kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.541.000   10.000   0,40%
  • USD/IDR 18.170   17,00   0,09%
  • IDX 5.074   -23,31   -0,46%
  • KOMPAS100 655   -2,53   -0,38%
  • LQ45 517   -1,21   -0,23%
  • ISSI 169   -1,32   -0,78%
  • IDX30 290   -0,84   -0,29%
  • IDXHIDIV20 390   -1,00   -0,26%
  • IDX80 76   -0,26   -0,34%
  • IDXV30 109   -0,41   -0,38%
  • IDXQ30 97   -0,28   -0,29%

Rupiah Mengungguli Dolar AS 0,13% dalam Sepekan, Apa sebabnya?


Minggu, 17 April 2022 / 05:30 WIB


Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 14.344 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (14/4). Jika dibandingkan dengan penutupan sebelumnya, rupiah berhasil menguat 0,13%. Sementara dalam sepekan, rupiah juga menguat 0,13%.

Hal yang sama terjadi di kurs referensi Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah ditutup menguat 0,07% ke Rp 14.349 per dolar AS. Sementara jika dihitung dalam seminggu terakhir, mata uang Garuda ini menguat 0,11%.

Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual menjelaskan, dari sisi sentimen eksternal, sebenarnya kurang mendukung rupiah karena inflasi di AS yang tinggi memicu spekulasi soal agresivitas kebijakan moneter The Fed ke depan. Hanya saja, dua hari terakhir telah terjadi koreksi pada yield US Treasury yang sudah menguat tajam.

Baca Juga: Koreksi Dolar AS Mendorong Rupiah Menguat ke Level Rp 14.344 Per Dolar AS

“Para investor melakukan profit taking di US Treasury, rupiah pun diuntungkan dengan hal ini. Di sisi lain, dari dalam negeri, sentimen untuk rupiah sendiri cukup baik dalam sepekan ini,” ujar David ketika dihubungi Kontan.co.id, Kamis (14/4).

Menurut David, sentimen positif untuk rupiah datang dari aliran dana investor asing yang mengalir di pasar saham. Hal ini seiring dengan adanya IPO besar pada pekan ini yang mendorong dana tersebut masuk.

Selain itu, ia juga meyakini masih tingginya harga komoditas sejauh ini turut menjadi sentimen positif. Pasalnya, hal tersebut membuat aliran modal dari eksportir masih cukup kencang sehingga berpotensi membuat trade balance masih akan tetap surplus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×