Sumber: KONTAN |
JAKARTA. Seretnya kredit perbankan membawa berkah bagi pebisnis anjak piutang (factoring). Perusahaan-perusahaan ekspor yang kesulitan mendapatkan modal kerja dari bank menjual tagihan mereka kepada perusahaan pembiayaan.
Presiden Direktur International Factoring of Singapore (IFS) Dennis Firmansyah menuturkan, nilai anjak piutang perusahaannya selama tahun ini mencapai Rp 200 miliar. "Anjak piutang yang biasanya susah mencari nasabah malah sekarang kebanjiran order," kata Dennis, Kamis (2/4). Kebanyakan nasabah yang menjual piutang mereka ke IFS adalah pengusaha eksportir dan pemasok di bidang perminyakan. "Ada juga perbankan," tutur Dennis.
Data Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) memperlihatkan, nilai total pembiayaan anjak piutang sepanjang 2008 mencapai Rp 2,2 triliun. Dennis yang juga Sekretaris Jenderal APPI meramal, total pembiayaan anjak piutang sepanjang tahun ini bisa menembus Rp 2,5 triliun atau naik 13,6% dari angka tahun lalu. "Di semester pertama, pembiayaan anjak piutang mungkin Rp 1,3 triliun-Rp 1,5 triliun," kata Dennis.
Direktur Utama PT Buana Finance Tbk Eko Budianto mengakui tren maraknya factoring. Eko menghitung, bisnis anjak piutang di perusahaannya meningkat meski nilainya tidak besar.
Buana Finance memang tidak fokus di bisnis ini. Dari total portofolio pembiayaan Rp 1,7 triliun, nilai anjak piutang di Buana Finance hanya sebesar Rp 20 miliar.
Presiden Direktur PT Surya Artha Nusantara Finance (SAN) Finance Susilo Sudjono juga membenarkan peningkatan anjak piutang. Namun ia menilai, kendati sedang in anjak piutang tetap menghadapi tiga persoalan.
Pertama, soal keabsahan faktur (invoice) yang menjadi bukti transaksi. Dalam anjak piutang, perusahaan yang jadi nasabah menerbitkan faktur sendiri. "Banyak orang sangsi kekuatan hukumnya. Jadi, harus dicek kekuatan hukum itu." tegas Susilo.
Kendala kedua, industri anjak piutang juga sulit mencari pendanaan. Apalagi, biasanya mereka meraup dana dari bank. Padahal, kini bank pelit mengalirkan pinjaman. Hal yang paling mungkin, perusahaan anjak piutang mencari dana dari sesama perusahaan anjak piutang. Ketiga, kondisi pasar global yang labil bisa membuat pengusaha membatalkan ekspor. Ini bisa memperbesar risiko kredit macet.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













