kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

BPJS Ketenagakerjaan ingin repo aset agar hasil investasi lebih gurih


Kamis, 09 Agustus 2018 / 09:29 WIB


Reporter: Ferrika Sari | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan berencana memperbesar imbal hasil aset perusahaan. Caranya melalui skema leverage asset.

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto menyebutkan, skema ini memerlukan meningkatkan imbal hasil aset perusahaan yang selama ini belum maksimal. Sampai Juni 2018, aset BPJS Ketenagakerjaan terdapat di dana kelolaan sebesar Rp 327 triliun dan diinvestasikan dalam bentuk instrumen saham, obligasi dan investasi langsung.

Untuk meningkatkan imbal hasil aset itu, perusahaan ini akan leverage aset itu dalam bentuk repo atau fasilitas repurchase agreement (repo). Repo adalah perjanjian pinjaman dana dengan menggunakan agunan saham atau surat utang sebagai objek pinjaman.

"Sekarang, aset itu idle atau menganggur, jika repo, aset itu bisa aktif dan mendatangkan untung tambahan. Seperti kami punya mobil banyak di rumah, kenapa tidak disewakan agar lebih bermanfaat," kata Agus, Rabu (8/8).

Sayang, pengelolaan aset BPJS Ketenagakerjaan melalui skema leverage asset belum diatur. BPJS Ketenagakerjaan membutuhkan payung hukum turunan berupa Peraturan Pemerintah (PP) yang disetujui Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan dan Kementerian Hukum dan HAM (Kemkumham). "Kami sudah membicarakan dengan OJK, masih didiskusikan dan perlu waktu untuk kajian," ungkap dia.

Beberapa negara sudah ada praktik repo perusahaan jaminan sosial ketenagakerjaan. Misalnya di Eropa, Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan.

Tahun ini, BPJSTK membidik imbal hasil Rp 32 triliun. Hingga Juni 2018, telah meraih Rp 15,1 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×