Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah bersama Bank Indonesia resmi meluncurkan program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) untuk mendorong penyaluran pembiayaan ke sektor produktif. Inisiatif ini diharapkan mampu mengurai hambatan intermediasi sekaligus menopang target pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,4%–5,5%.
Menanggapi hal ini, Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan menilai, program percepatan intermediasi perbankan yang diluncurkan BI dinilai menjadi langkah positif untuk mendorong penyaluran kredit. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada sisi permintaan (demand) yang saat ini masih tertahan.
Menurutnya, persoalan intermediasi tidak hanya terletak pada kesiapan perbankan dalam menyalurkan kredit, tetapi juga minat pelaku usaha untuk berekspansi.
“Penyaluran kredit itu ada dua sisi, supply dan demand. Dari sisi supply, perbankan sebenarnya siap. Tapi demand-nya ini yang masih banyak wait and see,” ujarnya di Jakarta, Senin (27/4).
Baca Juga: BI Gaspol Intermediasi Lewat Pinisi, Tapi Demand Kredit Masih Seret
Ia menjelaskan, ketidakpastian global dan dinamika geopolitik membuat pelaku usaha cenderung menahan ekspansi dalam jangka pendek. Kondisi ini dinilai wajar karena pelaku usaha perlu mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Secara industri, pertumbuhan kredit masih tergolong cukup baik, berada di kisaran 9%–10% secara tahunan. Sementara itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) juga masih solid di kisaran 11%, mencerminkan likuiditas perbankan yang memadai.
“Kalau dilihat, amunisi perbankan masih ada. Loan to deposit ratio (LDR) juga sehat. Jadi bukan di supply, tapi demand yang belum bisa dipaksa,” tambahnya.
Tigor optimistis permintaan kredit akan meningkat jika kondisi makroekonomi dan geopolitik mulai lebih jelas. Di sisi lain, kebutuhan pembiayaan di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dinilai masih tinggi, terutama untuk modal kerja.
“Banyak pelaku usaha butuh working capital. Kalau permintaan naik, mereka perlu bahan baku lebih banyak. Tapi kalau akses pembiayaan terbatas, mereka tidak bisa berkembang,” katanya.
Sebagai bank digital berbasis ekosistem, Superbank mengandalkan analisis data secara real time untuk menilai kebutuhan pembiayaan nasabah. Pendekatan ini memungkinkan bank menyalurkan kredit secara lebih tepat sasaran berdasarkan perilaku dan aktivitas usaha nasabah.
Dari sisi kinerja, Superbank mencatat pertumbuhan kredit sekitar 50% pada tahun lalu. Tahun ini, perseroan menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 50%–60%.
Dengan strategi tersebut, perseroan optimistis tetap dapat mendorong penyaluran kredit, khususnya di segmen yang masih memiliki kebutuhan pembiayaan tinggi, meskipun permintaan secara industri masih cenderung tertahan.
Baca Juga: MTF Siapkan Rp 495 Miliar untuk Pelunasan Obligasi Jatuh Tempo Mei 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













