Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai prospek pasar keuangan Indonesia masih menjanjikan di tengah dinamika ekonomi global dan ketidakpastian pasar yang masih berlangsung.
Optimisme tersebut didorong oleh potensi pertumbuhan jangka panjang Indonesia yang dinilai tetap kuat, terutama untuk menarik aliran investasi ke pasar negara berkembang (emerging market).
President and CEO Global Wealth and Asset Management Manulife, Paul Lorentz mengatakan, investor global saat ini mulai mencari alternatif investasi di luar Amerika Serikat, terutama setelah munculnya kebijakan tarif yang memicu ketidakpastian pasar.
Baca Juga: KB Bank Kucurkan Kredit Rp 400 Miliar ke Lucky Mom Indonesia
Menurut dia, kondisi tersebut membuat sebagian investor mulai melirik pasar negara berkembang, termasuk Asia, khususnya pada instrumen fixed income yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
“Investor saat ini banyak mencari yield, dan pasar emerging market menawarkan peluang tersebut. Selain yield, yang juga penting adalah stabilitas pasar modal, karena itu menentukan apakah investor merasa nyaman untuk masuk," ujar Paul dalam media briefing di Jakarta, Selasa (22/4/2026).
Ia menambahkan, Manulife melihat Asia sebagai kawasan yang memiliki potensi pertumbuhan signifikan bagi bisnis wealth and asset management. Meski kontribusi Asia terhadap total aset kelolaan global Manulife masih relatif kecil, kawasan ini dinilai memiliki peran penting, terutama di segmen ritel.
Sebagai informasi, secara global Manulife sampai saat ini mengelola dana sekitar US$ 1,3 triliun. Namun, Paul menyebut kontribusi Asia akan lebih terasa jika dilihat dalam konteks regional.
“Kalau dibandingkan dengan skala global, porsinya mungkin terlihat kecil, tetapi dalam konteks Asia dampaknya cukup besar,” katanya.
Paul bilang, salah satu kekuatan Manulife di Asia adalah kemampuannya menjembatani investor global yang ingin masuk ke pasar Asia melalui perusahaan dengan jaringan internasional dan pemahaman lokal yang kuat.
Baca Juga: Allianz Utama Masih Andalkan Agen, Jadi Kunci Distribusi Produk
Menurutnya, investor dari Eropa misalnya, cenderung lebih nyaman berinvestasi di Asia melalui institusi global yang memiliki kehadiran lokal dan tim yang memahami risiko pasar, termasuk risiko kredit pada produk fixed income Asia.
Kendati demikian, ia mengakui investor masih cenderung berhati-hati dalam menempatkan dana di kawasan Asia. Oleh sebab itu, stabilitas pasar modal dan kejelasan arah pertumbuhan ekonomi menjadi faktor penting untuk meningkatkan minat investasi.
Paul mencontohkan Jepang yang sempat kurang diminati investor global dalam beberapa tahun terakhir. Namun, ketika fundamental ekonomi dan prospek pertumbuhannya mulai membaik, aliran dana investasi kembali masuk ke negara tersebut.
“Prospek jangka panjang Indonesia sangat kuat dan itu sebabnya kami berkomitmen untuk jangka panjang di sini,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













