: WIB    --   
indikator  I  

Bank Harda cari modal dari non right issue

Bank Harda cari modal dari non right issue

JAKARTA. PT Bank Harda Internasional Tbk (BHI) tengah mencari calon investor anyar. Rencananya, calon investor baru yang cocok akan masuk melalui skema penambahan modal disetor melalui non Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dari rencana semula BHI akan mendapatkan dana segar dengan cara rights issue.

Niatan penambahan modal dengan cara non rights issue tertuang pada laporan rencana Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPS-T) dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) Bank Harda Internasional pada 5 Juni 2017 yang dipublikasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat 12 Mei 2017.

Direktur Bank Harda Internasional Barlian Halim menyampaikan, pihaknya enggan menyampaikan secara detail terkait rencana penambahan modal tersebut. Kendati demikian, bank berkode saham BBHI ini akan memaparkan realisasi kinerja kuartal I-2017 pada Rabu 17 Mei 2017. "Kami akan public expose kinerja," ucapnya, Selasa (16/5).

BHI mencatat rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) sebesar 23,68% di kuartal I-2017 atau naik 262 bps dibandingkan posisi 21,06% di kuartal I-2016. Secara nilai, BHI membukukan total modal Rp 397,42 miliar per kuartal I-2017 dengan rincian modal inti Rp 385,30 miliar dan modal pelengkap Rp 12,12 miliar.

Kendati demikian, BHI mencatat perlambatan kinerja usaha. Misalnya, kredit turun 4,30% menjadi Rp 1,44 triliun per kuartal I-2017 dibandingkan posisi Rp 1,51 triliun per kuartal I-2016. Penyusutan kredit ini membuat rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) ikut susut.

BHI memiliki rasio NPL gross sebesar 3,14% per kuartal I-2017 atau turun 377 bps dari posisi 7,18% di kuartal I-2016, begitu juga dengan NPL net menjadi 2,42% per kuartal I-2017 atau turun 142 bps dibandingkan posisi 3,84% di kuartal I-2016.

Komposisi dana pihak ketiga (DPK) juta turun 8,84% menjadi Rp 1,50 triliun per kuartal I-2017 dibandingkan posisi Rp 1,65 triliun per kuartal I-2016. Deposito masih menguasai DPK dengan porsi 84% terhadap total DPK.

Bisnis yang tumbuh lambat membuat laba bersih terpangkas 19,55% menjadi Rp 2,32 miliar per kuartal I-2017 dibandingkan posisi Rp 2,89 miliar per kuartal I-2016. Laba menyusut karena pendapatan bunga bersih turun dan ada beban operasional selain bunga bersih senilai Rp 20,47 miliar.


Reporter Nina Dwiantika
Editor Dupla Kartini

BANK

Feedback   ↑ x
Close [X]