kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.884   37,00   0,21%
  • IDX 6.195   68,05   1,11%
  • KOMPAS100 824   16,97   2,10%
  • LQ45 619   8,11   1,33%
  • ISSI 215   -1,05   -0,49%
  • IDX30 350   2,03   0,58%
  • IDXHIDIV20 428   1,77   0,41%
  • IDX80 94   1,01   1,10%
  • IDXV30 118   -0,67   -0,56%
  • IDXQ30 112   0,74   0,66%

BTN percepat penerbitan NCD senilai Rp 1,14 T


Kamis, 18 Agustus 2016 / 20:53 WIB


Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Rizki Caturini

JAKARTA. Rencana pemerintah memangkas anggaran belanja Kementerian dan Lembaga  dalam APBNP 2016 sebesar Rp 113 triliun dapat berpengaruh pada likuiditas bank.  Direktur Keuangan dan Treasury Bank Tabungan Negara (BTN), Iman Nugroho Soeko menilai, kalau anggaran dipangkas berarti ada beberapa segmen ekonomi yang permintaannya menyusut. Sehingga permintaan kredit di sektor tersebut juga menurun.

Meski begitu Iman belum dapat memastikan segmen mana yang akan terkena imbasnya. BTN telah mengambil ancang-ancang guna mengantisipasi hal tersebut salah satunya dengan menerbitkan instrumen keuangan wholesale lebih awal seperti penerbitan Negotiable Core Deposit (NCD) senilai Rp 1,14 triliun di awal Agustus, obligasi sebesar Rp 3 triliun dan EBA-SP Rp 1 triliun pada awal September 2016 mendatang. “Selain itu, nanti kita akan prediksi apakah perlu menerbitkan NCD atau pinjaman bilateral di bulan-bulan berikutnya,” katanya.

Sekadar informasi, hingga semester I kredit yang telah disalurkan BTN sebesar Rp 42,06 triliun dengan pencapaian program sejuta rumah telah mencapai 400.982 unit dengan rincian KPR sebanyak 100.175 unit dan dukungan konstruksi sebanyak 300.807 unit. Sedangkan dari sisi kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) turun dari 4,70% tahun 2015 menjadi 3.41% pada tahun 2016 dengan rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 22,07%.

Direktur Keuangan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Haru Koesmahargyo justru mendukung inisiasi pemerintah itu guna menggenjot pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini yang berangsur membaik. “Kalau pengaruhnya ke pertumbuhan kredit saya belum bisa memperkirakan dan pemotongan tersebut tidak pada sektor yang produktif,” katanya kepada KONTAN (11/8).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×