Sumber: KONTAN | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Banyak bankir menilai, gagasan pembentukan pooling fund tak akan terwujud dalam waktu dekat. Rencana itu masih membutuhkan banyak polesan sebelum menggelinding di pasar.
Kepala Treasury PT Bank Central Asia (BCA) Tbk Branko Windoe menilai, secara teori gagasan pembentukan pooling fund bagus. Namun, jika diterapkan di lapangan, gagasan tersebut masih sulit untuk dilaksanakan. "Masih ada detail-detail yang perlu dijelaskan," imbuh Branko.
Senada, Direktur Treasury PT Bank CIMB Niaga Tbk. Gottfried Tampubolon mencontohkan, detil yang perlu dijelaskan itu antara lain kewajiban dari bank yang menggunakan dana pooling fund.
Aturan main lain yang juga harus dirumuskan adalah mekanisme pengelompokkan bank. "Untuk menentukan ukuran bank tersebut bisa survive atau tidak nantinya setelah mendapatkan pinjaman dari pooling fund sangat sulit dilakukan," kata Gottfried, kemarin (21/2).
Persoalan lain adalah soal uang yang dijadikan sebagai jaminan dalam pooling fund. "Harus jelas skemanya, harus ada kepastian uang kembali dan ada return (imbal hasil)," ujar Direktur Korporasi PT BNI Tbk. Krishna R. Suparto.
Menurut Krishna, selain pembentukannya tidak mudah, efektifitas pooling fund juga belum bisa diketahui. "Lebih baik memaksimalkan fasilitas dari BI yang sudah ada. Pasalnya semua dana harus dibayar, tak ada yang gratis," tandasnya.
Alhasil, Krishna meramalkan, pooling fund tidak mungkin terbentuk dalam waktu dekat. Kecuali, BI sebagai otoritas moneter di Indonesia mewajibkan pembentukan sekaligus menetapkan persyaratannya. "Seperti cara kerjanya bagaimana, untuk kebutuhan apa," imbuh Branko.
Bank besar harus ikut
Berbeda dengan kebanyakan koleganya, Kepala Treasury PT. Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk. Basuki Setiadji optimistis pooling fund bisa berjalan selambat-lambatnya dalam dua bulan ini. Syaratnya, bank-bank yang memiliki likuiditas besar mau turut serta dalam pooling fund ini. Jika bank besar mau ikut, Basuki yakin pembentukan pooling fund bisa berjalan mulus. "Sepuluh bank besar mestinya menjadi kontributor yang besar pula untuk ini," katanya.
Basuki yakin, pooling fund mampu memenuhi misi awalnya, yaitu merontokkan sekat-sekat di pasar uang antarbank (PUAB). "Pooling fund bisa jadi jaminan untuk mendorong PUAB berjalan normal," ujarnya. Hanya saja, Basuki belum bisa memperkirakan berapa besar pooling fund yang harus disediakan agar transaksi antarbank bisa berjalan normal kembali.
Gagasan pooling fund dilontarkan oleh Bank Indonesia dan Perhimpunan Bank Nasional. Garis besar gagasan ini adalah industri perbankan bersama-sama urunan mengumpulkan dana atau membentuk pooling fund.
Nantinya bank yang ikut serta menyumbang dana bisa meminjam dari pooling fund tersebut. Gagasan ini bertujuan untuk melancarkan kembali lalulintas likuiditas antar bank. Jika pergerakan dana semakin lancar, tentu para bankir akan lebih mudah memenuhi kebutuhan dana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












