kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 18.057   23,00   0,13%
  • IDX 4.997   -188,50   -3,64%
  • KOMPAS100 631   -26,97   -4,10%
  • LQ45 488   -20,09   -3,95%
  • ISSI 172   -7,03   -3,92%
  • IDX30 273   -10,40   -3,67%
  • IDXHIDIV20 357   -9,37   -2,56%
  • IDX80 72   -3,02   -4,00%
  • IDXV30 101   -1,50   -1,47%
  • IDXQ30 90   -3,25   -3,49%

Saham Big Banks Melemah Imbas Pengumuman MSCI, Waktunya Masuk?


Senin, 19 Oktober 2026 / 18:54 WIB
Saham Big Banks Melemah Imbas Pengumuman MSCI, Waktunya Masuk?
ILUSTRASI. Saham bank-bank berkapitalisasi pasar jumbo alias big banks menjadi yang paling banyak merasakan dampak sentimen MSCI.(REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Saham bank-bank berkapitalisasi pasar jumbo alias big banks menjadi yang paling banyak merasakan dampak sentimen MSCI. Derasnya arus dana asing yang keluar melemahkan harga saham, tetapi murahnya valuasi tak serta-merta menjadi sinyal positif bagi investor domestik. 

Pada akhir perdagangan Senin (19/10/2026), saham big banks masih kompak melemah. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menorehkan penurunan terdalam, yakni sebesar 6,86% dalam sehari menjadi Rp 4.820. Dalam sehari, BBCA mencatatkan net sell asing sebesar Rp 986,87 miliar. 

Menyusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun harga 3,79% menjadi Rp 2.540 dengan catatan net sell asing terbesar di pasar hingga Rp 1,08 triliun. 

Adapun PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi 0,88% menjadi Rp 3.360, net sell asingnya mencapai Rp 113,41 miliar. Sementara PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), meski turun harga 0,34% menjadi Rp 2.960, masih mencatatkan net buy asing sebesar Rp 95,87 juta. 

Baca Juga: Panin Dubai Syariah Relokasi Kantor Cabang Palembang Mulai 2 November 2026

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand, mengatakan, untuk jangka pendek saham big banks memang masih berpotensi mengalami tekanan seiring ketidakpastian MSCI dan risiko berlanjutnya arus keluar dana asing. 

“BBCA dan BBRI menjadi perhatikan karena likuiditas dan kapitalisasi pasarnya yang besar,  sehingga dapat menjadi sumber likuiditas bagi investor asing yang mengurangi eksposur terhadap Indonesia,” ujarnya kepada Kontan, Senin (19/10/2026). 

Abida memandang respons regulator terhadap pengumuman MSCI bisa memperbaiki sentimen hanya jika diikuti langkah konkret untuk meningkatkan transparansi kepemilikan saham, memperbaiki free float, dan memperkuat integritas pasar. Pasalnya, investor global bakal pasang mata pada implementasi reformasi dan keputusan MSCI berikutnya.

Equity Research Kiwoom Sekuritas Abdul Azis Setyo Wibowo sepakat. Menurutnya, asing masih berfokus pada praktik goreng menggoreng saham di Indonesia. “Hal ini yang sebenarnya harus jadi perhatian dari regulator,” katanya. 

Abdul melihat praktik itu sebenarnya memang sudah lama. Hanya saja, yang jadi perhatian adalah saham tersebut juga memiliki bobot sangat besar terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), bahkan bisa mengalahkan saham yang bisa dibilang kuat secara fundamental. 

Baca Juga: Ini Strategi BPR Pacu Penyaluran Kredit hingga Akhir Tahun

Abdul menegaskan jika persoalan itu masih belum teratasi dan MSCI menilai belum ada perbaikan yang signifikan, arus keluar dana asing masih berpotensi sangat besar.

Maka dari itu, ia melihat sikap yang tepat diambil investor domestik saat ini adalah akumulasi secara bertahap pada sektor bank. Toh, valuasi saat ini juga sudah sangat murah. 

Potensi Rebound

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta bilang volatilitas big banks masih bakal tinggi hingga setidaknya dua minggu ke depan akibat aksi lepas portofolio dari dana indeks pasif. 

Namun begitu, koreksi tajam yang membawa indikator teknikal ke area oversold ekstrem membuka peluang terjadinya pemulihan teknikal alias technical rebound. 

“Tekanan jual asing diproyeksikan mulai melandai secara bertahap seiring berjalannya proses klarifikasi dan perbaikan regulasi oleh OJK serta BEI, meskipun arus dana keluar belum akan terhenti seketika,” tutur Nafan. 

Namun tetap, Nafan bilang penurunan harga saham bank-bank besar saat ini baiknya disikapi secara bijak oleh investor domestik melalui strategi wait and see hingga pergerakan harga mengonfirmasi fase pembentukan dasar atau bottoming phase.

Abida sepakat. Ia bilang strategi pembelian bertahap dapat dipertimbangkan dengan memperhatikan stabilisasi IHSG, arus dana asing, dan respons harga terhadap tekanan jual.

Dalam pandangan Abida, investor institusi domestik bisa saja menjadi penyangga melalui penyerapan saham berfundamental kuat pada valuasi yang lebih rendah. Namun, kemampuan segmen investor ini menahan koreksi tetap bergantung pada likuiditas yang tersedia, batas alokasi investasi, dan besarnya arus keluar asing. 

“Karena itu, penyerapan domestik belum tentu cukup untuk menghentikan tekanan harga dalam jangka pendek,” sebutnya. 

Untuk jangka panjang, Abida melihat fundamental perbankan masih ditopang oleh pertumbuhan kredit, pendapatan bunga, dana murah, serta kebutuhan pembiayaan ekonomi domestik. Namun, prospek tersebut tetap perlu dievaluasi berdasarkan kemampuan bank menjaga margin bunga bersih (net interest margin/NIM), kualitas aset, dan pertumbuhan laba.

Sementara itu, Abdul merekomendasikan buy untuk saham BMRI dan BBRI masing-masing dengan target harga Rp 5.400 dan Rp 4.000. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×