kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   25.000   0,90%
  • USD/IDR 17.900   47,00   0,26%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Rupiah Melemah Berpotensi Mendorong Bisnis Hedging Perbankan


Sabtu, 30 Mei 2026 / 22:15 WIB
Rupiah Melemah Berpotensi Mendorong Bisnis Hedging Perbankan
ILUSTRASI. Permintaan layanan lindung nilai alias hedging perbankan oleh nasabah kelas atas terus meningkat seiring pelemahan nilai tukar rupiah. (ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA)


Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Permintaan layanan lindung nilai alias hedging perbankan oleh nasabah kelas atas terus meningkat seiring pelemahan nilai tukar rupiah.

Hedging merupakan layanan yang diberikan oleh bank kepada nasabah, baik individu maupun korporasi untuk menjaga nilai asetnya tetap sama meskipun terjadi fluktuasi mata uang. Ibaratnya, hedging ini adalah asuransi untuk aset nasabah.

Untuk diketahui, per Jumat (29/5/2026), rupiah ditutup melemah ke level Rp 17.881 per dolar Amerika Serikat. Tren pelemahan ini dinilai dapat menjadi peluang perbankan untuk memacu bisnis hedging.

Investor Relation and Research (IRRD) Economist Bank Tabungan Negara (BTN) Myrdal Gunarto menilai, permintaan hedging otomatis naik pesat di tengah pelemahan rupiah, terutama dari perusahaan di sektor yang berkaitan dengan ekspor-impor.

Baca Juga: Tingkat Bunga Penjaminan LPS Tetap Sebesar 3,50%, Berlaku hingga September 2026

"Bisnis hedging ini tentu peluang yang sangat menjanjikan bagi bank, apalagi kondisinya seperti sekarang penuh dengan ketidakpastian," kata Myrdal saat dihubungi, Kamis (28/5/2026).

Menurut Myrdal, hedging saat ini sudah menjadi keharusan bagi perusahaan yang bergerak di sektor seperti minyak dan gas, manufaktur, serta tekstil dan pangan yang memanfaatkan bahan baku dari luar negeri.

Ia bilang, hedging dibutuhkan oleh perusahaan di sektor-sektor tersebut untuk menjaga transaksi lintas negara jadi lebih aman dari perubahan nilai tukar, sehingga keuntungan pun tetap terjaga.

Menurutnya salah satu yang membedakan kondisi pelemahan rupiah tahun ini dengan tahun 1998 adalah sistem hedging bank yang sudah optimal. Ini membuat dana nasabah korporasi menjadi lebih aman dan memungkinkan ekspansi bisnis.

Untuk itu, Myrdal menyebut bank yang sudah memiliki sistem hedging yang optimal seharusnya bisa menangkap peluang ini untuk meningkatkan pendapatan komisi alias fee-based income.

PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) misalnya yang semakin fokus memacu pertumbuhan FBI dengan salah satunya melalui bisnis hedging. 

Baca Juga: BRI Luncurkan Qita, Bank RI Masuk Era Multi-Aplikasi Digital Banking

Direktur Utama SMBC Indonesia, Henoch Munandar bilang, permintaan hedging karena pelemahan rupiah sekarang memang jauh lebih tinggi jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Saya bicara dengan perusahaan-perusaan swasta, mereka dulu tidak melakukan hedging. Nah tapi era itu sudah berkurang jauh," kata Henoch.

Untuk bisa mendukung layanan hedging ini, Henoch memastikan bank akan melakukan stress test untuk mengukur kemampuan menjaga nilai tukar. Ini juga dilakukan untuk memitigasi dampak kenaikan BI Rate.

Henoch bilang, SMBC Indonesia memang sedang fokus meningkatkan pemasukan FBI. Menurutnya, bank saat ini sudah tidak bisa lagi hanya bergantung pada pendapatan bunga.

Dari laporan keuangan per April 2026, pendapatan komisi/provisi/fee dan administrasi SMBC meningkat 6,43% yoy menjadi Rp 327,86 miliar.

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga menyampaikan pendapat senada. EVP Corporate Communication BCA, Hera F. Heryn bilang, permintaan hedging akan sangat bergantung dari kebutuhan nasabah mengamankan nilai asetnya.

Hera memastikan, BCA selalu siap memberi layanan hedging. Ia juga menyebut pendapatan dari layanan hedging ini turut berkontribusi positif meningkatkan FBI banknya.

Dari laporan keuangannya per April 2026, pendapatan komisi/provisi/fee dan administrasi BCA tumbuh 9,51% yoy menjadi Rp 6,72 triliun.

"BCA berkomitmen melayani berbagai kebutuhan nasabah, termasuk kebutuhan lindung nilai dari risiko nilai tukar," kata Hera.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×