CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.007,80   -0,91   -0.09%
  • EMAS995.000 -0,10%
  • RD.SAHAM -0.30%
  • RD.CAMPURAN -0.02%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Pendapatan Operasional Naik dan Pencadangan Turun, Bank-bank Besar Makin Efisien


Jumat, 01 Juli 2022 / 06:30 WIB
Pendapatan Operasional Naik dan Pencadangan Turun, Bank-bank Besar Makin Efisien


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank-bank besar di Tanah Air semakin efisien dalam mengelola operasionalnya sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. Itu tercermin dari rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) mereka yang mengalami penurunan. 

Penurunan BOPO bank besar terdorong oleh kenaikan pendapatan operasional, berkurangnya biaya Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN), serta penurunan biaya dana yang cukup signifikan. 

Namun, beberapa bank kecil mencatat hal sebaliknya. Rasio BOPO mereka justru meningkat karena biaya CKPN mereka ditingkatkan di tiga bulan pertama tahun ini untuk mengantisipasi pemburukan kredit yang sedang dalam restrukturisasi Covid-19. 

PT Bank Mandiri Tbk salah satu yang mencatatkan penurunan rasio BOPO cukup tinggi. Per Maret 2022, BOPO bank ini ada di level 56,37%. Sedangkan pada Maret 2021 masih di level 71,38%.

Baca Juga: BRI Dorong Digitalisasi Agar Perkuat Ekonomi Riil

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga tercatat cukup efisien dengan BOPO 56,73%, turun dari 63,27% pada kuartal I tahun lalu.

BOPO PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) turun dari 76,83% jadi 64,26%, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) turun dari 81,5% jadi 70,2%, Bank CIMB Niaga turun dari 81,4% ke 76,49%, PT  Bank Danamon Indonesia Tbk turun dari 80,81% menjadi 70,13%, Bank Panin turun dari 80,68% ke 78,09%, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) turun dari 87,38% ke 85%, dan Bank Permata menyusut dari 82,25% ke 72,46%.

Sigit Prastowo Direktur Keuangan Bank Mandiri menjelaskan, penurunan BOPO ini didorong oleh pendapatan operasional yang tumbuh 16,03% yoy. Lalu pertumbuhan OPEX dapat dijaga perseroan di level 3,90% yoy.

"Sehingga menghasilkan rasio JAWS  atau pertumbuhan income vs pertumbuhan opex positif," katanya pada Kontan.co.id, Kamis (30/6).

Selain itu, lanjut Sigit, penurunan BOPO juga didorong oleh penurunan Biaya Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN sebesar 25,53% yoy sejalan dengan perbaikan kualitas kredit Bank Mandiri.

Baca Juga: Bank Ina Targetkan BOPO Bisa Turun ke Bawah 90% Tahun Ini

Untuk menjaga rasio BOPO ke depan, Bank Mandiri akan terus mengedepankan kualitas dalam ekspansi bisnis serta menjaga rasio JAWS positif agar pertumbuhan pendapatan operasional di atas pertumbuhan biaya operasional. Salah satunya melalui digitalisasi. 

"Bank Mandiri terus mengembangkan beragam produk serta fitur pada Livin Superapp dan Kopra by Mandiri untuk mendorong transaksi nasabah dan meningkatkan level economies of scale bank," jelas Sigit.

Sementara Aestika Oryza Gunarto, Sekretaris Perusahaan BRI mengatakan, faktor utama yang mendorong penurunan BOPO adalah keberhasilan perseroan dalam menurunkan biaya dana yang terlihat dari menyusutnya beban bunga BRI (secara bank only) pada akhir Maret 2022 sebesar 16,92% yoy.

Menyusutnya biaya dana tak lepas dari strategi BRI yang terus berupaya untuk meningkatkan porsi dana murah (CASA) dengan cara memperbaiki struktur pendanaan. 

"Kami mendorong CASA melalui platform simpanan berbasis digital dan pengembangan micropayment system," katanya.

Sampai akhir tahun, BRI menargetkan BOPO ada di kisaran 60%-70%. Untuk menjaga itu, perseroan akan terus mendorong efisiensi biaya dana dengan fokus pada peningkatan dana murah. Hingga 2024, BRI akan mendorong rasio CASA bisa mencapai 66%.

Sementara  dari jajaran bank kecil, PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) belum efisien dalam mengelola operasionalnya. Tingkat efisiensi perseroan turun karena adanya kenaikan biaya biaya pencadangan atau Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN). Per Maret 2022, bank milik Salim Group ini mencatatkan rasio BOPO di level 93,9%, naik dari 90% pada kuartal I 2021.

Direktur Utama Bank Ina Perdana Daniel Budirahayu mengatakan, biaya CKPN perseroan pada triwulan pertama tahun ini jauh lebih besar dari tahun lalu. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi pemburukan kredit yang masih dalam restrukturisasi Covid-19. 

"Namun, seiring perbaikan kualitas kredit dan meningkatnya volume business dan asset productive, BOPO kami akan turun di akhir tahun ini," kata Daniel pada Kontan.co.id, Kamis (30/6).

Bank Ina menargetkan BOPO ada di bawah 90% tahun ini. Sementara digitalisasi yang dilakukan Bank Ina belum berdampak mendorong tingkat efisiensi perseroan. Menurut Daniel, proses digitalisasi masih terus berjalan dan butuh waktu untuk bisa menghasilkan fee based income

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×