Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kondisi arus kas pelaku usaha mulai membaik seiring stabilnya permintaan domestik serta normalisasi aktivitas produksi dan distribusi menjelang akhir tahun 2025 lalu. Ini tercermin dari pertumbuhan kredit modal kerja perbankan yang mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kredit modal kerja tumbuh 4,4% secara tahunan atau year on year (yoy) mencapai Rp 3.589,4 triliun pada Desember 2025, meningkat dibandingkan pertumbuhan 2,5% pada November 2025 capai Rp 3.454,9 triliun.
BI juga melaporkan penyaluran kredit baru pada triwulan IV 2025 meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal ini tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru yang mencapai 88,92%, naik dari 82,33% pada triwulan III 2025. Berdasarkan jenis penggunaan, peningkatan kredit baru terutama bersumber dari Kredit Modal Kerja dengan SBT sebesar 88,64%.
Baca Juga: Bank Syariah Indonesia (BSI) Tebar Promo di Garuda Umrah Travel Fair (GUTF) 2026
Advisor Banking & Finance Development Center Moch Amin Nurdin menilai pemulihan ini didorong oleh mulai bekerjanya transmisi pelonggaran suku bunga ke sektor riil. Selain itu, kondisi arus kas pelaku usaha juga membaik seiring stabilnya permintaan domestik serta normalisasi aktivitas produksi dan distribusi menjelang akhir tahun.
“Di sisi perbankan, penyaluran kredit juga mulai lebih aktif, terutama kredit jangka pendek kepada debitur eksisting dengan profil risiko kecil hingga menengah, meskipun tetap dilakukan secara selektif,” ujar Amin kepada kontan.co.id, Jumat (30/1/2026).
Dari sisi segmen, Amin menyebut hampir seluruh sektor mulai berkontribusi terhadap pertumbuhan kredit modal kerja. Namun, sektor perdagangan besar dan eceran, manufaktur berorientasi domestik, serta jasa penunjang konsumsi menjadi pendorong utama.
Sementara itu, di segmen UMKM, kredit modal kerja mulai tumbuh pada usaha-usaha dengan perputaran dana cepat dan siklus kas pendek, terutama yang terhubung dengan rantai pasok domestik dan konsumsi rumah tangga.
“Apalagi menjelang long festive season seperti Lebaran, dorongan konsumsi akan semakin terasa,” jelasnya.
Memasuki 2026, prospek kredit modal kerja dinilai masih cukup positif, meskipun pertumbuhannya diperkirakan tetap moderat dan terukur. Sentimen positif ditopang oleh stabilitas makroekonomi domestik, inflasi yang terkendali, serta masih terbukanya ruang pelonggaran suku bunga lanjutan.
Baca Juga: OJK: Perubahan Yield SBN Bisa Pengaruhi Strategi Investasi Dana Pensiun dan Asuransi
Meski demikian, Amin mengingatkan perbankan tetap akan bersikap hati-hati mengingat ketidakpastian global dan volatilitas pasar keuangan yang masih membayangi. Ia berharap komunikasi kebijakan regulator, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dapat membantu meredakan gejolak pasar.
Untuk mendorong penyaluran kredit modal kerja secara berkelanjutan, Amin menyarankan bank fokus pada pengembangan pembiayaan berbasis rantai pasok (supply chain financing), optimalisasi kredit modal kerja revolving, serta penguatan credit scoring berbasis data transaksi.
“Penyesuaian pricing dengan suku bunga yang lebih kompetitif, pendampingan debitur UMKM, serta pengelolaan risiko yang disiplin menjadi kunci agar ekspansi kredit tetap berjalan tanpa mengorbankan kualitas aset,” pungkasnya.
Sejalan dengan tren industri tersebut, PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) juga mencatatkan kinerja kredit modal kerja yang solid sepanjang 2025. Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie menyampaikan bahwa hingga akhir 2025, total kredit KB Bank tumbuh sekitar 7% secara tahunan (YoY), dengan kredit modal kerja menjadi kontributor utama.
“Kredit modal kerja menyumbang sekitar 63% dari total pertumbuhan kredit sepanjang 2025. Ini mencerminkan fokus kami pada pembiayaan produktif dan berkelanjutan, dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian,” ujar Kunardy.
Dari sisi segmen, pertumbuhan kredit modal kerja KB Bank terutama didorong oleh bisnis wholesale, yang mencakup sekitar 64% dari total portofolio kredit modal kerja per Desember 2025. Segmen ini dinilai memiliki kebutuhan pembiayaan berkelanjutan serta struktur usaha yang relatif stabil.
Baca Juga: Sun Life Tengah Lakukan Finalisasi Pembentukan Dewan Penasihat Medis
Ke depan, KB Bank memproyeksikan pertumbuhan kredit tetap positif. Pada 2026, perseroan menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 9%, dengan segmen wholesale tetap menjadi motor utama. Sementara itu, segmen retail diarahkan sebagai penyeimbang portofolio guna menjaga diversifikasi risiko dan kualitas aset.
Untuk mendorong penyaluran kredit modal kerja, KB Bank mengedepankan fokus pada debitur eksisting dengan kinerja usaha dan arus kas yang terjaga, disertai pricing yang selektif dan kompetitif sesuai profil risiko. Di sisi lain, penyaluran kredit baru tetap dilakukan secara prudent melalui proses seleksi dan underwriting yang ketat.
“Dengan strategi tersebut, kami optimistis pertumbuhan kredit dapat berlanjut secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kualitas aset,” jelas Kunardy.
Di sisi lain, PT Bank BPD DIY masih mencatatkan lesunya pertumbuhan kredit modal kerja. Direktur Pemasaran BPD DIY, R Agus Trimurjanto mengatakan, pertumbuhan kredit modal kerja perseroan hanya di kisaran 1% hingga akhir 2025 lalu.
"Kita juga belum tumbuh sesuai harapan, hanya pada kisaran 1% untuk kredit modal kerja.Ini karena masih lesunya daya beli dan aktivitas usaha yang belum sepenuhnya pulih," katanya.
Menurutnya, segmen UMKM yang merupakan basis utama BPD DIY masih mengalami penurunan permintaan karena konsumsi domestik melemah. Sektor perdagangan dan industri pengolahan masih lesu, sementara pemulihan pariwisata belum cukup mendorong pertumbuhan kredit modal kerja.
Selain itu, korporasi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta cenderung menahan ekspansi dan lebih fokus menjaga arus kas. Belanja pemerintah, baik APBD maupun APBN disebut belum optimal sehingga efek penggandanya terhadap kebutuhan pembiayaan usaha belum terasa kuat.
Walau demikian, tahun ini peluang pemulihan disebut terlihat lebih besar. Faktor pendorong utamanya antara lain pulihnya pariwisata secara lebih kuat, peningkatan aktivitas perdagangan, serta percepatan realisasi belanja pemerintah.
“Jika pariwisata dan APBD–APBN bergerak lebih cepat, kredit modal kerja bisa mulai menggeliat di tahun ini,” kata Agus.
BPD DIY juga menyiapkan sejumlah strategi untuk menggenjot penyaluran kredit modal kerja ke depan, yakni fokus sektor prioritas di daerah seperti pariwisata & hospitality, perdagangan besar & eceran, konstruksi (proyek APBD/APBN), UMKM, dan Perantara Keuangan.
Bank BPD DIY juga melakukan kolaborasi dengan Pemerintah Daerah, melakukan percepatan kredit melalui digitalisasi dengan memperkuat penyederhanaan proses aplikasi kredit melalui sistem digital, serta memanfaatkan data transaksi untuk mempercepat proses penilaian risiko.
"Kami juga mendorong pembiayaan berbasis klaster misalnya batik dan kuliner serta menggandeng komunitas dan asosiasi bisnis. BPD DIY juga mengoptimalkan penyaluran kredit program pemerintah seperti KUR, KIPK, dan KPP," imbuh Agus.
Selanjutnya: Bank Syariah Indonesia (BSI) Tebar Promo di Garuda Umrah Travel Fair (GUTF) 2026
Menarik Dibaca: Harga emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian hari ini Minggu (1/2/2026) Kompak Turun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













