kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.923   27,00   0,16%
  • IDX 7.164   -138,03   -1,89%
  • KOMPAS100 989   -24,52   -2,42%
  • LQ45 732   -14,72   -1,97%
  • ISSI 252   -6,20   -2,41%
  • IDX30 398   -8,38   -2,06%
  • IDXHIDIV20 499   -11,65   -2,28%
  • IDX80 112   -2,43   -2,13%
  • IDXV30 136   -1,81   -1,31%
  • IDXQ30 130   -3,03   -2,28%

OJK Cermati Sektor Kredit Berisiko Tinggi di Tengah Ketidakstabilan Perang


Kamis, 26 Maret 2026 / 14:22 WIB
OJK Cermati Sektor Kredit Berisiko Tinggi di Tengah Ketidakstabilan Perang
ILUSTRASI. Perang ekonomi global berpotensi memicu risiko kredit bank. OJK peringatkan sektor ekspor-impor paling rentan.


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencermati potensi peningkatan risiko kredit pada sejumlah sektor yang memiliki eksposur tinggi terhadap dinamika global, seiring memanasnya konflik geopolitik yang berkembang menjadi perang ekonomi.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, ketidakpastian global (unpredictability) saat ini menjadi faktor utama yang perlu diwaspadai industri perbankan.

“Sekarang ini bukan hanya perang fisik, tapi sudah menjadi perang ekonomi. Dampaknya pasti ke mana-mana, terutama sektor yang sangat terekspos global seperti ekspor dan impor,” ujar Dian saat ditemui di Jakarta, Rabu (25/3/2026).

Baca Juga: OJK dan Bareskrim Polri Tangkap Tersangka Kasus Dugaan Tindak Pidana BPR DCN Jatim

Menurutnya, salah satu titik krusial yang menjadi perhatian adalah gangguan di jalur distribusi energi global seperti Selat Hormuz. Ketidakpastian di kawasan ini berpotensi memicu volatilitas harga minyak dan berdampak pada stabilitas ekonomi, termasuk kemampuan bayar debitur di sektor tertentu.

Dian melihat sentimen pasar sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Pernyataan tokoh global seperti Donald Trump saja, misalnya, bisa langsung memengaruhi harga minyak dan pasar keuangan secara cepat.

Unpredictability-nya luar biasa. Ini yang membuat kita harus selalu siap menghadapi kondisi terburuk,” imbuhnya.

OJK melihat sektor-sektor dengan keterkaitan kuat terhadap perdagangan internasional menjadi yang paling rentan terdampak. Jika konflik berlangsung lebih lama, risiko perlambatan kredit hingga peningkatan kredit bermasalah (NPL) bisa saja muncul di sektor-sektor tersebut.

Meski demikian, Dian menegaskan bahwa secara keseluruhan, stabilitas sistem keuangan masih terjaga. Hal ini didukung oleh kuatnya permodalan perbankan domestik yang bahkan berada di atas standar internasional Basel Committee on Banking Supervision.

“Permodalan kita relatif sangat kuat, bahkan jauh di atas ketentuan minimum global. Ini yang membuat daya tahan perbankan kita lebih baik,” jelasnya.

Baca Juga: BCA: Reformasi Tata Kelola Berjalan, Investor Masih Wait and See

Sebagai langkah mitigasi, OJK telah meminta perbankan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap volatilitas global dan menjadikannya sebagai warning sign dalam pengelolaan risiko, khususnya pada portofolio kredit di sektor-sektor yang rentan.

Jika kondisi global memburuk, OJK juga membuka ruang untuk melakukan penyesuaian kebijakan, termasuk review terhadap sektor-sektor dengan eksposur tinggi terhadap gejolak eksternal.

“Kita harus siap melakukan langkah-langkah tertentu, termasuk mereview kebijakan yang berkaitan dengan eksposur sektor tertentu,” kata Dian.

OJK berharap konflik global tidak berlangsung lama, mengingat dampaknya yang luas terhadap ekonomi dunia. Bagi Indonesia, situasi ini menjadi krusial karena masih bergantung pada impor energi seperti minyak dan gas, yang sangat sensitif terhadap gejolak global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×