Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja hasil investasi industri asuransi syariah mengalami tekanan pada kuartal I-2026 di tengah gejolak pasar keuangan global dan domestik yang masih berlangsung. Kondisi tersebut tercermin dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menunjukkan hasil investasi industri asuransi syariah berbalik negatif pada akhir Maret 2026.
Berdasarkan data OJK, hasil investasi industri asuransi syariah tercatat minus Rp 121,84 miliar per Maret 2026. Angka tersebut berbanding terbalik dengan posisi Februari 2026 yang masih mencatatkan surplus sebesar Rp 545,24 miliar.
Meski industri secara keseluruhan mengalami tekanan, sejumlah perusahaan asuransi syariah masih mampu membukukan pertumbuhan hasil investasi melalui strategi pengelolaan portofolio yang konservatif dan terdiversifikasi.
Presiden Direktur PT Zurich General Takaful Indonesia (Zurich Syariah), Hilman Simanjuntak, mengungkapkan bahwa hasil investasi perusahaan tumbuh lebih dari 15% secara tahunan (year on year/YoY) hingga Maret 2026. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, hasil investasi Zurich Syariah mencapai Rp 62,96 miliar.
Baca Juga: Asing Gempur Saham Big Banks, BBCA Tertekan di Level Terendah Sejak Oktober 2021
“Peningkatan hasil investasi juga didukung oleh kenaikan premi Zurich Syariah, yang mencerminkan penguatan fundamental bisnis perusahaan,” kata Hilman kepada Kontan, Kamis (28/5).
Menurut Hilman, kinerja investasi perusahaan juga ditopang oleh strategi pengelolaan portofolio yang disiplin di tengah fluktuasi pasar. Ia menyebutkan bahwa pengelolaan investasi Zurich Syariah masih relatif terjaga dengan baik hingga saat ini.
Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) masih menjadi instrumen utama dalam portofolio investasi Zurich Syariah. Instrumen tersebut dinilai mampu memberikan stabilitas sekaligus imbal hasil yang menarik serta sesuai dengan kebutuhan pengelolaan aset dan liabilitas jangka panjang perusahaan.
“Selain itu, kami juga melakukan diversifikasi ke instrumen lain, seperti deposito syariah dan obligasi korporasi syariah, untuk mengoptimalkan hasil investasi perusahaan,” katanya.
Untuk menjaga kinerja investasi hingga akhir tahun, Zurich Syariah menerapkan strategi alokasi aset yang mengedepankan instrumen stabil dan likuid. Perusahaan juga terus mencermati perkembangan makroekonomi global maupun ketegangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi pasar keuangan.
Volatilitas Pasar Tekan Kinerja Investasi
Di sisi lain, PT Prudential Sharia Life Assurance (Prudential Syariah) menilai tekanan terhadap hasil investasi industri asuransi syariah pada kuartal I-2026 tidak terlepas dari volatilitas pasar yang masih tinggi.
Chief Customer Marketing Officer PT Prudential Sharia Life Assurance, Vivin Arbianti Gautama, mengatakan kondisi tersebut tercermin dari pergerakan pasar saham syariah sepanjang kuartal pertama tahun ini.
“Hal ini menunjukkan bahwa instrumen berbasis ekuitas mengalami penyesuaian yang lebih signifikan dibandingkan instrumen lainnya,” ujar Vivin kepada Kontan, Jumat (22/5/2026).
Baca Juga: Rupiah Melemah Berpotensi Mendorong Bisnis Hedging Perbankan
Ia menjelaskan bahwa Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) mencatatkan pelemahan sekitar 5%-6% secara kuartalan, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi yang lebih dalam.
Meski demikian, instrumen pendapatan tetap syariah seperti sukuk masih menunjukkan ketahanan yang relatif baik. Menurut Vivin, sukuk mampu mencatatkan imbal hasil kompetitif di kisaran 5,5%-5,9%, sehingga membantu menjaga keseimbangan portofolio investasi industri.
Kondisi tersebut dinilai penting bagi perusahaan asuransi syariah yang mengedepankan pengelolaan dana jangka panjang dan prinsip kehati-hatian dalam investasi.
Vivin mengakui bahwa hasil investasi Prudential Syariah pada kuartal I-2026 turut dipengaruhi dinamika pasar keuangan, terutama meningkatnya volatilitas pada instrumen saham syariah sejak awal tahun.
Selain itu, sentimen global yang masih berhati-hati turut memengaruhi pasar domestik, termasuk arus dana investor dan pergerakan nilai tukar rupiah. Penyesuaian juga terjadi pada instrumen pendapatan tetap syariah akibat perubahan tingkat imbal hasil (yield) di pasar sukuk domestik yang berdampak terhadap valuasi investasi.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Prudential Syariah terus menjaga keseimbangan portofolio melalui diversifikasi investasi, penguatan asset liability management (ALM), serta optimalisasi penempatan dana pada instrumen yang lebih stabil.
Saat ini, instrumen pendapatan tetap syariah seperti sukuk pemerintah dan deposito syariah masih mendominasi portofolio investasi Prudential Syariah. Instrumen tersebut dinilai lebih sesuai untuk pengelolaan dana jangka menengah hingga panjang karena menawarkan tingkat stabilitas yang lebih baik.
Baca Juga: Tingkat Bunga Penjaminan LPS Tetap Sebesar 3,50%, Berlaku hingga September 2026
“Perusahaan juga melakukan penempatan pada saham syariah secara selektif untuk menjaga potensi imbal hasil jangka panjang, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan kondisi pasar yang dinamis,” katanya.
Ke depan, Prudential Syariah akan terus menerapkan strategi diversifikasi pada berbagai instrumen investasi syariah, mulai dari saham syariah, sukuk, hingga instrumen pasar uang syariah.
Perusahaan juga akan memperkuat pendekatan selektif dalam pemilihan aset dengan fokus pada instrumen yang memiliki fundamental kuat dan prospek pertumbuhan jangka panjang yang positif.
Dengan kondisi pasar yang masih dibayangi ketidakpastian global, strategi diversifikasi dan dominasi instrumen pendapatan tetap syariah diperkirakan akan tetap menjadi andalan pelaku industri untuk menjaga stabilitas hasil investasi hingga akhir 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













