kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.961   48,00   0,27%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Ini penjelasan AAUI kenapa premi asuransi harta benda turun


Rabu, 07 Maret 2018 / 21:08 WIB
ILUSTRASI. Asuransi Properti


Reporter: Harry Muthahhari | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) perolehan premi industri asuransi umum di segmen harta benda turun 5% sepanjang tahun 2017. 

Pada tahun 2017 pendapatan premi segmen harta benda sebesar Rp 18,29 triliun, turun 5% dari tahun 2016 yang sebesar Rp 19,24 triliun. 

Direktur Eksekutif AAUI Dody AS Dalimunthe menjelaskan beberapa sektor harta benda khususnya properti memiliki risiko yang tinggi seperti industri kimia. Risiko itu menyebabkan beberapa perusahaan asuransi umum mundur.

Dody mengatakan ada tiga jenis risiko untuk segmen properti yang termasuk dalam segmen harta benda. Untuk low risk seperti daerah perumahan, medium risk untuk daerah yang rawan kecelakaan karena ada pembangunan konstruksi, dan  high risk seperti industri kimia.

“Itu pasti beda-beda kapasitasnya,” kata Dody saat dihubungi Kontan.co.id pada Rabu (7/3).

Oleh karena itu, perusahaan asuransi umum biasanya melakukan risk improvement terhadap beberapa segmen high risk tersebut. 

Contohnya, jika wilayah itu sering dilalui banjir maka pihak asuransi akan merekomendasikan untuk membuat saluran air dan resapan air.

Lebih lanjut Dody bilang jika pihak tertanggung tidak siap untuk melakukan apa yang direkomendasikan pihak asuransi, maka asuransi tidak akan siap untuk meng-cover risiko tersebut.

“Kalau belum siap, kami menarik diri. Karena kalau belum siap kan risikonya di depan mata,” ujar Dody.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×