kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.554.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.060   58,00   0,32%
  • IDX 5.328   49,47   0,94%
  • KOMPAS100 686   6,42   0,94%
  • LQ45 536   5,41   1,02%
  • ISSI 181   1,90   1,06%
  • IDX30 301   3,09   1,04%
  • IDXHIDIV20 393   4,01   1,03%
  • IDX80 79   0,89   1,14%
  • IDXV30 109   1,50   1,39%
  • IDXQ30 99   1,11   1,13%

Dolar AS dan Euro Sama-Sama Overvalued, DBS Sorot Peluang Koreksi


Rabu, 21 Oktober 2026 / 23:09 WIB
Dolar AS dan Euro Sama-Sama Overvalued, DBS Sorot Peluang Koreksi
ILUSTRASI. ATM Bank DBS (KONTAN/Muradi)


Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. DBS Group Research dalam laporan terbarunya menyebutkan bahwa dolar Amerika Serikat (AS) masih menjadi mata uang dengan valuasi paling tinggi atau overvalued di antara mata uang utama dunia.

Walaupun begitu, kesenjangan valuasi dolar AS terhadap nilai wajarnya kini menyempit ke level terkecil sejak Januari 2023.

FX and Credit Strategist DBS Group Research, Chang Wei Liang menjelaskan tekanan terhadap dolar AS berpotensi berlanjut seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

"Koreksi saham-saham terkait AI dipicu kekhawatiran terhadap besarnya investasi dan penggunaan utang oleh perusahaan penyedia infrastruktur pusat data," jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima KONTAN, Rabu (21/10/2026).

Dia melanjutkan, kondisi tersebut menekan sentimen risiko di pasar keuangan dan mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor panjang.

Selain itu, suku bunga AS bertenor pendek juga mengalami penurunan setelah pejabat The Fed tidak memberikan sinyal kuat mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan pada Oktober.

Baca Juga: DBS: Pasar Masih Tangguh, Investor Perlu Selektif pada Kuartal IV 2026

Kombinasi perkembangan tersebut berpotensi memberikan tekanan penurunan terhadap dolar AS yang saat ini dinilai masih berada di atas nilai wajarnya.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi Amerika Serikat (AS) malah berpotensi menjadi katalis positif bagi obligasi pemerintah AS atau US Treasury.

DBS Group Research menilai, apabila optimisme terhadap prospek ekonomi dan investasi kecerdasan buatan (AI) mulai mereda, imbal hasil obligasi AS berpeluang turun.

Senior Rates Strategist DBS Group Research, Eugene Leow menyebutkan, kondisi keuangan AS masih perlu dicermati meskipun pasar saham negara tersebut sempat menguat dalam perdagangan terakhir.

Sepanjang tahun ini, sentimen investor terhadap pasar AS relatif tangguh. Bahkan, kenaikan harga energi akibat perang AS-Iran sebelumnya tidak banyak mengganggu antusiasme investor terhadap saham-saham terkait AI. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS di berbagai tenor.

"Namun, perubahan sentimen terhadap aset terkait AI kini perlu diwaspadai. Investor mulai lebih berhati-hati dalam menyikapi pembangunan pusat data dan investasi pada industri semikonduktor," jelasnya.

Menurut dia, selama imbal hasil obligasi AS dan pasar saham masih bergerak searah, yaitu ketika imbal hasil naik, saham juga menguat, perubahan sentimen dapat memicu dinamika sebaliknya.

Jika optimisme terhadap AI mereda, ekspektasi pertumbuhan ekonomi juga berpotensi menurun. Kondisi tersebut dapat mendorong penurunan imbal hasil obligasi AS, baik secara riil maupun nominal.

Baca Juga: DBS Indonesia Sebut Persaingan Bisnis Wealth Management di Indonesia Makin Ketat

Dari perspektif lintas aset, DBS menilai kenaikan imbal hasil US Treasury sebelumnya telah memberikan ruang bagi instrumen tersebut untuk kembali berfungsi sebagai aset lindung nilai ketika investor menghindari risiko atau risk-off. Pergerakan harga terkini juga mencerminkan perubahan fungsi tersebut.

"Jika kekhawatiran perlambatan ekonomi AS semakin kuat, DBS memperkirakan obligasi AS dengan tenor menengah, khususnya sekitar lima tahun, berpotensi memperoleh manfaat paling besar," ucapnya.

Dalam strategi perdagangan yang dipaparkan, DBS merekomendasikan strategi 2Y/5Y/10Y UST fly, yakni strategi yang memanfaatkan perbedaan pergerakan imbal hasil obligasi Treasury bertenor dua, lima, dan sepuluh tahun.

Rekomendasi tersebut masih menunggu titik masuk pada -2 basis poin, dengan target keuntungan -15 basis poin dan batas kerugian 2 basis poin.

Di sisi lain, DBS Group Research juga menyebutkan bahwa euro juga tercatat mengalami valuasi berlebih. Berdasarkan estimasi DBS melalui analisis DBS Equilibrium Exchange Rate (DEER), valuasi euro saat ini berada pada level tertinggi sejak 2008.

"Penguatan euro tersebut menjadi tantangan bagi daya saing Eropa, terutama ketika harus bersaing dengan renminbi China yang dinilai masih berada di bawah nilai wajarnya," kata Chang Wei.

Bahkan untuk merespons tekanan persaingan perdagangan, Uni Eropa telah menegosiasikan pengaturan dengan China guna membatasi ekspor kendaraan hibrida China ke pasar Eropa.

Uni Eropa juga mempertimbangkan penerapan kuota ekspor yang lebih luas terhadap produk-produk China lainnya.

Selain persoalan perdagangan, ketidakpastian politik di Perancis menjelang pemilihan presiden 2027 berpotensi kembali memunculkan kekhawatiran mengenai kondisi fiskal negara tersebut.

"Risiko itu dapat memicu tekanan baru terhadap obligasi pemerintah Perancis," ucapnya.

Dengan mempertimbangkan berbagai tantangan perdagangan dan fiskal tersebut, DBS masih menilai terdapat ruang bagi euro untuk mengalami moderasi atau pelemahan dari tingkat valuasinya saat ini.

Baca Juga: Peluang Investasi Semester II 2026: Mencermati Arah Alokasi DBS

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×