Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT Bank BCA Syariah memandang prospek bisnis pada kuartal IV 2026 masih cukup positif. Presiden Direktur BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum mengatakan, tren penurunan suku bunga di pasar keuangan dapat membantu mengurangi persaingan dalam perebutan likuiditas mahal.
Yuli cukup optimistis terhadap kondisi ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2026. Menurutnya, tren penurunan tingkat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi salah satu faktor yang mendukung prospek ekonomi dan bisnis perbankan.
“Kami meyakini penurunan ini akan mengurangi persaingan perebutan likuiditas mahal,” ujar Yuli kepada Kontan.co.id, beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Astra Sedaya Finance Siapkan Dana Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Rp 304 Miliar November
Di sisi fiskal, Yuli menjelaskan, penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah sebesar Rp 200 triliun di bank Himbara dapat memberikan dampak positif terhadap likuiditas di pasar keuangan.
Menurut dia, evaluasi pemerintah terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menunjukkan upaya agar belanja negara dilakukan secara lebih efisien dan terukur.
“Kami optimistis penempatan SAL dapat memberikan pengaruh positif dalam meningkatkan likuiditas di pasar keuangan. Evaluasi terhadap program MBG juga menunjukkan komitmen agar belanja negara semakin efisien dan terukur,” katanya.
Meski demikian, Yuli melihat kondisi daya beli masyarakat belum sepenuhnya kuat. Menurutnya, daya beli masih dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari inflasi, pendapatan riil, penyerapan tenaga kerja hingga kebijakan suku bunga.
“Masyarakat saat ini juga cenderung selektif dan cenderung melakukan penghematan dalam membelanjakan uangnya,” jelas Yuli.
Di tengah kondisi tersebut, ketidakpastian global juga masih menjadi perhatian. Yuli bilang, dinamika geopolitik dan perdagangan global berpotensi meningkatkan harga komoditas dan mendorong inflasi.
Situasi tersebut pada akhirnya dapat menahan laju bisnis apabila tekanan terhadap inflasi dan ketidakpastian global berlanjut.
Baca Juga: Fitch Pertahankan Rating BTN (BBTN) di AAA, Ditopang Kuatnya Dukungan Pemerintah
“Saat ini situasi global masih diselimuti dengan ketidakpastian tinggi akibat dinamika geopolitik dan perdagangan yang terjadi. Hal tersebut berpotensi menaikkan harga komoditas, hingga memicu inflasi yang pada akhirnya berdampak pada perlambatan laju bisnis,” katanya.
Sementara itu, terkait kondisi politik dalam negeri, Yuli menilai situasi saat ini relatif tidak mengganggu iklim usaha. Bagi dunia usaha, menurutnya, hal yang lebih penting adalah pemerintah tetap fokus mendorong pertumbuhan bisnis melalui pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang tepat sasaran, terukur dan prudent.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, BCA Syariah tetap akan melanjutkan ekspansi bisnis pada kuartal IV 2026. Yuli melihat potensi pertumbuhan bisnis perbankan syariah masih cukup besar.
“BCA Syariah optimistis untuk terus melakukan ekspansi. Kami melihat potensi untuk tumbuh masih sangat besar, dan kami juga yakin setiap siklus ekonomi selalu terdapat peluang,” ujar Yuli.
Untuk mendukung ekspansi, BCA Syariah menyiapkan sejumlah strategi. Salah satunya melalui pengembangan infrastruktur digital untuk memperkaya fitur mobile banking BSya dan BIQ.
Baca Juga: Kredit Sindikasi Jadi Pilihan Bank Biayai Proyek Jumbo
Bank juga akan memperluas kehadiran fisik dengan menambah jaringan cabang di sejumlah kota.
Selain itu, BCA Syariah akan meningkatkan pemasaran melalui kolaborasi strategis dengan mitra dan induk usaha serta menambah tenaga pemasar.
Strategi tersebut ditujukan untuk memperkuat penetrasi BCA Syariah ke dalam ekosistem syariah sekaligus menangkap potensi bisnis yang masih terbuka.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














