kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.814.000   5.000   0,18%
  • USD/IDR 17.266   44,00   0,26%
  • IDX 7.072   -34,13   -0,48%
  • KOMPAS100 955   -6,68   -0,69%
  • LQ45 682   -4,42   -0,64%
  • ISSI 255   -2,37   -0,92%
  • IDX30 378   -0,88   -0,23%
  • IDXHIDIV20 463   -1,76   -0,38%
  • IDX80 107   -0,70   -0,65%
  • IDXV30 135   -1,18   -0,87%
  • IDXQ30 121   -0,66   -0,55%

Outstanding Paylater Tembus Rp 56,3 Triliun, IdScore Wanti-wanti Risiko Kredit


Selasa, 28 April 2026 / 23:00 WIB
Outstanding Paylater Tembus Rp 56,3 Triliun, IdScore Wanti-wanti Risiko Kredit
ILUSTRASI. Ilustrasi pinjol - p2p lending (KONTAN/Muradi)


Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) menyoroti pesatnya pertumbuhan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater di Indonesia.

Direktur Utama Tan Glant Saputrahadi mengatakan, outstanding paylater tercatat mencapai Rp 56,3 triliun per Februari 2026. Nilai tersebut melonjak 86,7% secara tahunan atau year on year (YoY), jauh melampaui pertumbuhan kredit konsumtif konvensional.

"Di sisi lain, rasio kredit bermasalah pada segmen ini masih berada di level relatif tinggi sekitar 5%, hal ini perlu penguatan prinsip responsible lending, pemanfaatan yang lebih presisi serta edukasi keuangan kepada masyarakat," ujarnya dalam media gathering, Selasa (28/4/2026).

Baca Juga: Jasa Raharja Siapkan Santunan hingga Rp 90 Juta Korban Kecelakaan KRL di Bekasi Timur

Adapun IdScore juga menyoroti pola kepemilikan multi akun paylater yang dinilai berpotensi meningkatkan risiko over leverage di masyarakat. Berdasarkan data Februari 2026, rata-rata debitur tercatat memiliki tujuh fasilitas aktif di seluruh lembaga jasa keuangan (LJK).

Bahkan, ditemukan pula kasus ekstrem di mana seorang debitur memiliki lebih dari 1.000 fasilitas kredit aktif. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan adanya potensi peningkatan risiko gagal bayar apabila tidak dikelola secara hati-hati.

Selain tantangan dari sisi domestik, IdScore menilai tekanan eksternal turut memengaruhi kondisi industri keuangan nasional. Beberapa faktor yang menjadi sorotan antara lain perang dagang global, konflik di Timur Tengah, hingga suku bunga global yang masih tinggi.

Tan Glant menyebut pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) serta kondisi likuiditas perbankan yang lebih ketat turut mempengaruhi lambatnya penurunan suku bunga kredit di dalam negeri.

Di sisi lain, meskipun Bank Indonesia telah menurunkan BI Rate secara bertahap, transmisi penurunan suku bunga ke kredit dinilai masih membutuhkan waktu. Akibatnya, beban debitur terutama pada segmen ritel masih relatif tinggi.

Baca Juga: Penyaluran Kredit Pensiunan Bank Mantap Capai Rp 50,9 Triliun per Maret 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×