kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Saham Bank Anjlok 15%–36%, Ini Saham Direkomendasikan Buy Efek Sudah Terlalu Murah


Sabtu, 13 Juni 2026 / 23:14 WIB
Saham Bank Anjlok 15%–36%, Ini Saham Direkomendasikan Buy Efek Sudah Terlalu Murah
ILUSTRASI. IHSG Bertahan Di Zona Hijau (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Koreksi tajam saham perbankan Indonesia yang telah turun 15%–36% secara year to date (YTD) dinilai sudah melampaui kondisi fundamental industri. Bahkan, pasar disebut telah mengantisipasi skenario penurunan laba yang cukup dalam, meski kinerja sektor perbankan secara historis masih relatif solid.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dalam riset 11 Juni 2026 menilai harga saham bank-bank besar saat ini telah mencerminkan ekspektasi negatif yang berlebihan terhadap laba tahun 2026.

“Dengan penurunan harga 15%–36% secara ytd, kami menilai valuasi bank-bank Indonesia saat ini sudah mencerminkan kontraksi laba tahun 2026. Bahkan dengan asumsi cost of equity yang didiskon, pasar mengantisipasi penurunan laba -22,8% untuk BBRI, -14,9% untuk BBCA, -12,7% untuk BMRI, dan -11,1% untuk BBNI,” tulis Victor dalam riset tersebut.

Baca Juga: Likuiditas Bank Dinilai Sehat, Ini Rekomendasi Saham Big Banks

Ia menilai asumsi tersebut terlalu konservatif jika dibandingkan dengan rekam jejak profitabilitas sektor perbankan dalam jangka panjang.

Dari sisi sensitivitas Return on Equity (ROE), riset tersebut menunjukkan bahwa bank dengan kemampuan repricing aset yang lebih kuat seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Neo Commerce Syariah(BTPS), dan Bank CIMB Niaga (BNGA) dinilai lebih tahan terhadap tekanan margin.

Kelompok bank tersebut dinilai memiliki kemampuan penyesuaian yield aset yang lebih cepat dibandingkan biaya dana, sehingga masih berpotensi mencatat ekspansi spread positif.

Sebaliknya, Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Tabungan Negara (BBTN) dinilai lebih bergantung pada efisiensi biaya dan pertumbuhan fee-based income untuk mendorong perbaikan ROE.

Dari sisi kualitas aset, BBTN disebut paling rentan terhadap penurunan kualitas kredit. Sementara bank-bank BUMN lainnya juga memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap kenaikan cost of credit (CoC) akibat struktur kredit yang lebih besar.

Dalam analisis kualitas aset dan leverage, BBCA dan BMRI kembali disorot sebagai franchise perbankan dengan kualitas tertinggi.

BBCA dinilai mampu menghasilkan imbal hasil tinggi tanpa perlu ekspansi leverage, sementara BMRI mampu meningkatkan leverage secara sehat tanpa mengorbankan kualitas aset.

Di sisi lain, BBRI, Bank Syariah Indonesia (BRIS), dan BBTN disebut sebagai bank yang paling sensitif terhadap pemulihan ekonomi, masing-masing dengan katalis berbeda: normalisasi CoC untuk BBRI, efisiensi skala untuk BRIS, dan potensi operating leverage besar untuk BBTN.

Baca Juga: Saham Big Banks Kompak Naik Sepekan, Tapi Asing Masih Aktif Lepas Saham

Victor juga menyoroti potensi tekanan Net Interest Margin (NIM) di tengah kenaikan suku bunga acuan. Meski kenaikan BI Rate secara teori dapat mendorong kenaikan yield kredit, persaingan ketat di sisi pendanaan dinilai akan membuat biaya dana meningkat lebih cepat dibandingkan yield aset.

“Dalam skenario konservatif, kenaikan biaya dana berpotensi lebih cepat dibandingkan kenaikan yield kredit, sehingga tekanan NIM masih berlanjut di sektor perbankan,” tulisnya.

Namun demikian, bank dengan basis dana murah (CASA) kuat seperti BBCA dinilai lebih mampu bertahan dibandingkan bank yang lebih bergantung pada deposito berjangka dan pendanaan wholesale.

Meski masih terdapat risiko arus modal asing keluar dan ketidakpastian ekonomi domestik, BRI Danareksa Sekuritas memutuskan menaikkan rekomendasi sektor perbankan dari Netral menjadi Overweight.

Koreksi harga yang dinilai berlebihan dibandingkan fundamental menjadi alasan utama revisi tersebut.

“Valuasi saat ini sudah terlalu konservatif terhadap prospek laba sektor. Kami melihat penurunan harga saham sudah melampaui fundamentalnya,” tulis Victor.

Dalam kondisi ini, BBCA tetap menjadi pilihan utama (top pick), diikuti BTPS, karena keduanya dinilai memiliki kualitas ROA tinggi dan struktur leverage yang lebih defensif terhadap risiko kenaikan cost of credit.

Namun demikian, risiko utama terhadap pandangan ini tetap berasal dari penurunan kualitas aset yang lebih tajam dari perkiraan serta tekanan margin yang lebih besar dari ekspektasi.

BRI Danareksa memberi rekomendasi saham perbankan sebagai berikut: 

  • BBCA diberi rekomendasi buy dengan target harga Rp 10.900 per saham
  • BMRI diberi rekomendasi buy dengan target harga Rp 6.200
  • BBNI diberi rekomendasi buy dengan target harga Rp 4.700
  • BRIS diberi rekomendasi buy dengan target harga Rp 3.100
  • BBTN diberi rekomendasi buy dengan target harga Rp 1.500
  • BTPS diberi rekomendasi buy dengan target harga Rp 1.400
  • BNGA diberi rekomendasi buy dengan target harga Rp 2.100

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×