Reporter: Ferry Saputra | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan atau BI rate di level 5,75%. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menilai ditahannya BI rate di level 5,75% belum menjadi momentum kuat bagi multifinance untuk menerbitkan surat utang.
"Ditahannya BI Rate di level 5,75% memang memberikan kepastian yang lebih baik bagi issuer, tetapi belum dapat dikatakan sebagai momentum yang kuat untuk mempercepat penerbitan obligasi," ucap Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin kepada Kontan, Selasa (25/8).
Ahmad menambahkan, keputusan hold mengurangi risiko kenaikan biaya dana lebih lanjut dalam jangka sangat pendek, tetapi level biaya pendanaan tetap jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Baca Juga: AMORA Special Offer 2026 Lengkapi Strategi Perencanaan Kekayaan Nasabah BRI Private
Dalam kondisi seperti itu, Ahmad bilang penerbitan kemungkinan tetap dilakukan secara selektif, terutama oleh perusahaan multifinance dengan kebutuhan refinancing, rating kuat, dan akses investor yang baik. Dia bilang kebutuhan tersebut cukup besar karena surat utang multifinance yang jatuh tempo pada semester II-2026 mencapai Rp 17,73 triliun.
"Saya memperkirakan perusahaan dengan biaya dana lebih tinggi dapat menunda penerbitan atau menyesuaikan tenor, sedangkan perusahaan dengan profil kredit kuat lebih memiliki ruang untuk masuk pasar," katanya.
Ahmad mengatakan beberapa perusahaan kemungkinan masih memonitor kondisi pasar dan pergerakan BI Rate sebelum merealisasikan rencana penerbitannya. Selain itu, dia bilang perusahaan multifinance lain ada juga yang tetap membuka peluang penerbitan, tetapi mempertimbangkan kondisi pasar, likuiditas, dan kebutuhan bisnis.
"Oleh karena itu, skenario yang lebih mungkin bukan penerbitan berhenti, tetapi juga belum terjadi gelombang penerbitan baru," tuturnya.
Ahmad menyampaikan stabilnya BI Rate justru membantu issuer memperoleh benchmark pricing yang lebih jelas, tetapi momentum penerbitan akan menjadi jauh lebih kuat apabila stabilitas tersebut disertai penurunan yield pasar atau ekspektasi penurunan suku bunga.
Dia mengatakan selama kupon yang diminta investor masih tinggi, sedangkan pertumbuhan piutang pembiayaan industri relatif moderat, multifinance tetap memiliki insentif untuk membandingkan obligasi dengan pinjaman bank maupun sumber dana internal sebelum masuk ke pasar.
Sebagai informasi, Pefindo mencatat, penerbitan surat utang multifinance mencapai Rp 14,57 triliun per Juli 2026. Nilainya turun 41,8%, jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 25,03 triliun.
Baca Juga: Bisnis Makin Digital, Bank Berlomba Perkuat Layanan untuk Nasabah Korporasi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














