Reporter: Ade Priyatin | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perubahan outlook lembaga pemeringkatan global Moody's terhadap Indonesia tidak begitu saja menggoyahkan fundamental industri perbankan nasional.
Sejumlah bank besar merespons dengan tegas bahwa penyesuaian tersebut lebih mencerminkan kondisi makroekonomi dan bukan penurunan kinerja atau profil risiko perbankan.
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) merespons bahwa penilaian Moody's dilakukan dalam konteks makroekonomi Indonesia sehingga tidak berdampak langsung pada bisnis perbankan, baik dari sisi penyaluran kredit atau kualitas aset.
Baca Juga: BSI Salurkan Rp 73,92 Triliun Untuk Pembiayaan Berkelanjutan di 2025
"Jadi menurut kami itu adalah hak Moody's untuk memberikan penilaian dalam konteks makroekonomi Indonesia," terang EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn di sesi doorstop peluncuran Ocean by BCA, Rabu (11/2/26).
Lebih lanjut, saat ini kondisi keuangan BCA juga dinilai tetap solid karena kualitas kredit yang terjaga dan kinerja laba yang juga positif.
Dari sisi pertumbuhan kredit, Hera menegaskan kalau seluruh penyaluran kredit dilakukan melalui proses yang prudent dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sementaa itu dari sisi pendanaan, pada Selasa (10/2/26) Hera juga menyampaikan pada Kontan kalau di tahun 2026 BCA belum berencana menerbitkan obligasi. "BCA belum berencana menerbitkan obligasi pada 2026," ujarnya.
Adapun hingga akhir 2025, BCA mencatat total pendanaan dari Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 10.2% YoY menjadi Rp 1.249 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh dana giro dan tabungan (CASA) yang naik 13,1% YoY menjadi Rp 1.045 triliun sebagai pendanaan inti BCA.
Senada dengan BCA, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) juga menegaskan Rating Moody's tidak mencerminkan penurunan kinerja keuangan atau profil risiko internal BNI.
Baca Juga: Intip Strategi Adira Finance Garap Pembiayaan Multiguna Saat Ramadan
Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo menyebut saat ini posisi BNI masih di level investment grade. Kendati tidak menyebutkan nilai pembukuannya, ia menegaskan fundamental BNI tetap sehat pada akhir 2025.
"Hingga akhir tahun buku 2025, fundamental BNI tetap terjaga dengan baik," ungkapnya kepada Kontan, Rabu (11/2/26).
Lebih lanjut, Okki mengatakan kalau indikator utama seperti permodalan, likuiditas, kualitas aset, dan profitabilitas BNI saat ini berada di level yang sehat.
Menyikapi perubahan outlook Moody's, Okki menyampaikan sejumlah strategi yang akan dilakukan BNI untuk menjaga stabilitas kinerja.
Beberapa di antaranya adalah mengelola bisnis dengan prinsip kehati-hatian dan berkelanjutan melalui tata kelola manajemen risiko, termasuk di dalamnya adalah penyaluran kredit yang lebih terukur dan selektif.
Selain itu, BNI berkomitmen akan terus bersinergi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan untuk menjaga stabilitas keuangan dan kepercayaan pasar.
Selanjutnya: BSI Salurkan Rp 73,92 Triliun Untuk Pembiayaan Berkelanjutan di 2025
Menarik Dibaca: Lewat Pasar Bedug, Paris Baguette Tawarkan Aneka Takjil dan Iftar Cita Rasa Lokal
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













