Reporter: Ade Priyatin | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri reasuransi dinilai perlu memperkuat kesiapan dalam menghadapi potensi lonjakan klaim akibat meningkatnya frekuensi bencana alam.
Pengamat Asuransi, Irvan Rahardjo menilai bencana alam bisa memperbesar eksposur risiko reasuransi secara signifikan.
"Kenaikan frekuensi bencana alam secara langsung memperbesar beban klaim asuransi harta benda dan kendaraan, yang pada akhirnya menaikan eksposur bagi industri reasuransi," ujarnya kepada Kontan, Rabu (26/8/26).
Baca Juga: Kredit UMKM Mulai Pulih, Bank Besar Genjot Penyaluran hingga Akhir 2026
Di sisi lain, bencana hidrometeorologi seperti banjir dan cuaca ekstrem maupun bencana geologi seperti gempa bumi bisa memicu klaim massal secara serentak.
Kondisi ini lantas mengalirkan beban klaim dari perusahaan asuransi kepada lapis perlindungan reasuransi nasional maupun global.
Selain itu, Irvan menyoroti makin seringnya risiko sekunder atau secondary perils, seperti banjir lokal dan angin puting beliung yang mana akumulasi kerugian dari risiko tersebut kini dapat menyaingi bencana besar tradisional sehingga mendorong reasuradur mengevaluasi kembali struktur perlindungan.
Di tengah kondisi tersebut, reasuradur global juga kian selektif dalam memberikan kapasitas perlindungan terhadap risiko iklim. Hal ini berimbas pada pengetatan persyaratan serta potensi kenaikan tarif premi reasuransi.
Namun, menurutnya kapasitas reasuransi nasional secara umum masih cukup memadai untuk menyerap potensi lonjakan klaim akibat bencana alam. Meski begitu, industri tetap perlu menerapkan prinsip kehati-hatian secara ketat.
sejumlah langkah perlu dilakukan industri asuransi untuk menghadapi potensi lonjakan klaim, antara lain memperkuat cadangan teknis, memperluas cakupan reasuransi, serta menyederhanakan prosedur klaim.
Sejalan dengan itu, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan mengatakan industri perlu memperkuat sejumlah aspek secara bersamaan untuk menghadapi kemungkinan lonjakan klaim akibat bencana alam.
Salah satunya melalui peningkatan kualitas dan granularitas data exposure, termasuk lokasi aset, nilai pertanggungan, jenis risiko, serta konsentrasi exposure pada wilayah tertentu.
"Data yang baik menjadi dasar untuk mengukur akumulasi risiko secara lebih akurat," tegasnya kepada Kontan, Rabu (26/8/26).
Selain itu, industri perlu memperbarui catastrophe modelling, scenario analysis, dan stress testing untuk mengukur kemampuan perusahaan menghadapi suatu kejadian bencana besar maupun beberapa kejadian katastrofik dalam periode yang berdekatan.
Budi juga menilai perusahaan perlu mengevaluasi kecukupan retensi, limit treaty, reinstatement, serta perlindungan retrocession agar struktur reasuransi sesuai dengan profil risiko yang ditanggung.
Lebih lanjut, kesiapan penanganan klaim juga menjadi perhatian seraya memastikan koordinasi antara perusahaan asuransi, reasuransi, broker, dan loss adjuster terjaga dan disiapkan sebelum bencana terjadi agar proses asesmen dan penyelesaian klaim bisa dilakukan dengan cepat dan terkoordinasi.
Adapun dalam skala yang lebih luas, Budi berpendapat Indonesia harus memperkuat ekosistem pembiayaan risiko bencana untuk memperkecil protection gap. Menurutnya, tidak seluruh risiko harus ditanggung melalui satu instrumen, melainkan dapat menggunakan pendekatan risk layering melalui kombinasi dana cadangan atau retensi, asuransi dan reasuransi, serta instrumen seperti pooling dan asuransi parametrik untuk risiko yang sesuai.
Dengan begitu, tantangan industri reasuransi menghadapi bencana alam bukan sekadar memastikan kapasitas reasuransi cukup untuk menghadapi satu kejadian bencana saja. Namun, memastikan agar makin banyak risiko yang terlindungi, protection gap makin kecil, dan pada saat yang sama pertumbuhan insured exposure tetap diimbangi oleh kapasitas, permodalan, data, modelling, serta manajemen akumulasi risiko yang memadai.
Baca Juga: Hingga Juni 2026, Pembiayaan UMKM Bank Sampoerna Capai Sekitar Rp6,2 Triliun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














