Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Moody’s Ratings mengubah outlook dari stabil menjadi negatif terhadap lima bank besar di Indonesia efek dari perubahan outlook peringkat sovereign Pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif. Namun dalam riset Moody's menjelaskan peringkat tetap ditegaskan di level Baa2 pada 5 Februari 2026.
Lima bank yang terdampak adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).
Moody’s menegaskan seluruh peringkat kredit utama kelima bank tersebut, termasuk peringkat penerbit, simpanan, utang senior tanpa jaminan, Counterparty Risk Ratings (CRR), Counterparty Risk Assessments (CRA), Baseline Credit Assessment (BCA), serta Adjusted BCA jika berlaku. Selain itu, Moody’s juga menegaskan peringkat surat utang subordinasi dan saham preferen BNI, serta program medium-term notes (MTN) Mandiri.
Baca Juga: OJK: Aset Industri Perasuransian Naik 5,95% di Tahun 2025
Perubahan outlook ini mencerminkan outlook negatif pada peringkat sovereign Indonesia, yang menurut Moody’s disebabkan oleh meningkatnya risiko terhadap kredibilitas kebijakan. Risiko tersebut tercermin dari menurunnya konsistensi dan prediktabilitas proses pembuatan kebijakan serta komunikasi kebijakan yang dinilai kurang efektif dalam satu tahun terakhir.
Moody’s memperingatkan bahwa jika tren ini berlanjut, kredibilitas kebijakan Indonesia yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makro, fiskal, serta sektor keuangan dapat tergerus. Meski demikian, peringkat Baa2 pemerintah tetap dipertahankan dengan mempertimbangkan ketahanan ekonomi Indonesia, kekuatan sumber daya alam, serta faktor demografi yang mendukung pertumbuhan PDB yang stabil.
Moody’s menegaskan bahwa penurunan peringkat sovereign Indonesia akan secara langsung memicu penurunan peringkat kelima bank tersebut. Untuk Bank Mandiri, BRI, dan BCA, penurunan sovereign juga akan diikuti oleh penurunan Baseline Credit Assessment mereka. Sementara bagi BNI dan BTN, dampaknya terutama berasal dari berkurangnya peningkatan peringkat (uplift) atas dukungan pemerintah.
Bank Mandiri
Peringkat simpanan Baa2 dan BCA baa2 Mandiri mencerminkan permodalan yang masih baik, pendanaan yang solid, serta profitabilitas yang tinggi. Namun, Moody’s mencatat tekanan dari penurunan buffer modal, risiko kredit dari pertumbuhan pinjaman sebelumnya, serta eksposur tinggi ke sektor komoditas dan sektor berisiko tinggi. Rasio modal berbasis tangible common equity (TCE) terhadap risk-weighted assets (RWA) diperkirakan turun ke kisaran 14,5%–15% pada 2026.
BRI
Peringkat Baa2 dan BCA baa2 BRI didukung oleh profitabilitas, permodalan, dan pendanaan yang sangat kuat. Namun, risiko aset tetap tinggi karena eksposur besar ke segmen mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Moody’s memperkirakan profitabilitas BRI akan menurun pada 2026 seiring penurunan margin bunga bersih dan tingginya biaya kredit.
Baca Juga: OJK Siapkan Strategi Baru Dongkrak Kredit UMKM yang Terkoreksi pada 2025
BNI
Peringkat simpanan Baa2 dan BCA baa3 BNI mencerminkan permodalan yang kuat dan struktur pendanaan yang stabil. Profitabilitas BNI dinilai lebih rendah dibandingkan bank sekelasnya, sementara risiko aset berasal dari portofolio kredit restrukturisasi dan eksposur ke BUMN yang secara finansial lebih rentan. Peringkat BNI mendapat peningkatan satu tingkat dari BCA berkat probabilitas dukungan pemerintah yang sangat tinggi.
Bank Central Asia (BCA)
Peringkat Baa2 dan BCA baa2 BCA mencerminkan kualitas aset yang sangat kuat, profitabilitas tertinggi di antara bank domestik dan regional, serta posisi unggul di bisnis transaction banking. Meski demikian, Moody’s menyoroti risiko dari pertumbuhan kredit yang cepat pada segmen korporasi dan UKM dalam beberapa tahun terakhir.
BTN
Peringkat simpanan Baa2 dan BCA ba2 BTN mencerminkan tingginya risiko aset, stok kredit restrukturisasi yang besar, serta tingkat pencadangan yang rendah dibandingkan profil risikonya. Profitabilitas dan permodalan dinilai memberikan bantalan yang terbatas. Namun, peringkat BTN mendapat peningkatan tiga tingkat dari BCA karena dukungan pemerintah yang sangat kuat, mencerminkan peran strategis BTN dalam kebijakan perumahan nasional.
Dengan outlook negatif, Moody’s menilai peluang peningkatan peringkat kelima bank sangat kecil. Outlook dapat kembali stabil apabila outlook sovereign Indonesia kembali stabil dan peringkat Baa2 dipertahankan.
Sebaliknya, peringkat bank dapat diturunkan apabila peringkat sovereign Indonesia diturunkan atau jika terjadi pelemahan signifikan pada kualitas aset, permodalan, atau profitabilitas masing-masing bank.
Moody’s menegaskan bahwa profil keuangan bank-bank Indonesia saat ini masih solid, namun tetap dibatasi oleh risiko yang berasal dari peringkat dan outlook sovereign.
Baca Juga: Pembiayaan Pergadaian Tumbuh 48,06%, Tembus Rp 130,37 Triliun per Desember 2025
Selanjutnya: Bayi Sering Gumoh, Dokter Jelaskan Bedanya Regurgitasi dan GERD
Menarik Dibaca: Bayi Sering Gumoh, Dokter Jelaskan Bedanya Regurgitasi dan GERD
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












