kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.622.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 18.035   52,00   0,29%
  • IDX 6.186   -10,65   -0,17%
  • KOMPAS100 807   -4,25   -0,52%
  • LQ45 613   -2,23   -0,36%
  • ISSI 214   -0,32   -0,15%
  • IDX30 345   -1,11   -0,32%
  • IDXHIDIV20 427   -1,32   -0,31%
  • IDX80 92   -0,44   -0,48%
  • IDXV30 116   -0,47   -0,40%
  • IDXQ30 110   -0,53   -0,47%

Kredit Bank Berpeluang Jadi Alternatif di Tengah Kenaikan Yield Obligasi Korporasi


Senin, 27 Juli 2026 / 18:27 WIB
Kredit Bank Berpeluang Jadi Alternatif di Tengah Kenaikan Yield Obligasi Korporasi
ILUSTRASI. Kenaikan suku bunga yang mendorong naiknya imbal hasil (yield) obligasi korporasi mulai mengubah peta persaingan sumber pendanaan bagi dunia usaha (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kenaikan suku bunga yang mendorong naiknya imbal hasil (yield) obligasi korporasi mulai mengubah peta persaingan sumber pendanaan bagi dunia usaha. Di tengah biaya penerbitan obligasi yang semakin mahal, kredit perbankan dinilai kembali menjadi opsi yang lebih menarik bagi sejumlah perusahaan.

Meski demikian, peluang tersebut belum tentu berujung pada lonjakan penyaluran kredit. Perbankan masih menghadapi tantangan likuiditas dan tingginya biaya dana (cost of fund), sehingga tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan pembiayaan kepada korporasi.

Data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menunjukkan, total penerbitan obligasi korporasi nasional sepanjang semester I-2026 mencapai Rp 87,35 triliun. Nilai tersebut turun 3,91% secara tahunan (year-on-year/yoy), mencerminkan mulai melambatnya aktivitas pendanaan melalui pasar obligasi.

Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo Suhindarto menjelaskan, salah satu penyebab penurunan penerbitan obligasi adalah meningkatnya biaya pendanaan akibat kenaikan suku bunga acuan selama kuartal II-2026.

Bagi obligasi korporasi dengan peringkat (rating) relatif rendah, khususnya kategori A maupun BBB, yield yang harus ditawarkan kepada investor cenderung lebih tinggi dibandingkan bunga kredit bank. Kondisi ini membuat perusahaan harus menanggung biaya dana yang lebih besar apabila memilih menerbitkan obligasi dibanding mengajukan pinjaman ke perbankan.

Baca Juga: Pelemahan Pasar Modal Tekan Hasil Investasi Asuransi Syariah

“Sehingga mungkin memang akhirnya membuat penerbitan lebih selektif di tahun ini,” ujar Darto dalam konferensi pers daring, Rabu (22/7/2026).

Permintaan Kredit Berpotensi Naik, tetapi Tidak Masif

Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai, secara teori kenaikan yield obligasi dapat mendorong pergeseran sumber pendanaan korporasi dari pasar modal menuju perbankan. Namun, dampaknya terhadap peningkatan kredit investasi maupun modal kerja belum tentu langsung terlihat.

Menurutnya, meskipun perusahaan mulai melirik pinjaman bank, industri perbankan saat ini juga menghadapi tekanan biaya dana yang tinggi. Akibatnya, bank memperketat penerapan prinsip prudential banking sehingga tidak seluruh permintaan pembiayaan akan langsung dikabulkan.

Persaingan menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) melalui deposito berbunga tinggi juga membuat ruang bank untuk menurunkan bunga kredit menjadi semakin terbatas.

Dalam kondisi tersebut, bank cenderung memprioritaskan penyaluran kredit kepada korporasi besar dengan fundamental kuat dan profil risiko rendah demi menjaga kualitas aset serta meminimalkan potensi kredit bermasalah.

Rahma memperkirakan, kenaikan yield obligasi memang dapat meningkatkan permintaan kredit, terutama untuk kebutuhan modal kerja jangka pendek dan perusahaan yang membutuhkan kepastian likuiditas operasional.

Sebaliknya, permintaan kredit investasi diperkirakan masih tertahan karena pelaku usaha masih bersikap hati-hati di tengah tingginya biaya modal secara keseluruhan.

“Ekspansi kredit investasi korporasi baru akan bergerak ekspansif secara masif ketika ada sinyal kuat pelonggaran moneter dari bank sentral yang menstabilkan kembali biaya dana di pasar keuangan,” tutur Rahma kepada Kontan, Minggu (26/7/2026).

Perbankan Melihat Peluang Pertumbuhan Kredit Korporasi

Pandangan serupa disampaikan Direktur OK Bank Efdinal Alamsyah. Menurutnya, kenaikan yield obligasi dapat membuka peluang pertumbuhan kredit korporasi karena pendanaan melalui pasar obligasi menjadi relatif lebih mahal.

Baca Juga: Pelemahan Pasar Modal Tekan Hasil Investasi Asuransi Syariah

“Kondisi tersebut dapat mendorong sebagian perusahaan untuk kembali memanfaatkan fasilitas kredit investasi maupun modal kerja dari perbankan,” kata Efdinal saat dihubungi, Jumat (24/7/2026).

Meski demikian, ia menilai dampaknya tidak akan terlalu besar. Sebab, keputusan pendanaan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh biaya dana, tetapi juga mempertimbangkan prospek bisnis, kebutuhan likuiditas, fleksibilitas tenor, hingga strategi struktur permodalan.

Efdinal menambahkan, hingga akhir 2026 prospek kredit korporasi masih tetap positif apabila aktivitas investasi terus meningkat dan stabilitas ekonomi nasional terjaga. Di sisi lain, arah kebijakan suku bunga acuan dan kondisi likuiditas perbankan tetap akan menjadi faktor penting yang memengaruhi permintaan kredit.

Segmen Korporasi Masih Dinilai Paling Prospektif

Sementara itu, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menilai segmen korporasi masih menjadi motor utama pertumbuhan kredit perbankan ke depan.

Namun, realisasi permintaan pembiayaan tetap bergantung pada optimisme dunia usaha terhadap prospek ekonomi nasional.

“Tergantung perbaikan daya beli masyarakat dan stabilitas peraturan,” sebut Lani.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×