Reporter: Fahriyadi | Editor: Fahriyadi .
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re kembali menyelenggarakan Indonesia Re Actuarial & Operational Seminar (IAS & IOS) 2026 di Belitung pada 23–25 September 2026 lalu. Memasuki tahun keempat penyelenggaraan Indonesia Re Actuarial Seminar (IAS) dan melanjutkan antusiasme tinggi terhadap Indonesia Re Operational Seminar (IOS) pada 2025, kegiatan tahun ini mempertemukan para profesional dari bidang aktuaria, underwriting dari perusahaan asuransi (ceding companies).
Mengusung tema “Sustaining Life & Health Insurance Through Deeper Insights and Catastrophe Resilience”, IAS & IOS 2026 dirancang sebagai forum strategis untuk berbagi wawasan, membahas perkembangan pasar, serta memperkuat kolaborasi antara Indonesia Re dan para mitra usaha.
Dinamika industri reasuransi saat ini dipengaruhi oleh perubahan profil risiko yang semakin kompleks, baik dari perkembangan bisnis asuransi, perubahan kondisi ekonomi, maupun meningkatnya eksposur terhadap risiko bencana dan perubahan lainnya.
Baca Juga: Premi Reasuransi Semester I-2026 Turun 16,1%, Ini Penyebabnya
Direktur Utama Indonesia Re Robbi Yanuar Walid menyebut, kondisi tersebut mendorong perusahaan asuransi dan reasuransi untuk tidak hanya mempertimbangkan kecukupan kapasitas, tetapi juga meningkatkan kemampuan dalam memahami, mengukur, dan mengelola risiko secara lebih akurat. Dalam konteks tersebut, pertukaran perspektif antara aktuaris, underwriter, dan pelaku industri menjadi penting untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih berbasis data serta menyesuaikan strategi risk management dengan perkembangan risiko yang dihadapi pasar.
Lebih lanjut Robbi menilai bahwa penguatan industri reasuransi perlu dimulai dari pemahaman yang lebih dekat terhadap kebutuhan dan tantangan pelaku industri asuransi.
“Yang perlu kita gali bersama adalah apa yang benar-benar dibutuhkan industri dan bagaimana Indonesia Re dapat memberikan dukungan yang tepat. Dengan memahami kebutuhan pasar secara langsung, kita dapat mengembangkan solusi yang lebih relevan sekaligus memperkuat kapasitas industri dalam menghadapi perubahan risiko ke depan,” ujar Robbi dalam sambutannya seperti dikutip Senin (5/10/2026).
Kepala Departemen Aktuaria Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Asep Suwondo, yang hadir secara daring, menekankan pentingnya penguatan kesiapan industri asuransi dalam menghadapi perubahan risiko yang semakin cepat dan kompleks. Menurutnya, perubahan iklim, perkembangan teknologi dan digitalisasi, perubahan demografi, dinamika biaya layanan kesehatan, serta kondisi ekonomi dan geopolitik menuntut perusahaan asuransi untuk memiliki kemampuan yang lebih baik dalam memprediksi dan mengukur dampak risiko, didukung oleh kualitas data, kompetensi sumber daya manusia, tata kelola, serta permodalan yang memadai.
“Pertanyaannya bukan hanya seberapa besar modal yang kita miliki hari ini, tetapi apakah modal tersebut cukup ketika risiko yang kita hadapi berubah secara signifikan. Karena itu, penguatan data, analisis aktuaria, tata kelola, dan permodalan menjadi fondasi penting untuk menjaga ketahanan industri,” ujar Asep Suwondo.
Pada periode tahun 2022 - 2024, bisnis Health yang terdiri dari Group Health dan Individual Health menyumbang lebih dari separuh total portofolio Reasuransi Jiwa, dengan kontribusi berkisar 53% hingga 67%. Sedangkan di tahun 2025, kontribusi bisnis Health tercatat sebesar 67% dari total portofolio.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan bisnis Health memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja keseluruhan portofolio Reasuransi Jiwa. Karena itu, pembahasan mengenai Group Health dan Individual Health menjadi salah satu fokus utama IAS & IOS sebagai bagian dari upaya untuk mendukung penguatan kualitas portofolio dan keberlanjutan kinerja bisnis.
Melalui IAS & IOS 2026, Indonesia Re kembali menegaskan komitmennya untuk menjadi mitra strategis bagi ceding companies dengan menyediakan ruang dialog dua arah. “Kami ingin membangun kolaborasi yang lebih erat dengan seluruh stakeholder industri. Kami terbuka untuk mendengarkan kebutuhan pasar dan bersama-sama mencari solusi yang dapat memperkuat kapasitas serta ketahanan industri asuransi nasional.” kata Robbi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














