kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.911   11,00   0,06%
  • IDX 6.334   -5,54   -0,09%
  • KOMPAS100 835   -3,80   -0,45%
  • LQ45 633   -4,09   -0,64%
  • ISSI 218   -0,18   -0,08%
  • IDX30 356   -2,06   -0,58%
  • IDXHIDIV20 441   -2,49   -0,56%
  • IDX80 95   -0,52   -0,54%
  • IDXV30 119   0,04   0,03%
  • IDXQ30 114   -0,74   -0,65%

Penyaluran Kredit Lebih Longgar, BI Beberkan Sektor yang Potensial Digenjot


Rabu, 22 Juli 2026 / 16:46 WIB
Penyaluran Kredit Lebih Longgar, BI Beberkan Sektor yang Potensial Digenjot
ILUSTRASI. Bank memperkirakan kebijakan standar penyaluran kredit di kuartal III-2026 bakal lebih longgar dengan ILS turun jadi minus 2,25 (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) melihat masih terdapat ruang yang besar bagi perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit ke sejumlah sektor ekonomi. Hal ini seiring dengan mulai melonggarnya standar penyaluran kredit perbankan.

Hasil Survei Perbankan BI Triwulan II-2026 menunjukkan, bank memperkirakan kebijakan standar penyaluran kredit pada kuartal III-2026 bakal lebih longgar. Hal ini tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) yang turun menjadi minus 2,25 pada kuartal III-2026, dari 1,03 pada kuartal II-2026. 

Pun Deputi Gubernur BI Destry Damayanti menyebut, tren suku bunga kredit yang mulai menurun turut membuka peluang bagi bank untuk memperluas pembiayaan. 

Baca Juga: Hasil Investasi Tertekan, Reasuransi Pilih Portofolio dengan Lebih Konservatif

Sejalan dengan itu, masih ada sejumlah sektor yang pertumbuhan kreditnya belum mencerminkan potensi yang dimiliki.

"Kalau kita lihat memang sekarang ini sudah mulai terjadi penurunan credit standard bank. Dengan tren suku bunga juga sudah mulai menurun di perbankan, kami melihat masih banyak sektor yang pertumbuhan kreditnya masih di bawah potensinya," ujar Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (22/7/2026).

Berdasarkan asesmen BI, Destry bilang sektor yang masih memiliki ruang pertumbuhan kredit cukup besar antara lain pertanian, perdagangan, pengangkutan, serta industri pengolahan.

Lebih lanjut ia bilang khusus untuk sektor pertanian, perdagangan, dan pengangkutan, kesenjangan antara kebutuhan pembiayaan dan realisasi kredit (credit gap) masih relatif besar.

Kondisi tersebut, menurut pihaknya, menunjukkan ruang ekspansi kredit ke sektor-sektor tersebut masih terbuka lebar.

Baca Juga: Transaksi QRIS Antarnegara Capai Rp 1,52 Triliun di Triwulan II, BI Bidik Ekspansi

"Artinya sektor-sektor ini sebenarnya masih punya ruang untuk tumbuh, terutama kalau kita lihat di sektor pertanian, pengangkutan, dan perdagangan yang credit gap-nya itu masih besar. Jadi artinya ini masih mempunyai ruang untuk ditingkatkan kreditnya kepada sektor-sektor tersebut," katanya.

BI sendiri masih memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2026 berada pada kisaran 8% hingga 12%, ditopang likuiditas perbankan yang memadai, pelonggaran kebijakan makroprudensial, serta masih besarnya potensi permintaan pembiayaan.

Hingga Juni 2026, BI mencatat pertumbuhan kredit perbankan mencapai 12,67% secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dari 11,51% pada Mei 2026. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×