Reporter: Secillia Hafifah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan kredit konsumsi perbankan masih tertinggal dibandingkan kredit perbankan secara keseluruhan. Kondisi ini turut mempengaruhi kinerja penjaminan kredit konsumtif, meski industri penjaminan masih mencatat pertumbuhan positif.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia (Asippindo) Agus Supriadi mengatakan, aktivitas penjaminan memiliki keterkaitan langsung dengan penyaluran kredit oleh perbankan maupun lembaga pembiayaan.
Berdasarkan data OJK, kredit konsumsi per Agustus 2026 tumbuh 5,07% secara tahunan. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan yang mencapai 13,65%.
Baca Juga: Sumber Pendanaan Modal Ventura Didominasi Pinjaman Dalam Negeri
"Perlambatan pertumbuhan kredit konsumsi tentunya turut mempengaruhi kinerja penjaminan pada segmen tersebut, mengingat aktivitas penjaminan memiliki keterkaitan langsung dengan penyaluran kredit oleh perbankan maupun lembaga pembiayaan," kata Agus kepada Kontan, Jumat (9/10/2026).
Menurutnya, pertumbuhan kredit konsumsi masih menghadapi tantangan, terutama akibat kehati-hatian masyarakat dalam mengambil pembiayaan baru serta selektivitas lembaga keuangan dalam menyalurkan kredit.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta menekan kinerja industri penjaminan secara keseluruhan. Hal ini tercermin dari Imbal Jasa Penjaminan (IJP) industri yang masih tumbuh 9,44% secara tahunan hingga Agustus 2026.
Agus menilai, prospek penjaminan kredit konsumtif ke depan masih terbuka, meskipun pertumbuhannya dalam jangka pendek diperkirakan lebih moderat sejalan dengan kondisi daya beli masyarakat dan perkembangan kualitas kredit.
Tekanan daya beli perlu diantisipasi karena dapat mempengaruhi kemampuan pembayaran debitur dan berpotensi meningkatkan klaim penjaminan.
"Oleh karena itu, industri penjaminan perlu semakin selektif dalam melakukan penilaian risiko, memperkuat kerja sama dengan lembaga keuangan, serta memastikan pertumbuhan bisnis tetap memperhatikan kualitas portofolio," ujarnya.
Baca Juga: Jamkrida Sumbar Waspadai Perlambatan Kredit, Jaga Kualitas Penjaminan Konsumtif
Di sisi lain, kebutuhan masyarakat terhadap pembiayaan konsumtif, khususnya pembiayaan perumahan dan kebutuhan produktif rumah tangga, masih memberikan peluang bagi industri penjaminan.
"Secara keseluruhan, kami tetap optimistis bahwa segmen penjaminan kredit konsumtif memiliki prospek pertumbuhan yang positif dalam jangka menengah hingga panjang, seiring dengan pemulihan daya beli masyarakat, stabilitas perekonomian, serta peningkatan akses pembiayaan," kata Agus.
Ia menambahkan, industri penjaminan ke depan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan volume penjaminan, tetapi juga pada kualitas risiko dan keberlanjutan usaha.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














