kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.922.000   20.000   0,69%
  • USD/IDR 17.029   29,00   0,17%
  • IDX 7.095   -89,34   -1,24%
  • KOMPAS100 981   -11,73   -1,18%
  • LQ45 720   -6,96   -0,96%
  • ISSI 254   -3,11   -1,21%
  • IDX30 390   -2,97   -0,75%
  • IDXHIDIV20 485   -2,09   -0,43%
  • IDX80 111   -1,20   -1,08%
  • IDXV30 134   -0,38   -0,29%
  • IDXQ30 127   -0,82   -0,64%

Fortinet: Jasa keuangan jadi target cyber crime


Rabu, 15 Maret 2017 / 22:29 WIB
Fortinet: Jasa keuangan jadi target cyber crime


Reporter: Ghina Ghaliya Quddus | Editor: Dupla Kartini

JAKARTA. Sektor jasa keuangan masih akan menjadi target utama bagi kejahatan siber (cyber crime) pada tahun ini. Pasalnya, penjahat dunia maya semakin lihai memanfaatkan cara-cara baru untuk mengeksploitasi lingkungan jaringan yang semakin kompleks.

Regional Director Fortinet Indonesia Edwin Lim mengatakan, para penjahat di dunia maya juga mengembangkan teknik-teknik baru untuk mengelakkan keamanan dan menghindari deteksi. Bahkan, keamanan cyber telah dibahas di forum-forum global, termasuk KTT G20.

“Keamanan cyber akan tetap menjadi titik fokus bagi tindakan pemerintah pada tahun 2017, dan organisasi-organisasi harus siap untuk memenuhi standar tersebut,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (15/3)

Menurut Edwin, selama bertahun-tahun, industri jasa keuangan terlampau tertinggal bila dibandingkan dengan industri lainnya dalam hal memindahkan data ke komputasi awan alias cloud. Pasalnya, masih terdapat kekhawatiran mengenai keamanan informasi.

Dalam beberapa kasus yang berbeda, kata Edwin, penjahat siber mencuri informasi login dan password tradisional untuk melakukan transaksi penipuan. "Dengan meningkatnya jumlah dan kompleksitas serangan, lembaga jasa keuangan harus mempersiapkan diri untuk lebih baik dalam mendeteksi dan mengurangi ancaman agar dapat melindungi organisasi mereka,” ucapnya.

Ia menjelaskan, organisasi jasa keuangan sebaiknya mempertimbangkan penggelaran arsitektur Security Fabric yang menyediakan pengetahuan dan visibilitas atas semua unsur keamanan dan mengintegrasikannya menjadi satu sistem pertahanan.

Struktur ini, menurut Edwin, juga harus menyediakan API (Application Program Interface) terbuka untuk memungkinkan kemulusan dalam integrasi dan berbagi intelijen dengan jaringan pihak ketiga dan solusi keamanan lainnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×