kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.706   62,71   1,11%
  • KOMPAS100 737   9,52   1,31%
  • LQ45 558   5,20   0,94%
  • ISSI 199   2,08   1,06%
  • IDX30 316   2,13   0,68%
  • IDXHIDIV20 390   0,47   0,12%
  • IDX80 84   0,86   1,03%
  • IDXV30 106   -0,37   -0,35%
  • IDXQ30 102   0,44   0,43%

OJK: Kredit ritel tumbuh tinggi dan NPL kecil


Selasa, 31 Oktober 2017 / 23:57 WIB


Reporter: Adinda Ade Mustami | Editor: Dessy Rosalina

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengatakan bahwa stabilitas sistem keuangan kuartal ketiga tahun ini dalam kondisi normal, termasuk sektor ritel. Sayangnya, kondisi di lapangan tidak sepenuhnya demikian. Sebab, sejumlah perusahaan justru menutup tokonya.

Normalnya kondisi ritel saat ini, salah satunya tercermin pada kredit ritel. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan, kredit ritel justru mengalami peningkatan yang paling besar dibandingkan sektor lain.

Tak hanya itu, rasio kredit bermasalahnya pun rendah. "Salah satu bank besar kredit ritelnya justru naik dan NPL-nya (non performing loan) paling kecil. Kredit ritel tumbuhnya lebih besar dibanding korporasi, yaitu 7,6% (YoY)," kata Wimboh saat konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Kantor Pusat Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak, Selasa (31/10).

Atas hal tersebut, Wimboh bilang menunjukkan tidak adanya gangguan pada aktivitas ritel. Wimboh memperkirakan, transaksi di sektor ritel masih tetap ada. Namun, "Outletnya yang berbeda," tambah Wimboh.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, sejumlah sektor menunjukkan kinerja positif di kuartal ketiga tahun ini. Ia menyebut, pertumbuhan sektor industri hingga kuartal ketiga tahun ini tumbuh 16,63% YoY.

Begitu juga dengan sektor perdagangan yang tumbuh 18,7% YoY. Sementara sektor keuangan tumbuh 9% YoY, telekomunikasi 4,6% YoY, konstruksi 2,4% YoY, transportasi 9,52% YoY, dan jasa sebesar 5,7% YoY.

"Supply naik, demand side, individual mereka juga bayar PPh dan PPN. Kami berharap angka-angka ini meyakinkan atau mengurangi hal-hal yang dianggap mengurangi optimisme pelaku usaha," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×