Reporter: Siti Masitoh | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penggunaan uang tunai atau cash di masyarakat mulai berkurang seiring dengan semakin luasnya adopsi pembayaran digital. Bank Indonesia (BI) mencatat, pergeseran preferensi masyarakat tersebut turut terlihat dari penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang terus meluas.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, saat ini jumlah pengguna QRIS telah mencapai sekitar 67 juta orang. Jumlah tersebut setara dengan sekitar seperempat dari total penduduk Indonesia.
“QRIS kalau kita lihat sekarang penggunanya sudah 67 juta. Artinya sudah seperempat dari penduduk Indonesia yang menggunakan QRIS,” ujar Destry dalam agenda IFSE x FEKDI, Kamis (24/9/2026).
Baca Juga: Kredit BNI (BBNI) Tumbuh 27,1%, Ini Prospek Saham Saham Menurut Maybank Sekuritas
Menurut dia, semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan sistem pembayaran digital membuat penggunaan uang tunai menjadi lebih terbatas. Pergeseran tersebut juga terlihat dalam aktivitas transaksi sehari-hari, termasuk ketika masyarakat berbelanja di pasar.
“Kita bisa lihat di beberapa event kalau kita sekarang belanja di pasar itu mereka lebih suka pakai QRIS ketimbang menggunakan cash,” jelasnya.
Meski demikian, Destry menegaskan bahwa BI tidak melarang masyarakat menggunakan uang tunai. Sistem pembayaran di Indonesia tetap mengakomodasi transaksi baik secara digital maupun menggunakan uang kartal.
Dengan demikian, merchant tetap perlu menyediakan pilihan pembayaran tunai bagi masyarakat yang masih memilih menggunakan cash.
“Namun, kita tetap tidak melarang orang kalau menggunakan cash. Payment di kita ini kan ada digital atau melalui cash,” kata Destry.
Dia menambahkan, merchant juga tetap harus dapat menerima pembayaran secara tunai. Namun, secara umum, preferensi masyarakat saat ini mulai mengarah pada penggunaan pembayaran digital, khususnya QRIS.
Peralihan preferensi masyarakat ke pembayaran digital turut berdampak terhadap pertumbuhan uang kartal, baik uang kertas maupun uang logam. Destry mengatakan, uang kartal masih mengalami pertumbuhan, tetapi lajunya mulai melambat.
Baca Juga: Kredit Properti Tumbuh 18,3% yoy per Agustus 2026
“Bagaimana dampaknya terhadap pertumbuhan uang yang kartal, uang kertas dan logam, kalau kita lihat memang masih tumbuh tapi mulai terus melambat,” ujar Destry.
Meski penggunaan cash cenderung menurun, BI tetap mempertahankan ketersediaan uang kartal di seluruh wilayah Indonesia. Pasalnya, kebutuhan terhadap uang tunai masih ada, terutama di wilayah yang akses terhadap infrastruktur digital belum sepenuhnya merata.
Destry mengatakan, Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas dan terdiri atas banyak pulau. Sejumlah wilayah terdepan dan terluar masih membutuhkan uang tunai karena keterbatasan jaringan komunikasi maupun keberadaan wilayah yang masih berada dalam kondisi blank spot.
“Indonesia ini kan sangat luas dan wilayahnya kan sangat pulau-pulau. Kita ada daerah-daerah yang terdepan, terluar. Tentunya ini kan mereka juga masih butuh uang cash, mungkin sinyal masih belum semuanya kan juga masih ada beberapa yang di blank spot,” jelasnya.
Karena itu, meskipun tren transaksi masyarakat semakin mengarah ke pembayaran digital, BI bersama pemerintah tetap memastikan ketersediaan uang kertas dan uang logam untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh Indonesia.
Sebagai informasi, volume transaksi melalui internet dan mobile banking masing-masing tumbuh 15,12% yoy dan 47,08% yoy, termasuk transaksi QRIS yang terus tumbuh tinggi mencapai 67,22% yoy, didukung peningkatan jumlah pengguna dan merchant. Dari sisi infrastruktur, volume transaksi ritel melalui BI-FAST mencapai 549 juta transaksi atau tumbuh 37,72% yoy dengan nilai transaksi mencapai Rp1.346 triliun.
Sementara itu, nilai transaksi BI-RTGS mencapai Rp16.545 triliun, atau turun tipis 3,64% yoy, dengan volume sebanyak 0,86 juta transaksi atau turun sebesar 1,78% yoy. Dari sisi pengelolaan uang Rupiah, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 12,88% yoy menjadi Rp 1.332 triliun.
Baca Juga: Kredit UMKM Tumbuh 2,3% yoy per Agustus 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














