Reporter: Fahriyadi | Editor: Fahriyadi .
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Krom Bank Indonesia Tbk (Krom Bank), anak perusahaan Kredivo Group dan salah satu bank berbasis digital paling inovatif di Indonesia, berkolaborasi dengan SHIELD, platform fraud intelligence berbasis perangkat terkemuka di dunia, untuk memperkuat pertahanan terhadap serangan pengambilalihan akun atau account takeover (ATO) yang semakin canggih dan mengidentifikasi praktik berbagi akun terlarang yang melanggar standar keamanan perbankan.
Kemitraan ini menegaskan komitmen Krom Bank untuk menetapkan tolok ukur baru bagi keamanan perbankan digital di Indonesia. Dengan memanfaatkan solusi fraud intelligence yang canggih, Krom Bank memastikan bahwa seiring dengan pertumbuhan platform mereka, integritas finansial para nasabah tetap terlindungi dengan baik.
Baca Juga: Krom Bank Salurkan Kredit Rp 11,59 Triliun, Tumbuh 50,4% Per Agustus 2026
Beroperasi di salah satu pasar perbankan digital dengan pertumbuhan tercepat di Asia, Krom Bank berkomitmen untuk menghadirkan layanan keuangan yang aman, transparan, dan mudah diakses bagi nasabah retail dan UMKM. Seiring dengan pesatnya layanan digital, para pelaku fraud mengeksploitasi pergeseran ini dengan menggunakan teknik serangan yang lebih canggih dan terkoordinasi.
Salah satu ancaman paling marak melibatkan penggunaan aplikasi palsu atau berbahaya yang menyamar sebagai lembaga tepercaya maupun layanan digital yang populer. Aplikasi tersebut didistribusikan melalui channel yang umum seperti platform pesan instan dan media sosial, untuk mengelabui pengguna agar mengunduhnya di perangkat mereka. Setelah aplikasi tersebut terpasang, korban dipancing untuk login ke akun bank mereka, sehingga pelaku dapat mengambil alih sesi yang sedang aktif menggunakan fitur screen-sharing dan fitur pengoperasian jarak jauh.
Di Indonesia, pola serangan ini sudah marak terjadi dalam berbagai kasus, termasuk pemalsuan aplikasi identitas digital dan layanan pemerintah yang popular, seperti Identitas Kependudukan Digital (IKD), dan aplikasi layanan publik palsu lainnya. Belakangan ini, sindikat penipuan juga mulai memanfaatkan teknologi berbasis AI seperti deepfakes, menggunakan audio atau video sintetis yang sangat realistis untuk menyamar sebagai karyawan bank, pejabat pemerintah, atau bahkan anggota keluarga.
Di luar serangan eksternal itu, Krom Bank juga mengidentifikasi peningkatan tren berbagi akun, yang memicu risiko keamanan dan compliance yang signifikan di sektor perbankan Indonesia. Taktik ini menjadikan penipuan tampak lebih meyakinkan dengan mendorong korban untuk segera bertindak, sehingga mereka lebih rentan mengikuti instruksi yang dapat dimanfaatkan pelaku untuk mengambil alih akun.
Seiring kian kompleksnya taktik fraud berbasis sesi (session-based), Krom Bank makin berfokus pada visibilitas terhadap aktivitas yang terjadi selama sesi aktif nasabah. Meskipun solusi app hardening mampu melindungi kode aplikasi dari manipulasi (tampering) dan rekayasa balik (reverse engineering), perlindungan ini pada dasarnya bersifat statis. Di sisi lain, banyak teknologi fraud modern saat ini dapat beroperasi secara dinamis dan dirancang untuk berusaha menghindari deteksi yang statis seperti teknik penyamaran (stealth) dan penerobosan (bypass).
Untuk menjawab tantangan ini, Krom Bank memperkuat framework pencegahan fraud (fraud prevention framework) dengan solusi Device-First Fraud Intelligence dari SHIELD, sehingga memperoleh run-time visibility terhadap perilaku perangkat di sepanjang sesi. Hal ini memungkinkan Krom Bank mendeteksi tools fraud canggih serta teknik penerobosan (bypassing) sesaat setelah diaktifkan, sekaligus menjamin perlindungan dari saat login hingga logout tanpa mengganggu nasabah yang bertransaksi.
Dengan SHIELD, Krom Bank berhasil mencapai:100% upaya screen sharing terdeteksi, 10 kali lipat peningkatan dalam deteksi pengambilalihan akun, 50 kali lipat peningkatan dalam deteksi account sharing, 95% lebih cepat dalam mendeteksi fraud
SHIELD Device ID merupakan fondasi utama platform SHIELD, yang mampu mengidentifikasi setiap perangkat fisik secara unik dan persisten dengan tingkat akurasi lebih dari 99,9%, bahkan ketika setelah perangkat dikembalikan ke pengaturan pabrik (factory reset) atau ketika aplikasi dikloning (app cloning).
Melengkapi teknologi ini, SHIELD Fraud Intelligence memperkaya model risiko yang ada di Krom Bank dengan lebih dari 20 indikator risiko real-time. Hal ini memungkinkan pendeteksian berbagai tools dan teknik berbahaya, seperti screen sharing, software akses jarak jauh (remote access software), deepfake, praktik berbagi akun tanpa izin, hingga rekayasa sosial berbasis AI (AI-enabled social engineering), sesaat setelah diaktifkan.
Dengan SHIELD yang terintegrasi penuh, Krom Bank menghadirkan pengalaman layanan perbankan digital yang aman, lancar dan bebas fraud sekaligus membangun resiliensi untuk pertumbuhan yang berkelanjutan,
Tan Alie, Co-Founder & CTO Krom Bank, mengatakan, seiring dengan semakin canggihnya teknologi fraud berbasis AI yang dihadapi Krom Bank, kami melihat bahwa solusi app hardening statis saja tidak cukup. Meskipun dapat menjaga integritas aplikasi, pendekatan tersebut memiliki keterbatasan dalam memberikan visibilitas terhadap aktivitas selama sesi pengguna berlangsung dan dalam mendeteksi ancaman baru yang terus berkembang, seperti deepfake. “SHIELD hadir sebagai lapisan pertahanan yang cukup penting dalam memberikan perlindungan menyeluruh, sehingga Krom Bank dapat mendeteksi dan menghentikan berbagai teknologi fraud yang semakin canggih dari awal tanpa mengorbankan pengalaman maupun privasi pengguna,” ujarnya, Rabu (7/10/2026).
Justin Lie, Founder & CEO at SHIELD, menambahkan, fraud modern tidak terjadi dalam sekejap. Ia berkembang sepanjang sesi berlangsung, sering kali memanfaatkan berbagai tools canggih yang dirancang agar tetap tersembunyi. “SHIELD memberikan kemampuan bagi bank seperti Krom Bank untuk mengidentifikasi setiap perangkat dan mendeteksi setiap tools berbahaya secara real-time, sehingga memperkuat deteksi fraud dengan tetap mengutamakan privasi dan kepercayaan nasabah,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














