Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Risiko terhadap profitabilitas perbankan mulai terlihat seiring upaya agresif bank menggenjot penyaluran kredit. Langkah ekspansi ini pada gilirannya berpotensi menggerus pendapatan bunga (interest income) bank, tercermin dari tren penurunan margin pendapatan bunga bersih atau net interest margin (NIM).
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), NIM industri perbankan turun dari 4,62% pada Desember 2024 menjadi 4,56% pada Desember 2025. Pada 2026, tekanan terhadap NIM diperkirakan masih berlanjut, terutama pada kelompok Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang mendapat mandat penyaluran kredit untuk mendukung program strategis pemerintah.
BNI Waspadai Tekanan NIM hingga 30 bps
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menjadi salah satu bank yang mengantisipasi risiko tersebut. Pada 2025, BNI mampu menjaga NIM di level 3,8%. Namun untuk 2026, perseroan memasang target lebih konservatif di kisaran 3,5%–3,8%.
Baca Juga: Bisnis Wealth Management Melejit, Strategi Bank Amankan Cuan di 2026?
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menjelaskan, target tersebut mencerminkan potensi penurunan hingga 30 basis poin (bps) dibanding capaian tahun sebelumnya. Salah satu faktor utama adalah masuknya kredit Agrinas untuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dengan tenor enam tahun dan bunga 6% per tahun.
Struktur pembiayaan kredit tersebut membuat ruang margin menjadi terbatas. Dengan biaya dana (cost of fund/COF) mencapai 3,8%, NIM yang dihasilkan hanya sekitar 2,2%, jauh di bawah NIM konsolidasian BNI.
Di sisi lain, tekanan juga datang dari tren suku bunga rendah serta persaingan yang ketat di pasar kredit korporasi. “Persaingan di segmen wholesale masih berlangsung cukup ketat,” ujar Hussein dalam pertemuan analis pekan lalu.
BNI juga mencermati potensi penarikan dana oleh Kementerian Keuangan. Bank ini sebelumnya menerima suntikan likuiditas dari dana saldo anggaran lebih (SAL) yang dijadwalkan dikembalikan pada Maret 2026.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BNI akan memperkuat penghimpunan dana murah (CASA). Sepanjang 2025, BNI berhasil menghimpun dana murah Rp 725,96 triliun, tumbuh 28,9% secara tahunan.
Bank Mandiri Targetkan NIM Lebih Moderat
Tekanan serupa juga diantisipasi PT Bank Mandiri Tbk. Setelah mencatat NIM 4,89% pada 2025, Bank Mandiri menargetkan NIM di kisaran 4,6%–4,8% pada 2026. Penurunan ini melanjutkan tren koreksi dari posisi 5,15% pada 2024.
Baca Juga: AI Agents Masuk Perbankan, Hibank Gunakan Teknologi AWS, Apa Dampak ke Nasabah?
Dalam materi paparan kinerja, manajemen menyebut target yang lebih landai ini sebagai langkah antisipatif terhadap persaingan ketat di segmen wholesale dan potensi penurunan suku bunga acuan.
“Itu juga memperhitungkan perkiraan penurunan suku bunga kebijakan hingga 50 bps tahun ini,” demikian tertulis dalam presentasi perseroan, dikutip Selasa (10/2/2026).
BTN Andalkan Kredit Program Perumahan
Berbeda dengan BNI dan Mandiri, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) justru optimistis mampu menjaga bahkan meningkatkan NIM pada 2026. Optimisme ini didasarkan pada kinerja 2025 yang solid.
BTN mencatat pertumbuhan laba 16,4% secara tahunan menjadi Rp 3,5 triliun. NIM pun melonjak menjadi 4,2% dari sebelumnya 2,9%. Kenaikan ini didorong lonjakan pendapatan bunga bersih 57,5% yoy menjadi Rp 18,42 triliun.
Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bunga 23% yoy menjadi Rp 36,34 triliun, sementara beban bunga hanya naik tipis 0,4% yoy menjadi Rp 17,91 triliun.
Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu menjelaskan capaian tersebut tidak lepas dari masifnya penyaluran Kredit Program Perumahan (KPP) yang memiliki imbal hasil tinggi karena sebagian besar bunganya disubsidi pemerintah.
Tahun ini, KPP tetap menjadi andalan untuk menjaga margin. “Kami targetnya bisa menyalurkan di kisaran Rp 15 triliun – Rp 17 triliun, lumayan dari sisi pendapatannya,” jelas Nixon setelah paparan kinerja BTN, Senin (9/2/2026).
CIMB Niaga Bidik Perbaikan NIM
Dari kelompok bank swasta, PT Bank CIMB Niaga Tbk melihat peluang perbaikan NIM pada 2026. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyampaikan bahwa tekanan NIM pada 2025 terjadi karena penurunan yield kredit yang lebih besar dibanding penurunan COF.
“Yield kredit turun lebih tinggi dari penurunan COF,” kata Lani kepada Kontan, Selasa (10/2/2026).
Baca Juga: Laba Bank Mega Melonjak 28% pada 2025, Ditopang Fee Based Income
Secara tahunan, NIM CIMB Niaga turun sekitar 10 bps dari posisi 4,40% pada Desember 2024. Untuk 2026, CIMB Niaga menargetkan NIM tetap berada di atas 4% seiring strategi penyesuaian portofolio kredit dan pengelolaan biaya dana.
OJK: Pembiayaan Program Pemerintah Punya Dua Sisi
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Erdiana Rae menilai pembiayaan program strategis pemerintah perlu dilihat dari dua perspektif. Di satu sisi, penugasan ini membantu mendorong pertumbuhan kredit industri yang sempat melambat.
Sejalan dengan mulai dijalankannya penugasan pembiayaan pada pertengahan tahun, pertumbuhan kredit industri tercatat meningkat pesat di akhir 2025.
Adapun terkait tekanan margin, OJK menilai pergerakannya sangat dipengaruhi kondisi pasar dan dinamika global maupun domestik.
“Memang kami harus melihat kondisi global dan domestik juga. Kami juga berupaya menangani isu lain yang terkait, misalnya special rate yang sebagian sudah teratasi,” ujar Dian saat ditemui Kontan, Selasa (10/2/2026).
Dengan dinamika tersebut, 2026 menjadi tahun ujian bagi perbankan dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit untuk mendukung program pemerintah dan upaya mempertahankan profitabilitas melalui pengelolaan margin bunga yang optimal.
Selanjutnya: Peringatan 12 Februari: Ini 4 Momen Global yang Tak Banyak Diketahui!
Menarik Dibaca: IHSG Berpeluang Menguat, Cek Rekomendasi Saham BRI Danareksa Sekuritas Rabu (11/2)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













