kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.692.000   -2.000   -0,12%
  • USD/IDR 16.455   -90,00   -0,55%
  • IDX 6.485   -120,73   -1,83%
  • KOMPAS100 947   -17,38   -1,80%
  • LQ45 731   -16,06   -2,15%
  • ISSI 204   -1,87   -0,91%
  • IDX30 378   -10,17   -2,62%
  • IDXHIDIV20 460   -10,54   -2,24%
  • IDX80 107   -1,84   -1,69%
  • IDXV30 113   -1,14   -1,00%
  • IDXQ30 124   -3,16   -2,48%

Mekar Sari, Penyelamat Ratusan Ton Sampah dari Mampang Prapatan


Kamis, 27 Februari 2025 / 15:55 WIB
Mekar Sari, Penyelamat Ratusan Ton Sampah dari Mampang Prapatan
ILUSTRASI. Aktivitas pilah sampah di Bank Sampah Mekar Sari yang mendapat dukungan dari Bank Mandiri


Reporter: Jane Aprilyani, Lidya Yuniartha | Editor: Jane Aprilyani

KONTAN.CO.ID - Waktu baru menunjukkan pukul 08.00 pagi. Burung masih berkicau riuh dan mengantarkan Djuraidah Machmud menata dan menyusun rapi sampah bernilai ekonomi di Bank Sampah Mekar Sari di bilangan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Djuraidah yang menjabat Ketua Bank Sampah Mekar Sari tak sendiri. Ia ditemani pengurus bank sampah lainnya yang sigap dan cekatan menata sampah yang baru disetor anggota alias nasabahnya. 

Layaknya di bank konvensional, Djuraidah berbagi peran dengan pengurus bank sampah lainnya. Ada pengurus yang menjadi front office, yang menerima sampah dan memastikan jenis dan kualitas dari sampahnya. 

Nah, ada juga pengurus yang menjadi penakar alias penimbang, plus mencatat sampah yang dikumpulkan nasabahnya.

Selanjutnya, ada pengurus yang bekerja membersihkan sampah, serta merapikan sampah yang dibagi dalam beberapa bagian. Pagi itu Rabu (5/2), semuanya bekerja dengan tugas masing-masing seperti layaknya di bank. 

Namun, tentu berbeda dengan bank yang melayani transaksi keuangan setiap hari kerja. Di bank sampah Mekar Sari hanya buka dua kali dalam sebulan dan harinya ditetapkan pada hari Rabu.

Sebelum hari pengumpulan, nasabah akan diberitahukan agar bersiap menyetorkan sampahnya untuk disimpan dalam bentuk rupiah dalam tabungan.

"Biasanya dalam satu bulan kami bisa mengumpulkan 2,5 ton sampah, kadang 3 ton sampah,” ujar Djuraidah.

Jenis sampah yang disetorkan pun beragam, kebanyakan adalah sampah yang bernilai ekonomi tinggi, seperti botol plastik, botol kaca, kardus kemasan, kertas, hingga berbagai peralatan rumah tangga yang sudah tak terpakai.

Baca Juga: Pendanaan Transisi Energi dari Sejumlah Perbankan Indonesia Mulai Tumbuh Bertahap

Sepanjang 2024 lalu, ada 32,6 ton sampah yang berhasil dikumpulkan bank sampah yang sudah berdiri sejak 2016 tersebut.

Jika saban bulan bank sampah itu bisa menyelamatkan sampah 2,5 ton-3 ton sampah, maka di usianya yang ke-9 tahun ini, Bank Sampah Mekar Sari setidaknya telah menyelamatkan 270 ton sampai 324 ton sampah. 

Terbayang bukan, jika sampah-sampah itu tak dikelola, tentu akan menumpuk di TPA atau di sungai bahkan di lautan?

Nah, upaya yang dilakukan Bank Sampah Mekar Sari itu ternyata tak dilakukan sendiri. Pengurus berikut nasabah bank sampaih ini berkolaborasi dengan banyak pihak, salah satunya Bank Mandiri.

Djuraidah bercerita, sejak menjalin kerja sama dengan Bank Mandiri beberapa tahun lalu, Bank Sampah Mekar Sari mendapatkan banyak dukungan operasional.

Sebut saja, pembenahan bangunan yang menjadi sekretariat bank sampah Mekar Sari. Mereka juga mendapatkan hibah timbangan juga biodigister atau alat yang mengubah limbah organik menjadi biogas dan pupuk cair dan padat.

Nah, yang paling penting adalah, bank sampah Mekar Sari mendapatkan pengetahuan pembukuan layaknya sebuah bank.

Mereka mendapakan pengetahuan berupa pembukuan yang bisa dilakukan secara digital yang lebih simpel, efisien dan aplikatif diterapkan di bank sampah berbasis komunitas tersebut.

Dukungan lain yang diperoleh Mekar Sai dari Bank Mandiri adalah, edukasi melalui program Mandiri Pilah Sampah. Selain edukasi soal sampah, mereka juga mendapatkan pendidikan gratis Paket A, B, dan C. Untuk ini, Bank Mandiri bekerjasama dengan Nara Synergy. 

"Jadi, muridnya juga diedukasi apa itu bank sampah dan fungsinya. Setiap ujian, mereka harus membawa sampah yang dipilah dari rumah untuk mendapatkan kartu ujian," kata Djuraidah.

Bagi Djuraidah, mengelola sampah tak cukup dengan mengatasinya di hilir atau Ketika sampahnya sudah ada. Melalui Pendidikan tersebut, mengelola sampah bisa dilakukan sejak dari hulu, bahkan sebelum sampah itu tercipta.

Lewat pendidikan itu pula, warga bisa berfikir ulang memproduksi atau menghindari penggunaan produk yang nanti bisa menjadi sampah. 

"Yang diedukasi itu, kan, murid-muridnya. Otomatis bisa menginformasikan ke keluarganya bahwa di tempat ini ada bank sampah. Ini membantu, jadi iklan berjalan istilahnya," kata Djuraidah.

Baca Juga: Pengakuan Global! Bank Mandiri Masuk Daftar Perusahaan Terbaik versi TIME

Dorong kesadaran pilah sampah

Lingkungan yang lestari tentu menjadi idaman banyak orang. Tak terkecuali bagi pelaku usaha perbankan seperti Bank Mandiri. Dengan lingkungan yang lestari, warganya bisa produktif dan sehat.

Dus, bonus yang diperoleh adalah, produktivitas warga akan tinggi yang tentu akan selaras dengan naiknya pendapatan dan tabungan warganya.

Harapan itulah yang diharapkan oleh Dadang Suryadi, VP CSR Center Department Bank Mandiri. Maka itu, bank pelat merah itu mendukung banyak aktivitas pengelolaan sampah di banyak lokasi.

Apalagi, program tersebut sejalan dengan tanggungjawab sosial perusahaan untuk mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs).

Maka itulah, Bank Mandiri mempersiapkan program yang menudukung dan membantu pemerintah dalam mencapai target SDGs. Program tersebut tertuang dalam program Urban Livin, Mandiri Lingkar Hijau dan juga Mandiri Pilah Sampah.

Untuk program Mandiri Pilah Sampah ini bertujuan untuk mengurangi volume sampah yang mencermati darat, laut dan udara. Program dukungan dari Bank Mandiri inilah yang kini membantu operasional banyak bank sampah termasuk bank sampah Mekar Sari.

"Target dari program pengelolaan sampah ini adalah meningkatkan awareness dan mengenalkan budaya pilah sampah serta menciptakan nilai tambah dari sisi ekonomi di masyarakat," kata Dadang kepada KONTAN. 

Dalam program Mandiri Pila Sampah itu, Dadang sudah menyebarkannya di Jakarta Selatan, seperti di Kelurahan Mampang dan Kebon Baru. Program ini juga menyasar. Daerah, yang dilakukan di Kabupaten Sleman dan Klaten.

"Ke depannya, program pilah sampah menyasar ke wilayah yang memiliki permasalahan prioritas dalam pengelolaan sampah seperti kampung nelayan dan daerah yang tidak memiliki tempat pembuangan akhir (TPA)," ujar Dadang.

Meski tak menyebut pasti anggaran yang digelontorkan untuk program pilah sampah tersebut, Dadang meyakini program ini menjadi integrasi dari program yang turut mendukung penghijauan lingkungan serta membantu pendidikan anak-anak Indonesia.

"Dengan mengumpulkan dan memberikan sampah ke bank sampah di lokasi program, masyarakat yang putus sekolah bisa mendapat pendidikan gratis," ungkapnya.

Baca Juga: Selama 2024, Bank Mandiri Konsisten Perkuat Ekosistem Wholesale dan ESG

Banyak yang belum paham

Sudah pemandangan awam di banyak lokasi di kota sampai pedesaan kita saksikan adanya tumpukan sampah yang menggunung. Semua terjadi karena minimnya perilaku memilah sampah yang dilakukan oleh warga di lokasi tersebut.

Jakarta Asep Kuswanto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Daerah Khusus Jakarta bilang, penumpukkan sampah itu terjadi karena minimnya pemahaman masyarakat mengenai pemilahan sampah yang bisa dilakukan dari rumah tangga.

"Masih banyak yang khawatir sampahnya akan dicampur kembali saat pengangkutan," ujar Asep.

Untuk mendorong masyarakat lebih aktif memilah sampah dan menjadi nasabah bank sampah, pihaknya kerap memberikan sosialisasi terkait keuntungan yang bisa didapatkan dengan menjadi nasabah bank sampah.

Keuntungan tersebut bisa jadi tambahan penghasilan, bahkan pembebasan retribusi sampah.

Untuk mendukung keberadaan bank sampah, Dinas Lingkungan Hidup Daerah Khusus Jakarta pun bertugas melakukan pembinaan melalui penyuluhan, pelatihan dan pendampingan kepada bank sampah.

Asep mengatakan, berbagai kegiatan tersebut dilaksanakan melalui Bimbingan Teknis kepada Bank sampah baik yang aktif dan yang tidak aktif.

Saat ini, keberadaan bank sampah memiliki banyak manfaat positif, khususnya dalam pengurangan sampah dan secara ekonomi. Dinas Lingkungan Hidup Daerah Khusus Jakarta mencatat, jumlah sampah yang berhasil dikurangi bank sampah tersebut mencapai 9.879 ton.

Sementara itu, setiap harinya rata-rata jumlah sampah yang diangkut ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang mencapai 7.200 ton hingga 7.700 ton. Jika sampah-sampah tersebut sudah dipilah, tentu beban TPST Bantargebang bisa berkurang.

Sampai dengan Desember 2024 lalu, terdapat  3.967 bank sampah di Jakarta. Namun, tak semuanya aktif beroperasi. "Bank sampah aktif sejumlah 2.151 unit dan bank sampah tidak aktif sejumlah 1.816 unit," kata Asep.

Ujang Solihin Sidik, Kepala Subdirektorat Tatalaksana Produsen Direktorat Pengurangan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup, mengakui pentingnya keberadaan bank sampah. Ini sekaligus untuk mendorong perilaku pilah sampah di masyarakat.

"Bank sampah ini didesain untuk mengedukasi masyarakat bahwa memilah sampah ada nilainya. Persoalan kita di sini tidak bisa memilah sampah, karenanya memilah sampah itu penting," ujar Ujang.

Baca Juga: Wujudkan Mimpi Punya Rumah Hijau, Jadi Upaya Kebrlanjutan Bank Mandiri

Selanjutnya: Survei Sun Life: Perempuan Indonesia Lebih Aman Secara Finansial

Menarik Dibaca: Resep Telur Saus Tiram Praktis, Menu Sahur Anak yang Enak Banget

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Mastering Finance for Non Finance Entering the Realm of Private Equity

[X]
×