kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.893.000   -50.000   -1,70%
  • USD/IDR 16.949   -61,00   -0,36%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Kredit Berisiko Naik Industri di Awal Tahun, BTN Pastikan Tetap Terkendali


Sabtu, 21 Maret 2026 / 15:31 WIB
Kredit Berisiko Naik Industri di Awal Tahun, BTN Pastikan Tetap Terkendali
ILUSTRASI. Layanan produk BTN (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kenaikan rasio kredit berisiko (loan at risk/LaR) perbankan pada awal 2026 dinilai lebih dipengaruhi faktor musiman ketimbang mencerminkan penurunan kualitas kredit secara fundamental.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan kredit mencapai 9,96% secara tahunan (year on year/yoy) pada Januari 2026, lebih tinggi dari pertumbuhan 9,63% yoy pada bulan sebelumnya.

Namun, di saat yang sama rasio LaR juga mengalami kenaikan dari 8,77% menjadi 9,01%.

Direktur Pengelolaan Risiko PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk, Setiyo Wibowo, menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan pola yang lazim terjadi di awal tahun.

Baca Juga: Pembiayaan Berisiko Naik Imbas Bencana, BSI Perkuat Pencadangan

“Pada awal tahun memang biasanya terdapat pola siklus dalam penyaluran kredit. Di bulan Januari, ekspansi kredit umumnya belum berjalan optimal sementara run-off kredit tetap berlangsung, sehingga baki debet kredit biasanya sedikit menurun,” ujarnya kepada Kontan, belum lama ini.

Ia menambahkan, dalam kondisi tersebut, rasio non-performing loan (NPL) maupun LaR secara statistik dapat terlihat meningkat. Namun, hal itu lebih mencerminkan efek siklus musiman, bukan pemburukan kualitas kredit.

Di internal BTN, Setiyo memastikan prinsip kehati-hatian tetap dijaga dalam ekspansi kredit, terutama di tengah dinamika ekonomi global dan domestik yang masih volatil. 

Setiyo bilang, portofolio kredit BTN yang didominasi oleh kredit pemilikan rumah (KPR) berbasis aset turut membantu menjaga profil risiko tetap terkendali. “Underlying agunan properti yang kuat membuat profil risiko relatif lebih terjaga,” jelasnya.

Untuk saat ini, ia bilang rasio LaR BTN masih berada dalam level yang terkendali dan menunjukkan tren perbaikan secara bertahap.

Baca Juga: Likuiditas Melonggar, Allo Bank Optimistis Kredit Tumbuh Positif pada 2026

Kontribusi terbesar LaR masih berasal dari segmen non-subsidi dan sebagian portofolio komersial, yang cenderung lebih sensitif terhadap siklus ekonomi dibandingkan KPR subsidi.

Dari sisi mitigasi risiko, BTN juga terus memperkuat pencadangan. Perseroan menjaga rasio pencadangan terhadap kredit bermasalah di kisaran 120%–130% sebagai buffer untuk mengantisipasi potensi risiko ke depan.

“Hal ini merupakan bagian dari praktik prudent banking sekaligus untuk memastikan ketahanan neraca bank,” imbuh Setiyo.

Baca Juga: Naik 9,1%, AAJI Catat Nilai Klaim Asuransi Kesehatan Capai Rp 26,74 Triliun pada 2025

Ke depan, BTN optimistis kualitas kredit akan terus membaik. Hal ini didorong oleh perbaikan proses underwriting berbasis data, penguatan collection management, serta pemantauan portofolio yang dilakukan secara lebih granular.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU

[X]
×