Reporter: Ferry Saputra | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) Indonesia (Aslindo) menilai ketersediaan dan kualitas data untuk analisis kredit atau credit scoring memang menjadi tantangan bagi industri saat ini.
Terlebih, LKM belum menjadi peserta Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) sehingga belum bisa mengakses data.
"Benar, keakuratan data pada segmen mikro jadi tantangan. Saat ini, LKM juga belum mengakses SLIK karena belum menjadi peserta," kata Ketua Umum Aslindo Burhan kepada Kontan, Senin (13/4/2026).
Untuk mengantisipasi hal itu, Burhan menerangkan saat ini Aslindo sudah ada kerja sama dengan pihak ketiga atau vendor penyedia jasa informasi data nasabah untuk credit scoring. Dia menilai hal itu menjadi sangat penting bagi LKM dalam menyalurkan pembiayaan.
"Sangat dibutuhkan informasi calon nasabah sebelum dilakukan keputusan pemberian kredit dan bisa mengurangi risiko kredit. Identifikasi data calon nasabah di awal perlu diketahui," ucapnya.
Baca Juga: Rupiah Melempem, Permintaan Kredit Valas Perbankan Terbatas
Burhan menjelaskan kerja sama dengan pihak ketiga dilakukan pada Februari 2026 lewat nota kesepahaman. Dia bilang baru sekitar 30 LKM yang sudah ikut kerja sama.
"Belum semuanya. Pada Maret 2026, baru uji coba dan sudah dimulai pada April 2026. Tentu sangat membantu bagi LKM," ungkapnya.
Selain tantangan dari ketersediaan data untuk credit scoring, Burhan juga mengatakan tantangan lain yang dihadapi LKM dalam menyalurkan pembiayaan, yaitu adanya kebijakan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
"KUR sampai Rp 100 juta tanpa agunan, sehingga banyak nasabah kami yang pindah ke KUR," tuturnya.
Sebelumnya, OJK menyebut ketersediaan dan kualitas data untuk mendukung analisis kredit pada segmen mikro menjadi salah satu tantangan dalam penyaluran pembiayaan LKM.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman mengatakan hal itu mengingat sebagian LKM masih memiliki keterbatasan kapasitas dalam pengembangan credit scoring.
Oleh karena itu, OJK mendorong LKM untuk memanfaatkan akses terhadap SLIK sebagai alat bantu dalam analisis kredit.
"Ditambah, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui penguatan pemahaman Know Your Customer (KYC) dan analisis kredit sederhana berbasis prinsip Character, Capacity, Capital, Condition, dan Collateral (5C)," katanya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Rabu (8/4/2026).
Baca Juga: OJK: Positifnya Pasar Otomotif Jadi Angin Segar bagi Asuransi Kendaraan
Selain itu, Agusman bilang OJK juga tengah menyusun modul pembelajaran mandiri bagi LKM sebagai bagian dari implementasi roadmap LKM. Dia bilang modul tersebut bertujuan mendukung peningkatan kualitas penyaluran pembiayaan.
Terkait kinerja industri, OJK mencatat, penyaluran pinjaman LKM per Februari 2026 mencapai Rp 1,01 triliun. Jika ditelaah, nilainya tumbuh 3,06% dibandingkan posisi Januari 2026 yang sebesar Rp 980 miliar.
Lebih lanjut, OJK mencatat nilai aset LKM per Februari 2026 mencapai Rp 1,57 triliun. Berbeda kondisi dengan kinerja pinjaman, aset LKM per Februari 2026 tercatat mengalami kontraksi sebesar 3,68% jika dibandingkan posisi per Januari 2026 yang sebesar Rp 1,63 triliun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













