kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Rasio Klaim Industri Penjaminan Tinggi, Jamkrida Sumbar Evaluasi Tarif IJP


Jumat, 23 Oktober 2026 / 20:41 WIB
Rasio Klaim Industri Penjaminan Tinggi, Jamkrida Sumbar Evaluasi Tarif IJP
ILUSTRASI. Jamkrida, Jamkrida Sumbar (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Secillia Hafifah | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri penjaminan masih menghadapi tekanan dari tingginya klaim seiring memburuknya kualitas kredit. 

Kondisi ini mendorong perusahaan penjaminan untuk mengevaluasi tarif imbal jasa penjaminan (IJP) dan memperketat pengelolaan risiko.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio klaim industri penjaminan per Agustus 2026 sebesar 92,16%, membaik dibandingkan posisi Agustus tahun lalu sebesar 95,02%.

Pada periode yang sama, nilai aset industri penjaminan turun 5,17% secara tahunan menjadi Rp 46,30 triliun. 

Sementara itu, nilai IJP naik 9,44% secara tahunan menjadi Rp 5,61 triliun dan nilai klaim penjaminan meningkat 8% menjadi Rp 5,05 triliun.

Baca Juga: Bank Mandiri Targetkan Rasio Kecukupan Modal 18%-19% hingga Akhir Tahun 2026

Direktur Utama PT Penjaminan Kredit Daerah Provinsi Sumatera Barat (Perseroda) atau PT Jamkrida Sumbar Ibnu Fadhli mengatakan, tingginya rasio klaim industri terutama disebabkan oleh memburuknya kualitas kredit.

“Penyebab utama karna tingginya pemburukan kualitas kredit. Biasanya pihak bank akan terbantu tingkat NPL nya dikarena banyak terbantu dengan pembayaran klaim,” ujar Ibnu kepada Kontan, Jumat (23/10/2026).

Menurut dia, tekanan terhadap daya beli masyarakat, kondisi sejumlah sektor usaha, serta peningkatan kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) turut memengaruhi nilai klaim penjaminan.

Kualitas portofolio usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga perlu dicermati karena dapat memengaruhi frekuensi dan nilai klaim.

Meski demikian, rasio klaim industri membaik dibandingkan tahun sebelumnya. Ibnu menyebut peningkatan penyaluran kredit perbankan turut mendorong perolehan IJP perusahaan penjaminan.

Selain itu, perusahaan mulai memperketat mitigasi risiko sejak akhir tahun lalu.

Baca Juga: Laba Bank Mandiri (BMRI) Tumbuh 20,7% hingga Kuartal III 2026

Untuk menyikapi tingginya rasio klaim, Jamkrida Sumbar telah mengevaluasi dan melakukan penyesuaian atau repricing tarif IJP pada produk dengan rasio klaim tinggi.

Evaluasi tersebut mempertimbangkan profil risiko, estimasi frekuensi klaim, perkiraan besaran kerugian, biaya operasional, porsi penjaminan ulang atau reasuransi, kondisi pasar, serta kemampuan mitra menyerap penyaluran kredit.

Perusahaan juga mempertimbangkan keberlanjutan usaha dalam menetapkan tarif.

Ibnu mengatakan, penyesuaian tarif IJP masih berpeluang dilakukan ke depan apabila terdapat perubahan signifikan pada profil risiko portofolio, peningkatan klaim, maupun perubahan kondisi ekonomi yang memengaruhi kualitas kredit.

Namun, keputusan tersebut tetap mempertimbangkan kondisi pasar, kemampuan mitra dan nasabah, daya saing perusahaan, serta hasil analisis risiko portofolio produk penjaminan dan evaluasi berkala bersama mitra.

Selain mengevaluasi tarif, Jamkrida Sumbar memperketat seleksi profil risiko untuk meminimalkan potensi klaim.

Perusahaan juga memantau portofolio berisiko tinggi, melakukan diversifikasi agar penjaminan tidak terkonsentrasi pada sektor tertentu, serta memperkuat pencadangan dan tata kelola manajemen risiko.

Baca Juga: JMA Syariah Terapkan Strategi Ini Guna Menjaga Rasio Klaim Tetap Terkendali

Ke depan, Ibnu menilai rasio klaim akan dipengaruhi faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal meliputi pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga, dan daya beli masyarakat. 

Sementara itu, faktor internal mencakup ketepatan penetapan tarif IJP, kualitas underwriting, pengawasan portofolio, serta efektivitas penanganan klaim.

“Faktor eksternal memang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan, tetapi kesiapan internal perusahaan akan sangat menentukan seberapa baik risiko tersebut dikelola,” kata Ibnu.

Di tengah tantangan tersebut, Ibnu menilai peluang pertumbuhan industri penjaminan masih terbuka seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan sektor produktif dan UMKM yang terus didorong pemerintah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×