Reporter: Ade Priyatin | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri multifinance masih menghadapi sejumlah tantangan dalam menjaga pertumbuhan pembiayaan hingga akhir 2026.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan salah satu tantangan yang membayangi industri ini adalah laju pertumbuhan piutang yang tercatat melambat pada Agustus 2026.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), piutang pembiayaan multifinance tumbuh 1,68% year on year (YoY), dengan nilainya mencapai Rp 514 miliar.
Sayangnya meski piutang pada periode ini meningkat, pertumbuhannya terbilang masih lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Pada Juli 2026, piutang pembiayaan multifinance tumbuh 2,01% YoY dengan nilainya mencapai Rp 513,05 miliar.
"Kondisi ini dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global, perlambatan pembiayaan kendaraan, dan sikap pelaku usaha yang lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi," ujarnya kepada Kontan, Rabu (14/10/2026).
Baca Juga: OJK Pangkas Target Piutang Pembiayaan Multifinance Jadi Tumbuh 2%-4% pada Akhir 2026
Di sisi lain meski penjualan mobil masih menggairahkan, kinerjanya dinilai belum cukup kuat untuk mendorong pembiayaan secara keseluruhan. Apalagi, konsumen kini makin selektif dalam mengambil keputusan karena daya beli dan persepsi terhadap pendapatan masih tertekan oleh kenaikan biaya hidup.
Dari sisi industri, pemain multifinance juga kini terus memperketat seleksi calon debitur. Langkah ini diambil seiring dengan maraknya transaksi kendaraan dengan sistem STNK only. Alhasil, kebijakan ini turut menahan pertumbuhan volume meskipun memang dinilai berdampak positif untuk menjaga kualitas portofolio.
"Jadi, perlambatan ini tidak hanya disebabkan oleh dinamika ekonomi. Strategi perusahaan yang lebih mengutamakan kualitas pembiayaan daripada pertumbuhan volume juga memiliki pengaruh besar," ujarnya.
Oleh karena itu, Yusuf mengatakan perusahaan multifinance harus lebih berhati-hati agar peningkatan penyaluran tidak diikuti oleh kenaikan risiko kredit.
Selain itu, untuk mendukung pertumbuhan, perusahaan pembiayaan dapat memperkuat kerja sama dengan sejumlah mitra strategi, mulai dari dealer dan agen pemegang merek seraya mengembangkan produk yang sesuai dengan kemampuan konsumen.
Di samping itu, perusahaan juga bisa melakukan diversifikasi pembiayaan, misalnya dengan menyasar pembiayaan alat berat untuk proyek energi terbarukan dan kendaraan listrik yang bisa dimanfaatkan untuk sumber pertumbuhan baru.
Baca Juga: Pembiayaan Investasi Masih Mendominasi Penyaluran Multifinance ke Sektor UMKM
Termasuk mengoptimalkan segmen pembiayaan modal kerja yang terus menunjukkan kinerja apik juga bisa dimanfaatkan sebagai penopang pertumbuhan kinerja industri.
Adapun OJK juga memproyeksikan industri multifinance bisa mencatatkan pertumbuhan sebesar 2%-4% hingga akhir 2026.
Sebagai contoh, salah satu pemain multifinance yakni PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) telah berhasil menyalurkan pembiayaan baru sebesar Rp 5,4 triliun hingga September 2026.
Ke depannya, perusahaan akan terus mengoptimalkan potensi pasar yang ada melalui penguatan penetrasi di berbagai segmen pembiayaan dan perluasan sinergi dengan mitra strategis.
Perusahaan juga terus menyempurnakan layanan digital, menerapkan prinsip kehati-hatian dalam melakukan analisis risiko, dan menerapkan penyaluran yang lebih selektif.
"Strategi pertumbuhan tidak hanya berfokus pada peningkatan volume pembiayaan," ujar Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman kepada Kontan, Senin (12/10/2026).
Dengan strategi tersebut juga, CNAF berupaya menjaga kualitas portofolio sekaligus mengoptimalkan peluang bisnis agar tetap tumbuh sehat dan berkelanjutan.
Baca Juga: OJK Sebut Prospek Pembiayaan Emas Multifinance Masih Positif ke Depannya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














