kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS944.000 2,83%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Bahana Sekuritas akan tangani setidaknya dua IPO dan empat emisi obligasi lagi


Rabu, 19 September 2018 / 08:13 WIB
Bahana Sekuritas akan tangani setidaknya dua IPO dan empat emisi obligasi lagi
ILUSTRASI. Bahana Sekuritas

Reporter: Grace Olivia | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketidakpastian perekonomian dunia serta penguatan mata uang dollar Amerika Serikat (AS) secara global berimbas terhadap pasar keuangan sejumlah negara, termasuk Indonesia. Penguatan dollar AS akibat normalisasi kebijakan moneter dan pengetatan likuiditas di Negeri Paman Sam telah mengakibatkan pembalikan dana dari pasar keuangan sejumlah negara Asia. Namun, di saat yang sama, Bahana Sekuritas melihat pasar obligasi domestik bakal menjadi lebih atraktif ke depan.

Seperti yang diketahui, sejumlah mata uang Asia mengalami pelemahan. Hingga akhir perdagangan pekan lalu, Jumat (14/9), nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,35% di level Rp 14.783 per dollar AS. Secara year to date, Rupiah telah terkoreksi 8,41%, masih lebih baik bila dibandingkan koreksi yang dialami Rupee India yakni mencapai 12%.


Namun di saat yang sama, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah terkerek naik seiring dengan penarikan dana investor dari pasar saham maupun obligasi. Bahana Sekuritas mencatat, yield obligasi pemerintah juga naik menjadi 8,4%. Angka tersebut lebih tinggi ketimbang yield obligasi India sebesar 8,1%, Filipina sebesar 6,35%, maupun Malaysia sebesar 4,1%. Bahana Sekuritas berpendapat, dengan tingkat yield seperti ini, pasar obligasi Indonesia menawarkan tingkat imbal hasil yang cukup menarik dibanding negara tetangga.

''Investor akan kembali melihat pasar obligasi Indonesia menjadi tempat berinvestasi dengan dukungan fundamental ekonomi yang terus memperlihatkan sejumlah perbaikan,'' ujar Direktur Utama Bahana Sekuritas Feb Sumandar, dalam keterangannya, Rabu (19/9).

Korporasi pun, lanjut Feb, masih melihat penerbitan obligasi sebagai sumber pendanaan untuk meningkatkan produktivitas. Animo korporasi untuk menerbitkan obligasi maupun menerbitkan saham perdana (IPO) dinilainya masih terus mengalir.

Semester pertama 2018, Bahana telah mengantarkan dua emiten melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) yakni PT BRI syariah (BRIS) dan PT Indonesia Kendaraan Terminal (IPCC) dengan perolehan dana sekitar Rp 2,2 triliun.

Begitu juga dengan korporasi jumbo lainnya, seperti Perusahaan Listrik Negara, PT Bank Rakyat Indonesia, PT Waskita Karya, Pegadaian, Penanaman Nasional Madani, dan Wom Finance yang beramai-ramai menerbitkan obligasi. Total perolehan dana daei penerbitan surat utang korporasi tersebut menurut Feb mencapai Rp 16,7 triliun.

Adapun, di sisa tahun ini, Feb memperkirakan bakal ada lebih dari dua perusahaan yang akan mencari dana melalui IPO dan lebih dari empat perusahaan lagi yang akan menerbitkan obligasi.

''Kami meyakini sejumlah langkah yang dilakukan pemerintah bersama dengan Bank Indonesia baik dengan menaikkan suku bunga acuan maupun dengan menempuh berbagai kebijakan fiskal untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik menjadi sentimen positif bagi investor untuk kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia,'' tutur Feb.

Kemampuan anak usaha Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) ini mengantarkan sejumlah perusahaan mendapatkan pendanaan baik di pasar saham maupun pasar obligasi dalam kondisi pasar yang penuh tekanan akibat sentimen global, diganjar apresiasi dari institusi keuangan asing melalui penghargaan sebagai Best Investment Bank in Indonesia, yang diberikan oleh Alpha Southeast Asia di Singapura, Selasa (18/9).

Dalam perhelatan 12th Annual Best Financial Institution Award 2018 tersebut, Alpha Southeast Asia menilai Bahana mampu mempertahankan posisinya sebagai pemimpin investment bank diantara perusahaan sekuritas yang membantu menerbitkan saham maupun menerbitkan obligasi. Bahana juga dinilai memiliki tim riset termasuk konsultan dalam merger dan akuisisi (M&A) yang mumpuni.




TERBARU

Close [X]
×