Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbankan terus menggenjot penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga penghujung 2026. Namun, pelemahan daya beli masyarakat dan terbatasnya minat ekspansi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menghambat optimalisasi penyaluran kredit bersubsidi tersebut.
Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, realisasi Kredit Program mencapai Rp 258,75 triliun hingga 23 September 2026 atau 78,47% dari plafon tahun ini. Adapun penyaluran KUR mencapai Rp 232,66 triliun, setara 80,08% dari target Rp 290,52 triliun.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman menilai, target penyaluran KUR hingga akhir tahun masih realistis untuk dicapai. Namun, realisasinya bergantung pada kesiapan debitur, kecepatan proses perbankan, dan prospek penjualan UMKM.
“Plafon yang tersedia tidak otomatis terserap apabila pelaku usaha belum melihat kepastian pasar dan kemampuan membayar,” ujarnya kepada kontan.co.id, Rabu (14/10).
Baca Juga: Bank Mandiri Taspen Gandeng ITB Perkuat Layanan Perbankan dan Ekosistem Pendidikan
Menurut Rizal, KUR juga belum cukup untuk menutup kesenjangan pembiayaan UMKM yang diperkirakan mencapai Rp 2.400 triliun pada 2026. Karena itu, penyaluran KUR perlu dilengkapi dengan pembiayaan ultra mikro, pembiayaan berbasis tagihan dan rantai pasok, serta penyertaan modal sesuai karakteristik usaha.
Dari sisi sektor, perdagangan kebutuhan pokok, pangan dan pengolahannya, serta jasa pariwisata dan logistik berpotensi menopang penyaluran KUR pada kuartal IV-2026. Meski demikian, permintaan pembiayaan disebut belum tentu merata apabila daya beli masyarakat masih tertahan dan pelaku UMKM lebih memilih menjaga operasional daripada melakukan ekspansi.
Sejumlah bank penyalur KUR juga terlihat masih optimistis dapat memenuhi target hingga akhir tahun. Bank Mandiri, misalnya, telah menyalurkan KUR sebesar Rp 33,27 triliun hingga 30 September 2026, setara 81,15% dari target Rp 41 triliun. Penyaluran tersebut menjangkau 250.575 debitur sepanjang tahun berjalan.
Senior Vice President Micro Development & Agent Banking Bank Mandiri Bayu Trisno Arief Setiawan menyebutkan, penyaluran KUR perseroan didominasi sektor produksi dengan nilai Rp 21,54 triliun atau 64,75% dari total realisasi. Sementara itu, sektor nonproduksi mencapai Rp 11,72 triliun atau 35,25%.
Sektor pertanian menjadi kontributor terbesar dengan penyaluran Rp 11,16 triliun atau 33,54% dari total realisasi.
Dari sisi kualitas kredit, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) KUR Bank Mandiri masih di bawah 1% per September 2026. Perseroan menjaga kualitas portofolio melalui seleksi kelayakan debitur, pemantauan perkembangan usaha, dan pengawasan pembayaran secara berkelanjutan.
"Bank Mandiri optimistis dapat memenuhi target penyaluran KUR tahun ini," ucap Bayu.
Bank Mandiri menyebutkan, masih memiliki sisa plafon sekitar Rp 7,9 triliun yang akan dioptimalkan hingga akhir 2026.
Baca Juga: Asuransi Sinar Mas Nilai Ketentuan Ekuitas Minimum Beri Dampak Positif bagi Industri
Sementara itu, Bank BPD DIY mencatatkan realisasi penyaluran KUR sebesar Rp 676 miliar hingga September 2026 dari target Rp 1,1 triliun. Penyaluran terbesar berasal dari sektor perdagangan sebesar Rp 181 miliar atau 26%, pertanian Rp 142 miliar atau 21%, serta akomodasi sekitar Rp 108 miliar atau 16%.
Direktur Pemasaran dan Usaha Syariah Bank BPD DIY R. Agus Trimurjanto mengatakan, kondisi ekonomi dan pelemahan daya beli masyarakat turut memengaruhi kualitas kredit perseroan. NPL KUR Bank BPD DIY tercatat sebesar 3,7% per September 2026.
“Untuk menjaga kualitas sejak awal pemberian melalui analisa yang cermat, selektif, four eyes principle lebih kuat, pendampingan atau monitoring setelah kredit cair, mendorong debitur untuk menyisihkan dana secara harian atau rutin sesuai dengan pola bisnisnya sehingga waktu pembayaran tidak ada kesulitan,” ujar Agus.
Melihat kondisi saat ini, Bank BPD DIY masih optimistis menyalurkan KUR hingga akhir tahun, meski memperkirakan pencapaian berada di kisaran 95% dari kuota Rp 1,1 triliun. Perseroan menilai terbatasnya potensi nasabah dan kecenderungan debitur bertahan, alih-alih berekspansi, menjadi tantangan dalam mempercepat penyaluran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














