kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Suku bunga rendah, perlu jaminan inflasi rendah


Kamis, 19 Mei 2016 / 21:40 WIB
Suku bunga rendah, perlu jaminan inflasi rendah


Reporter: Dina Farisah | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Seperti yang sudah diperkirakan, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada Kamis (19/5) tidak mengubah tingkat suku bunga acuan.

Tingkat suku bunga acuan tetap pada posisi 6,75 persen. Menjelang pergantian patokan suku bunga acuan menjadi reverse repo 7 hari, BI diperkirakan akan menjaga kestabilan suku bunga hingga Agustus nanti.

Chief Economist and Director for Investment Relations Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat mengatakan, BI mendorong tingkat suku bunga rendah.

Menurutnya, bank komersial pun dikondisikan agar menurunkan suku bunga kredit dan suku bunga tabungannya. Suku bunga rendah bukannya muncul tanpa ada prasyarat. Suku bunga rendah dapat berkesinambungan jika ada inflasi rendah yang juga berkesinambungan.

“Penurunan suku bunga juga perlu dijamin dengan penurunan inflasi,” kata Budi Hikmat, Kamis (19/5).

Penurunan inflasi, kata Budi, dapat dilakukan dengan cara memproduksi barang serta mendistribusikannya dengan lancar. Produksi yang mencukupi di dalam negeri, bukan karena impor.

“Misalnya saja, jika ada beras mahal di Jawa, dapat ditekan dengan mengirim dari Makassar dengan jalur distribusi yang lancar sehingga tidak terjadi kelangkaan beras yang membuat inflasi meningkat,” imbuhnya.

Inflasi di Indonesia terjadi karena produksi yang kurang sementara permintaan tinggi. Produksi rendah juga membuat harus ada impor sehingga terjadi defisit neraca berjalan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×