Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah gejolak pada pasar saham domestik, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mengumumkan rencana untuk melanjutkan aksi korporasi pembelian kembali (buyback) saham.
Pelaksanaan buyback saham ini dilakukan secara terukur dengan memperhatikan kondisi pasar, kepentingan pemegang saham, serta kecukupan permodalan untuk mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Sebelumnya, BNI melalui keterbukaan informasi pada Juli 2026 telah menyampaikan rencana buyback dengan periode pelaksanaan hingga 26 Oktober 2026. Berdasarkan prospektus yang diterbitkan, nilai buyback maksimal mencapai Rp 627 miliar. Jumlah tersebut tak melebihi 20% modal disetor.
Sekedar mengingatkan, saham BNI ditutup menguat 8,78% ke level Rp 3.220 per saham pada Selasa (20/10/2026). Dengan posisi ini, BBNI masih cetak koreksi 26,32% sepanjang tahun 2026 (YTD).
Baca Juga: BCA Perkuat Bisnis Cash Management, Jumlah Nasabah Tumbuh 3%
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menjelaskan, sejalan dengan perkembangan kondisi pasar, pihaknya senantiasa mencermati berbagai opsi strategis, termasuk peluang untuk memperpanjang periode pelaksanaan buyback, dengan tetap memperhatikan ruang pembelian kembali saham sebagaimana telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
"Langkah ini mencerminkan keyakinan kami terhadap fundamental dan prospek bisnis BNI yang tetap kuat. Pelaksanaan buyback dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan kecukupan permodalan perseroan, serta tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan tata kelola perusahaan yang baik," ujar Okki dalam keterangan tertulis, Selasa (20/10/2026).
Fundamental bisnis BNI tercermin dari pertumbuhan kinerja hingga Agustus 2026. Total aset mencapai Rp 1.434,1 triliun, meningkat 24,8% secara tahunan (Year-on-Year/YoY). Penyaluran kredit tumbuh 27,1% YoY menjadi Rp 977,2 triliun, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) meningkat 29,4% YoY menjadi Rp 1.124,7 triliun.
Dari sisi profitabilitas, BNI membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp 28,9 triliun, tumbuh 14,3% YoY. Laba bersih tercatat sebesar Rp 14,33 triliun, meningkat 6,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja tersebut menjadi landasan bagi BNI untuk tetap menjaga kapasitas pertumbuhan dengan mempertimbangkan kepentingan pemegang saham, kebutuhan pengembangan bisnis, serta kecukupan modal BBNI.
Keyakinan BNI terhadap prospek pertumbuhan bisnis juga ditopang oleh kondisi makroekonomi Indonesia yang tetap solid. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,45% secara tahunan pada semester I-2026, tertinggi sejak 2013 di luar periode pandemi Covid-19.
Capaian tersebut juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi negara-negara G20 yang sebesar 2,0%. Sementara itu, inflasi domestik tetap terkendali di level 3,28% YoY pada September 2026, masih berada dalam kisaran sasaran yang ditetapkan pemerintah dan Bank Indonesia.
Sejalan dengan arah transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia, BNI terus memperkuat tata kelola, disiplin bisnis, dan orientasi jangka panjang dalam menjalankan setiap langkah strategis perseroan.
BNI akan terus mencermati perkembangan pasar dengan tetap menjaga pertumbuhan yang sehat, kecukupan modal, serta kepentingan pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













