kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,31   -15,20   -1.62%
  • EMAS1.347.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Pembayaran dengan Kartu dan Mobile Banking Kian Pesat, Mana yang Jadi Primadonanya?


Rabu, 28 Februari 2024 / 19:53 WIB
Pembayaran dengan Kartu dan Mobile Banking Kian Pesat, Mana yang Jadi Primadonanya?
ILUSTRASI. Sistem pembayaran di perbankan baik melalui penggunaan kartu maupun mobile banking terus berkembang dan berinovasi./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/25/08/2023.


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sistem pembayaran di perbankan baik melalui penggunaan kartu maupun mobile banking terus berkembang dan berinovasi seiring dengan kebutuhan masyarakat yang kian praktis. Alhasil penggunaan uang tunai pun akan terus berkurang.

Data Bank Indonesia mencatat nilai transaksi pembayaran melalui kartu, seperti  menggunakan kartu ATM, kartu debit, dan kartu kredit mencapai Rp 692,32 triliun atau naik sebesar 2,58% YoY pada Januari 2024. 

Adapun jumlah kartu ATM/Debit yang beredar sekitar 281,47 juta, sementara jumlah kartu kredit yang beredar sekitar 17,73 juta per Desember 2023.

Di sisi lain transaksi pembayaran melalui QRIS di mobile banking tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 149,46% YoY pada Januari 2024, dengan nilai transaksi mencapai Rp 31,65 triliun, dengan jumlah pengguna 46,37 juta.

Baca Juga: Bersaing Dengan Bank Konvensional di Industri Digital

Jika melihat data BI tersebut, dapat dilihat masyarakat tetap memiliki opsi terhadap kartu debit/kredit dalam transaksi pembayaran yang nilainya lebih besar. Bahkan baik perusahaan penerbitan kartu dan perbankan saat ini telah melakukan inovasi bentuk kartu fisik menjadi kartu digital. Tak ayal saat ini dapat kita temui kartu kredit digital yang terdapat di mobile banking.

Presiden Direktur Visa Indonesia Riko Abdurrahman mengatakan, penggunaan kartu fisik di Indonesia saat ini masih cukup tinggi. Dia menyebut data terakhir dari Consumer Payment Attitudes Study Visa tahun 2022, preferensi pembayaran menggunakan kartu secara keseluruhan masih di angka 80% dibanding dengan cash (84%) dan mobile wallet (93%). 

"Kami tidak melihat pergeseran penggunaan metode kartu fisik ke digital sebagai tantangan. Kartu hanya salah satu bentuk saja, dan jangan lupa bahwa semua pemrosesan dibalik setiap pembayaran dengan kartu sudah digital sejak lama," kata dia kepada Kontan, Rabu (28/11).

Riko juga menyebut saat ini sudah semakin banyak pembayaran yang dalam ekosistemnya melibatkan card-on-file, di mana data kartu pengguna digunakan untuk transaksi melalui mobile app atau wallet. Sehingga dengan perkembangan teknologi contactless, token, dan Internet of Things, maka bentuk kartu fisik memang akan perlahan-lahan bergeser berubah ke digital.

"Kredensial kartu tersebut melebur ke dalam aplikasi mobile banking atau wallet menjadi card on file atau bisa juga berbentuk virtual card, yang bisa dipilih sebagai sumber dana saat membayar. Jadi apakah bentuk fisiknya di masa depan masih dibutuhkan atau tidak, itu dikembalikan ke kebutuhan dan kebiasaan konsumen," kata dia.

Senada, para bankir juga menilai penggunaan kartu fisik dan mobile banking tidak dapat dipisahkan saat ini, dimana kedua alat pembayaran ini saling bersinergi seiring dengan perkembangan dan inovasi pembayaran digital.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA mengatakan, dengan tren digitalisasi semakin meningkat setelah pandemi membuat standar baru bagi operasional perbankan. 

Sepanjang 2023 lalu, BCA telah menambahkan sejumlah fitur di mobile banking myBCA yang mencakup kontrol kartu debit dan kredit, hingga Paylater BCA dalam aplikasi mobile banking myBCA.

"Di tengah pesatnya transformasi digital di Indonesia, kami melihat penggunaan kartu debit masih memiliki peranan penting dan menjadi pilihan masyarakat dalam melakukan transaksi perbankan," kata dia.

Adapun nilai transaksi kartu Debit BCA mencapai Rp241,02 triliun per Desember 2023 dengan jumlah kartu mencapai 33,8 juta, tumbuh 11% YoY. Sementara volume transaksi yang diproses BCA naik 25,1% YoY mencapai 30,1 miliar transaksi. Kanal mobile banking mencatat kenaikan volume transaksi tertinggi, naik 41,6% YoY. 

Sementara itu Direktur IT & Digital BTN Andi Nirwoto juga menilai  kedua sistem pembayaran dengan kartu fisik maupun mobile banking tetap bisa berjalan beriringan, dimana ntuk beberapa transaksi pembayaran/pembelian, nasabah masih memerlukan kehadiran kartu fisik.

Baca Juga: Sinyal Awal Pertumbuhan Kredit Digital

"Namun memang diakui bahwa saat ini nasabah cenderung membutuhkan sistem pembayaran yang lebih praktis dan mudah yang hal tersebut bisa diakomodir dengan mobile banking," kata dia.

BTN sendiri terus melakukan inovasi pembayaran berbasis mobile banking dimana saat ini BTN telah mengembangkan sistem pembayaran cardless melalui media transfer, virtual account maupun yang sedang trend saat ini melalui pembacaan QRIS. BTN juga dalam waktu dekat akan merampungkan sistem pembayaran QRIS crossborder dan fitur Request for Payment (RFP) berbasis BIFAST.

Sementara di segmen pembayaran menggunakan kartu fisik juga akan dikembangkan mengingat nasabah yang menggunakan kartu debit masih cukup tinggi jumlahnya. Salah satunya yang sudah rilis seperti fitur contacless payment pada Februari 2024, ini memudahkan nasabah dalam melakukan pembayaran cepat dengan tapping kartu debit BTN pada EDC merchant berbasis VISA.

"Tren transaksi mobile banking kami yakini akan terus meningkat seiring dengan ketergantungan nasabah pada smartphone-nya. Penggunaan kartu debit/kredit, transaksinya masih tumbuh meskipun tidak setinggi transaksi pembayaran melalui mobile banking," kata Andi.

Adapun Tahun 2024 BTN akan fokus pada proses akuisisi user dan peningkatan transaksi finansial untuk BTN Mobile sehingga mampu meningkatkan pendapatan fee based income. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×