Reporter: Roy Franedya | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Perbankan terus berupaya memperbesar pendapatan nonbunga atau fee based income untuk menjaga kemampuan mereka mencetak laba. Ini cara ampuh ketika bank mengalami pembengkakan biaya dana akibat inflasi, sementara menaikkan bunga kredit terlalu berisiko.
Kontribusi pos pendapatan ini terlihat dalam laporan keuangan sejumlah bank kuartal II-2011. Bank Mandiri misalnya, mencatatkan pertumbuhan fee based income 68,8% menjadi Rp 6,18 triliun (year on year/yoy). Adapun pendapatan bunga bersih bank ini hanya naik 14,6% menjadi Rp 10,38 triliun.
Bank Central Asia (BCA) juga membukukan kenaikan fee based income. Pendapatan dari fee dan komisi mengalami meningkat 12,7% menjadi Rp 2,14 triliun. Peningkatan lain nya dari gain on sport & derivative melonjak 66,1% menjadi Rp 284 miliar.
Namun, total fee based income menyusut 19,2% menjadi Rp 3,24 triliun. Penyebabnya, perubahan pencatatan dalam PSAK 50/55. Dalam aturan tersebut pendapatan term deposit (TD) masuk ke pos interest income. Per Juni BCA memiliki TD Rp 45 triliun. Presiden Direktur Utama BCA, Jahja Setiaatmadja mengatakan, jika menggunakan metode perhitungan yang lama, fee based income BCA tumbuh 17%.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga mencatatkan pertumbuhan fee based income 22,84% menjadi Rp 16,65 triliun (yoy). Sedangkan Bank BNI, membukukan kenaikan 6% menjadi Rp 3,69 triliun. Sementara pendapatan bunga bersihnya hanya tumbuh 1% menjadi 6,09 triliun (yoy).
Chief Financial Officer BNI, Yap Tjay Soen mengatakan, perbankan memang aktif mengembangkan pelayanan untuk mengejar fee based income. Maklum, pendapatan dari kredit sering naik turun, mengikuti siklus ekonomi. "Fee based income lebih stabil karena setiap masyarakat pasti akan bertransaksi di bank," ujarnya pekan lalu.
Pengembangan fee based income adalah salah satu mitigasi resiko dalam memperoleh pendapatan. Bila perbankan hanya bertumpu pada pendapatan bunga bersih mereka akan mencetak kerugian ketika keran penyaluran kredit seret.
Pengamat perbankan A. Tony Prasetiantono, mengatakan, tren peningkatan fee based income sangat bagus. Di negara maju, bank mendulang lebih banyak untung dari fee based income daripada interest income. "Dampaknya, suku bunga kredit bisa lebih ditekan. Selisih antara bunga kredit dan bunga deposito menjadi menyempit karena bank kian mengandalkan pendapatan berbasis komisi," ujarnya, Senin (1/8).
Namun lanjut Tony, perbankan harus membenahi penyaluran kredit mereka. Pasalnya, pada semester pertama ini, kredit perbankan masih belum maksimal dan secara tipikal mengarap ke sektor konsumtif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













