kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.059.000   35.000   1,16%
  • USD/IDR 16.960   17,00   0,10%
  • IDX 7.586   -124,85   -1,62%
  • KOMPAS100 1.060   -17,16   -1,59%
  • LQ45 776   -11,77   -1,49%
  • ISSI 267   -5,67   -2,08%
  • IDX30 410   -8,94   -2,13%
  • IDXHIDIV20 507   -8,43   -1,64%
  • IDX80 119   -2,14   -1,77%
  • IDXV30 137   -1,76   -1,26%
  • IDXQ30 133   -2,57   -1,90%

AAJI Yakin Agen Asuransi Tak Bisa Digantikan Artificial Intelligence (AI)


Minggu, 08 Maret 2026 / 08:32 WIB
AAJI Yakin Agen Asuransi Tak Bisa Digantikan Artificial Intelligence (AI)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menilai kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak bisa begitu saja menggantikan peran agen asuransi.

Direktur Eksekutif AAJI Emira Oepangat menyebut pada dasarnya agen asuransi menerapkan pendekatan yang bisa mengerti soal kebutuhan hidup para nasabah. Dia menilai hal itu juga yang tak bisa digantikan oleh AI.

"Kalau sudah asuransi tentu yang benar-benar mengerti soal kebutuhan hidup, melihat secara kebutuhan keseluruhan, serta harus punya trust dan rasa chemistry-nya," kata Emira dalam acara Kompas Talks di Jakarta Selatan, Kamis (5/3/2026).

Faktor lainnya, Emira juga menyampaikan agen asuransi dibekali kemampuan untuk menjadi perencana keuangan atau financial planner bagi nasabah ke depannya. Lewat pendekatan itu, dia menilai peran agen asuransi begitu penting bagi para nasabah. 

Baca Juga: AFPI Usulkan Revisi RUU P2SK Efek Pinjol Ilegal Marak, Ini Kata OJK

Meski AI tak dapat menggantikan peran agen asuransi, Emira mengungkapkan kehadiran kecerdasan buatan dapat membantu pekerjaan keagenan. Misalnya, dia bilang dalam menganalisis profil nasabah dan produk yang sesuai dengan profil nasabah tersebut.

"Selain itu, agen juga dapat menggunakan AI untuk menghitung jumlah uang pertanggungan dan premi yang cocok dengan profil calon nasabah," tuturnya.

Emira menyebut industri asuransi mungkin menjadi salah satu industri yang tidak dapat mengadopsi teknologi, termasuk AI, dengan begitu masif. Sebab, industri asuransi itu jangka panjang, sehingga banyak polis yang berusia lebih dari 30 tahun dan tak serta-merta bisa menggunakan AI semua. Dia bilang kondisi tersebut tak hanya dialami di Indonesia, tetapi luar negeri juga. 

"Untuk memindahkan data-data itu mengikuti teknologi sekarang, tentu sangat challenging dan mahal. Selain itu, takut data nasabah kalau dipindahkan dengan cepat, bisa saja hilang atau berubah. Ketentuan jualan tahun 1974 sama 2024 bisa tertukar polis ketentuannya, itu bahaya karena asuransi prinsip kehati-hatian," ungkapnya.

Berdasarkan data AAJI, terdapat sekitar 239.731 tenaga pemasaran yang memiliki lisensi. Adapun kanal distribusi keagenan menyumbang porsi pendapatan premi industri senilai Rp 42,25 triliun hingga September 2025, atau sedikit turun dari periode sama tahun sebelumnya yang senilai Rp 42,99 triliun.

Secara keseluruhan, total pendapatan premi industri asuransi jiwa tercatat senilai Rp 133,22 triliun per September 2025.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×