena itu, Mira menyarankan korporasi maupun pemerintah mempertimbangkan strategi lindung nilai atau hedging serta memanfaatkan akses pendanaan di pasar keuangan saat ini. Pasalnya, biaya pendanaan berpotensi meningkat apabila proyeksi kenaikan suku bunga The Fed terealisasi.
BofA memperkirakan The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga dua kali lagi pada Oktober dan Desember 2026, setelah satu kenaikan pada September. Proyeksi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati pelaku pasar dalam menentukan strategi pendanaan dan pengelolaan risiko nilai tukar.
Meski demikian, Rahul menilai prospek makroekonomi Indonesia relatif lebih stabil dibandingkan tekanan yang tercermin di pasar keuangan. BofA memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berpeluang meningkat secara bertahap, ditopang oleh perbaikan konsumsi dan investasi.
Rahul juga memperkirakan inflasi berpeluang melandai seiring meredanya tekanan harga energi dan dampak El Niño. Namun, kenaikan suku bunga global masih berpotensi menambah tekanan terhadap biaya pembiayaan dan kebutuhan pembiayaan kembali atau refinancing di dalam negeri.
Baca Juga: Aturan Investasi di Luar Negeri Ada di Perubahan POJK 27/2023, Ini Kata Asosiasi DPLK
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














