kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.790.000   -15.000   -0,53%
  • USD/IDR 16.911   -46,00   -0,27%
  • IDX 9.019   9,14   0,10%
  • KOMPAS100 1.245   7,42   0,60%
  • LQ45 880   8,14   0,93%
  • ISSI 331   1,64   0,50%
  • IDX30 449   3,57   0,80%
  • IDXHIDIV20 528   6,41   1,23%
  • IDX80 138   1,00   0,73%
  • IDXV30 146   2,08   1,44%
  • IDXQ30 144   1,46   1,03%

Manulife investment Management Melihat Prospek Global yang Lebih Jelas di 2026


Kamis, 22 Januari 2026 / 13:42 WIB
Manulife investment Management Melihat Prospek Global yang Lebih Jelas di 2026
ILUSTRASI. Manulife Invetment Management (Dok/Manulife Aset Manajemen Indonesia)


Reporter: Fahriyadi | Editor: Fahriyadi .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Manulife Investment Management hari ini merilis outlook pasar dan investasi Asia untuk paruh pertama 2026, menyoroti kondisi ekonomi global yang kini lebih jelas, kebijakan pemerintah yang makin terbuka, serta posisi Asia yang tetap kuat sebagai sumber pertumbuhan dan diversifikasi bagi investor.

Dengan inflasi yang mulai turun dan kebijakan moneter yang semakin longgar, Manulife Investment Management menilai bahwa kondisi saat ini lebih mendukung untuk mengambil risiko secara selektif di pasar saham, obligasi, dan portofolio multi-aset di Asia.

Pertumbuhan ekonomi global pada awal 2026 diperkirakan tetap stabil. Hal ini didukung oleh penurunan suku bunga secara bertahap, kinerja korporasi yang kuat, serta investasi yang terus berlanjut pada tematema yang meningkatkan produktivitas seperti kecerdasan buatan dan digitalisasi.

Meski masih ada risiko geopolitik dan tantangan fiskal di negara-negara maju, Asia tetap menarik bagi investor karena permintaan domestiknya yang kuat, kebijakan yang lebih fleksibel, dan reformasi struktural yang terus menjadi landasan daya tarik investasi jangka panjangnya.

Baca Juga: Tambah Portofolio Produk, Manulife Indonesia Luncurkan Produk Asuransi Baru MDWA

Yuting Shao, Senior Global Macro Strategist, yakin kondisi makro global semakin seimbang seiring pasar bergerak melampaui volatilitas ekstrem yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.  

“Menuju 2026, kondisi makroekonomi global terlihat lebih jelas dibanding sebelumnya. Inflasi mulai turun di banyak negara besar, sehingga bank sentral dapat kembali fokus mendorong pertumbuhan ekonomi daripada hanya menahan kenaikan harga. Walaupun ketidakpastian kebijakan dan risiko geopolitik masih ada, arah kebijakan moneter kini lebih mudah diprediksi. Hal ini menciptakan lingkungan yang lebih positif bagi investor, baik secara global maupun di Asia,” ujarnya, Kamis (22/1).

Shao menambahkan bahwa Asia berada dalam posisi yang kuat untuk memanfaatkan pelonggaran kebijakan moneter, pelemahan dolar AS, serta berbagai faktor pertumbuhan domestik yang berbeda-beda. Siklus ekonomi di Asia juga berbeda dengan negara-negara maju, dan perbedaan inilah yang terus membuka peluang investasi baru bagi para investor.

Luke Browne, Global Head of Multi-Asset Solutions, Senior Portfolio Manager, Head of Multi-Asset Solutions Asia, mengatakan bahwa Manulife Investment Management tetap bersikap optimis namun secara moderat berhati-hati terhadap aset berisiko, dengan tetap menekankan pada diversifikasi dan disiplin.

“Memasuki tahun 2026, kami tetap sedikit lebih memilih saham dibandingkan dengan obligasi, pilihan yang didasarkan pada kinerja yang tangguh, pengeluaran fiskal yang mendukung, dan pelonggaran kebijakan moneter secara bertahap. Namun dengan valuasi yang tinggi, inflasi, geopolitik, perdebatan terkait perdagangan AI, transisi energi, dan serta perubahan dalam komposisi Federal Reserve berarti keputusan alokasi aset perlu tetap dilakukan secara selektif dan dinamis,” ujarnya.

Dalam kategori pendapatan tetap, Browne menjelaskan adanya preferensi terhadap obligasi berdurasi lebih pendek dan peluang kredit selektif di Asia dan pasar negara berkembang, mengingat volatilitas yang terus berlanjut di kurva imbal hasil jangka panjang.

“Aset-aset Asia terus memainkan peran penting dalam portofolio multi-aset dengan menawarkan manfaat diversifikasi dan eksposur terhadap pendorong pertumbuhan yang tidak terlalu bergantung pada siklus pasar negara-negara maju,” tambah Browne.

Saham Asia

June Chua, Head of Asia Equities, mengatakan bahwa prospek ekuitas Asia tetap positif menjelang paruh pertama tahun 2026, didukung oleh dinamika mata uang yang menguntungkan dan peningkatan visibilitas laba.

“Kinerja saham Asia di luar Jepang sangat kuat sepanjang 2025, didorong oleh melemahnya dolar AS dan pelonggaran kebijakan moneter. Ke depan, proyeksi kenaikan laba untuk 2026 dan 2027 terus mendukung valuasi saham, sementara alokasi investor global terhadap saham-saham Asia masih relatif kecil, menunjukkan adanya ruang untuk keterlibatan mereka kembali yang lebih besar,” kata Chua.

Menyoroti peluang struktural di seluruh Asia, Chua menjelaskan bahwa di China, kejelasan kebijakan dalam Rencana Lima Tahun ke-15 terus mendukung pertumbuhan yang didorong oleh inovasi di bidangbidang seperti kecerdasan buatan, energi baru, manufaktur canggih, dan kesehatan. Taiwan juga tetap menjadi pusat penting dalam ekosistem AI global, didukung oleh tingginya permintaan untuk teknologi kemasan semikonduktor canggih dan infrastruktur pusat data.

Di kawasan Asia lainnya, negara-negara ASEAN terus mendapat manfaat dari diversifikasi rantai pasokan, investasi infrastruktur, dan meningkatnya permintaan dalam negeri—meskipun peluangnya berbeda di tiap pasar.

Di India, kebijakan fiskal dan moneter terbaru membantu mendorong pertumbuhan berbasis konsumsi domestik dan meredam tekanan eksternal jangka pendek. Sementara itu, Korea menunjukkan perbaikan dalam disiplin pengelolaan modal serta reformasi yang lebih berpihak pada pemegang saham, yang berpotensi mendukung kenaikan nilai pasar.

“Tingkat perbedaan kinerja antar pasar dan sektor tetap tinggi, dan pemilihan saham secara aktif tetap menjadi hal yang penting terutama saat kami fokus pada perusahaan dengan neraca keuangan yang kuat, pertumbuhan laba yang berkelanjutan, dan eksposur terhadap tema struktural jangka panjang,” tambahnya.

Murray Collis, Head of Asia Fixed Income, mengatakan bahwa pasar obligasi Asia memasuki tahun 2026 dengan momentum positif, didukung oleh suku bunga yang lebih rendah dan semakin membaiknya cakupan pasar.

“Meskipun kondisi global beberapa tahun terakhir cukup menantang, pasar obligasi Asia tetap menunjukkan kinerja yang Tangguh, dan kami memperkirakan momentum positif ini akan terus 3 berlanjut hingga 2026. Penurunan suku bunga di AS, perkembangan pasar obligasi berisiko tinggi di Asia, serta meningkatnya diversifikasi dari dolar AS membuka peluang investasi yang menarik bagi para investor,” katanya.

Ia menambahkan bahwa peluang investasi pendapatan tetap di Asia kini semakin luas dan seimbang. “Obligasi berimbal hasil tinggi di kawasan ini kini lebih beragam dan memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Sementara itu, pasar obligasi dalam mata uang lokal juga semakin diminati investor, terutama karena tren de-dolarisasi dan upaya diversifikasi mata uang. Dinamika ini semakin memperkuat peran Asia sebagai sumber pendapatan dan diversifikasi dalam portofolio investasi,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa pengelolaan aktif tetap sangat penting. “Arah kebijakan, fundamental kredit, dan kondisi teknis pasar berbeda-beda secara signifikan di seluruh wilayah. China, Jepang, dan India menonjol sebagai pasar kunci di mana dukungan kebijakan, kedalaman pasar, dan reformasi struktural sehingga memperkuat prospek investasinya, namun selektivitas dan manajemen risiko akan menjadi kunci dalam menghadapi tahun 2026,” tambah Collis.

Penempatan untuk paruh pertama tahun 2026

Menjelang paruh pertama 2026, Manulife Investment Management memperkirakan bahwa Asia akan tetap menjadi destinasi utama bagi investor yang mencari pertumbuhan, pendapatan, dan diversifikasi di tengah perubahan kondisi global. Meskipun volatilitas dan ketidakpastian masih mungkin terjadi, meningkatnya kejelasan kondisi makroekonomi dan tren kebijakan yang lebih mendukung menciptakan lingkungan yang lebih stabil bagi investor jangka panjang.

“Kisah investasi Asia pada 2026 tidak bergantung pada satu pasar atau satu tema saja. Menurutnya, kekuatan Asia terletak pada ketahanan, diversifikasi, dan kemampuan untuk beradaptasi di tengah dunia yang terus berubah,” tutur Shao.

Selanjutnya: Simak Prospek dan Rekomendasi Saham Emiten Properti Usai BI Tahan Suku Bunga di 4,75%

Menarik Dibaca: Gaya Hidup Urban Bikin Jasa Bersih-Bersih Lewat Aplikasi Kian Populer

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×