Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rupiah yang belakangan kian tak berdaya membuat permintaan kredit dalam bentuk valuta asing (valas) di perbankan melandai. Alhasil, bank membatasi isi lumbung likuiditas valas.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.105 pada penutupan perdagangan Senin (13/4/2026). Nilai ini mencerminkan penurunan 0,86% dalam sebulan dan 2,48% sejak awal tahun.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, pada Februari 2026 terjadi penurunan transaksi pada pasar uang antar bank (PUAB) valas overnight sebesar 14,01% dalam sebulan (month-to-month) menjadi US$ 183,53 juta.
Baca Juga: OJK: Positifnya Pasar Otomotif Jadi Angin Segar bagi Asuransi Kendaraan
LPS menilai penurunan transaksi PUAB valas ini mengindikasi permintaan jangka pendek valas dalam negeri telah dapat dipenuhi oleh ketersediaan valas internal perbankan. Menariknya, dalam periode yang sama sesungguhnya simpanan valas bank juga turun 0,4%. Artinya, meski tren pertumbuhan pendanaan terbatas, pada dasarnya kebutuhan valas bank juga tak masif.
Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyebut, pada dasarnya permintaan kredit, baik korporasi maupun ritel, memang masih relatif lemah. Tak terkecuali kredit valas, apalagi dengan kondisi nilai tukar saat ini.
“Korporasi memilih untuk menerapkan manajemen risiko yang lebih pruden, kecuali jika pendapatan korporasi juga dalam bentuk valas,” ujar Lani kepada Kontan, Senin (13/4/2026).
Secara likuiditas, Lani bilang rasio kredit terhadap pendanaan (loan to deposit/LDR) di CIMB Niaga masih relatif longgar di level 70%. Ini didukung pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) valas yang juga masih tumbuh dua digit di tengah pelemahan permintaan kredit.
Tren positif pada pertumbuhan DPK valas ini pun, lanjut Lani, terjadi lantaran nasabah belum ingin membelanjakan dananya untuk investasi.
Di samping itu, ia melihat nasabah yang mempunyai kewajiban dalam bentuk valas, di tengah lesunya rupiah saat ini, lebih selektif dalam mengelola risiko nilai tukar.
Baca Juga: Inflasi Medis Tekan Asuransi Kesehatan, AXA Mandiri Ambil Langkah Ini!
Sementara itu, Bank Central Asia (BCA) juga terus memperhatikan perkembangan nilai tukar saat ini. EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn menyebut, pada dasarnya bank tetap berkomitmen menjaga posisi permodalan dan likuiditas valas yang solid.
“Agar kami memiliki landasan bagi pertumbuhan kredit yang berkesinambungan dan berkualitas,” kata Hera.
Hingga akhir tahun lalu, kredit valas bank masih tumbuh 14,9% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 49,9 triliun, sementara DPK valas tumbuh 11,7% yoy menjadi Rp 83,6 triliun. Namun, Hera menegaskan bahwa porsi pembiayaan BCA masih didominasi rupiah.
Di tengah dinamika nilai tukar yang fluktuatif saat ini, ia memastikan layanan valas BCA tetap responsif, aman, dan mampu memenuhi kebutuhan nasabah.
Di sisi lain, Direktur Utama KB Bank Kunardy Lie mengaku pihaknya kini lebih selektif dalam menyalurkan kredit valas. Bank fokus pada nasabah yang memiliki profil risiko kuat serta fundamental bisnis yang solid.
Di luar itu, ia bilang pada dasarnya permintaan kredit valas juga masih terbatas. “Dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik, seperti volatilitas nilai tukar rupiah, ketidakpastian ekonomi global, serta kecenderungan korporasi untuk lebih memilih pembiayaan berbasis rupiah,” katanya.
Baca Juga: Asei Beberkan Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Asuransi Perdagangan
Di samping itu, Kunardy melihat penyesuaian batas transaksi valas dan penguatan aturan pelaporan devisa juga menjadi katalis. Apalagi, permintaan pembiayaan dari sektor rill juga masih terbatas.
Secara umum ia memproyeksi pertumbuhan kredit valas bakal tetap lebih rendah dibandingkan kredit rupiah, seiring permintaan kredit yang terbatas lantaran korporasi cenderung mengelola dan mengurangi eksposur terhadap risiko nilai tukar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













